Showing posts with label Soekarno. Show all posts
Showing posts with label Soekarno. Show all posts

Wednesday, March 6, 2013

Antara Belanda dan Inggris (ABDI)

Empat tahun lalu, ketika saya masih duduk di kelas 2 SMA, ada hal menarik yang masih saya ingat hingga kini. Itu tentang dua negara penjajah, Belanda dan Inggris.

Saat itu saya membaca hasil tes tulis salah seorang adik kelas untuk seleksi calon Putra-putri Smaga. Yang saya ingat ada pertanyaan tes tulis yang berbunyi, "Jika kamu bisa mengubah masa lalu, apa yang bisa akan kamu ubah?"

Saya masih sangat ingat, adik kelas tersebut menjawab, "Membuat Indonesia dijajah Inggris (bukan Belanda --pen)." Saat membaca jawaban itu, pikiran saya langsung melayang ke negeri seberang, Malaysia. "Hmm.. Memang, negeri yang dijajah Inggris lebih maju ketimbang yang dijajah Belanda." nalar saya polos. Karena kepolosan saya itulah secara tidak langsung saya sepakat dengan jawaban tersebut. Waktu pun berlalu, dan kejadian itupun terlupakan begitu saja.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca kumpulan pidato-pidato Bung Karno. Dari sana saya tersadar bahwa penjajahan tetaplah penjajahan. Terlepas soal makmur atau tidak negeri yang dijajahnya. Bahkan, pilihan untuk memakmurkan atau tidak negeri jajahan merupakan strategi negara penjajah. Tujuannya adalah sama-sama mengekploitasi negara jajahan mereka masing-masing.

India yang notabene negara jajahan Inggris memang sengaja dimakmurkan untuk tujuan ekploitasi. Saat itu di Inggris sedang terjadi industrialisasi besar-besaran. Inggris butuh pasar untuk melempar produk-produk mereka. Nah, ketika Inggris menjajah India, penduduk India diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan agar mereka makmur. Dari kondisi makmur itu Inggris berharap masyarakat India memiliki daya beli yang tinggi. Sehingga produk-produk Inggris bisa didatangkan ke India, dan mereka pun mendapatkan pasar yang bisa mereka keruk keuntungannya.

Berbeda dengan Belanda. Di Belanda saat itu belum terjadi industrialisasi. Belanda lebih suka membawa produk dari tanah air ke negerinya. Produk-produk seperti gula, rempah-rempah, teh, dsb. adalah produk yang disukai rakyat Belanda. Untuk mengolahnya, Belanda mendirikan pabrik-pabrik di Indonesia. Agar pabrik beroperasi, dibutuhkan tenaga kerja. Kalau bisa semurah mungkin. Latar belakang inilah yang Belanda tidak memberikan pendidikan kepada rakyat Indonesia. Itu agar mereka bisa menggaji rendah para pekerja yang tidak berpendidikan.

Nah, kalau sekarang kondisinya seperti apa? Kita dicerdaskan (model penjajahan Inggris), tapi tujuannya untuk bekerja pada "mereka" (model penjajahan Belanda).



Diskusi dapat dilihat di sini.

Thursday, February 28, 2013

Antara SBY dan Soekarno

Kalau Presiden SBY pernah dikritik karena terlalu sering menggunakan kata-kata Bahasa Inggris, ternyata Presiden Soekarno pun dalam pidato-pidatonya banyak menggunakan Bahasa Belanda dan beberapa kata Bahasa Inggris. Tapi kenapa kok beliau tidak dikritik seperti SBY? Analisis saya dulu belum banyak kata serapan, sehingga kata/kalimat yang dimaksud tidak dapat dijelaskan dalam bahasa Indonesia, atau kalaupun ada penekanannya kurang. Selain itu, karena waktu itu belum jauh dari Kemerdekaan, sehingga wajar kalau "sisa-sisa" bahasa Belanda itu masih dipakai.

Selamat pagi!

Komentar bisa dilihat di sini.

Wednesday, November 21, 2012

Tak Usah Membahas Gelar

Oleh Gading Ekapuja Aurizki

Ada banyak cara untuk menghargai orang-orang yang telah berjasa kepada bangsa ini. Salah satunya adalah dengan memberikan mereka gelar kepahlawanan. Itulah yang terjadi pada Dwi Tunggal, Soekarno-Hatta. Dua tokoh tersebut pada peringatan Hari Pahlawan tahun ini diberi gelar pahlawan nasional oleh pemerintah. Terkait pertanyaan mengapa baru diberikan sekarang, hal itu bukanlah hal yang perlu dibesar-besarkan. Justru gelar kepahlawanan yang baru disematkan kemarin tak bisa dibandingkan dengan besarnya pengaruh pemikiran kedua tokoh tersebut bagi masyarakat. Karena gelar hanyalah simbol. Paling banter ia akan menambah dua foto di antara deretan foto-foto pahlawan nasional yang tercetak di buku-buku ilmu pengetahuan umum. Selebihnya, orang akan lupa. Namun pengaruh dan pemikiran akan terus melekat di benak banyak rakyat Indonesia.

Tanpa gelar pahlawan nasional pun sudah banyak orang yang berpegang teguh mengamalkan ajaran dua tokoh tersebut. Itu menandakan pengaruh dan pemikiran mereka cukup kuat, meskipun sudah berpuluh tahun wafat. Kontribusi mereka akan terus dirasakan, bahkan bisa mengabadi menjadi ruh kehidupan berbangsa dan bernegara republik ini. Dan itulah yang wajib kita lanjutkan, bukan sekedar berdebat panjang tentang gelar kepahlawanan. []

_________________
Tulisan ini adalah karya yang dikirim untuk dimuat di rubrik Kompas Kampus hari Selasa, 20 Nopember 2012 dengan tema pemberian gelar pahlawan nasional untuk Soekarno-Hatta yang terkesan terlambat. Tulisan tidak dimuat.