Showing posts with label islam. Show all posts
Showing posts with label islam. Show all posts

Sunday, July 14, 2013

Toleransi

"Kalian tahu...betapa Islam, Kristen, dan Yahudi berada dalam ruang suka cita di negeri ini (Cordoba -red). Untuk beberapa lama. Urusan siapa yang benar dan siapa yang salah dengan keyakinan mereka itu tidaklah penting. Biarlah nanti setelah ajal menjemput terbukti sendiri siapa yang benar dan siapa yang salah. Selagi di dunia, kita tidak mengurusi hal semacam itu. Kehidupan sosial saat itu lebih mengedepankan persamaan yang bisa mempersatukan mereka, di atas perbedaan yang ada." (Sergio, Tour Guide Cordoba)

Dikutip dari "99 Cahaya di Langit Eropa - Hanum Salsabiela Rais"

Friday, October 26, 2012

Tak Adakah Bukti Lain?

"Makalah Dr. Muhammad ‘Ali Al-Bari, dalam Majalah Al-I’jaaz Al-Ilmiy No. 04"

Kata-kata di atas saya coba gunakan sebagai kata kunci di google. Di mesin pencarian apapun, ketika kata yang dimasukkan semakin spesifik biasanya hasil yang didapatkan akan semakin sedikit. Ketika saya mencoba memasukkan kata kunci di atas 44 link web saya dapat. Artinya, 44 web menggunakan kata kunci tersebut di dalam salah satu artikelnya. Di dalam makalah tersebut terdapat referensi ilmiah tentang manfaat medis dari Tahnik. Kebetulan beberapa hari ini saya sedang hunting referensi tetang salah satu thibbun nabawi tersebut. Hasilnya? Cukup mengecewakan.

Mengapa? Bukan karena saya tidak menemukan referensi (meskipun itu juga), namun lebih kepada sikap teman2 muslim kita yang "membangga2kan" bahwa tahnik memang terbukti secara medis dapat memberi manfaat kepada bayi. Apakah bangga tidak boleh? Sangat boleh, bahkan harus kalau itu datangnya dari Islam. Tapi kebanggaan mereka hanya datang dari satu sumber saja. Dari artikel-artikel yang saya baca hampir semuanya mirip (bisa dibilang satu web copy paste dari web lain). Dan selalu saja ketika tiba pada pembahasan hal-hal yang ilmiah artikel2 itu "menisbatkannya" pada "Makalah Dr. Muhammad ‘Ali Al-Bari, dalam Majalah Al-I’jaaz Al-Ilmiy No. 04", tidak ada yang lain! Padahal kita tidak tahu majalah Al-I'jaaz Al-Ilmiy itu terbit di mana dan kapan, dari segi pengutipan sudah keliru. Artinya apa? Teman2 muslim kita terlena hanya dengan satu bukti, belum ada semangat untuk menambah bukti yang lain, menggalinya dan mempublikasikannya ke seluruh penjuru dunia bahwa memang tahnik ada manfaatnya secara medis dan scientific ilmiah.

Silahkan setuju atau tidak dengan opini saya di atas. Tulisan ini adalah bentuk keprihatinan saya terhadap budaya ilmiah yang dimiliki oleh ummat ini. Sekian.

Thursday, July 26, 2012

Kajian Islam Kontemporer - Syumuliyatul Islam

Materi oleh. Drs. Musholli (Direktur PPSDMS NF) 
Ringkasan oleh. Gading Ekapuja Aurizki (NIP 0604756)
“..Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agamamu…” (TQS Al-Maidah: 3)
Ayat di atas adalah legalitas dari Allah swt. terkait finalitas Islam sebagai sebuah ideologi sekaligus sistem hidup (manhaj). Dari sana Islam memiliki beberapa karakteristik, yaitu: 1). Sebagai sistem yang komprehensif (syumuliyatul manhaj); 2). Sebagai sistem yang moderat (washatiyatul manhaj); 3). Sebagai sistem yang memudahkan (taisiyatul manhaj).
Maksud dari manhaj yang komprehensif adalah Islam menjangkau seluruh dimensi kehidupan “panjang”, “luas”, dan “dalam”-nya. Panjang berarti rentang waktu yang meliputi sejak awal dunia hingga kiamat, atau sejak kelahiran manusia hingga kematiannya. Lebar berarti mencakup berbagai aspek di berbagai kondisi dan tempat, seperti di pasar, di masjid, di kamar mandi, di sekolah, di kantor dan sebagainya. Sedangkan dalam berarti Islam mencakup tubuh, akal, batin manusia. Tidak hanya yang terlihat (zhahir), namun juga yang tidak terlihat (ghaib).
Selain komprehensif, Islam juga moderat. Maksudnya adalah Islam itu seimbang dalam berbagai aspek kehidupan, jasadiyah, fikriyah, maupun ruhiyah-nya. Jadi Islam tidak menyeru manusia untuk beribadah saja, tetapi juga menyeru mereka untuk belajar dan bekerja. Namun semua itu tetap dalam koridor ibadah kepada Allah swt.
Setelah mencakup segala hal (komprehensif), dan juga moderat, Islam juga memudahkan. Ke-komprehensif-an dan ke-moderat-an Islam membuat penganutnya mudah dalam menjalankan risalah Islam. Islam dapat diterapkan kapanpun dan di mana pun. Ketika tidak memungkinkan untuk menerapkan syariah secara penuh, maka akan ada rukhsah. Semisal dalam urusan shalat atau puasa. Ketika dalam perjalanan seseorang diperbolehkan untuk menjama’ dan mengqashar shalat. Dalam hal puasa, ibu hamil boleh tidak puasa dengan syarat menggantinya di hari lain atau membayar fidyah. Itu hanya sekelumit contoh saja. Masih banyak kemudahan dalam Islam.
Perlu diketahui bahwa Islam tidak hanya dibangun atas dasar Al-Qur’an dan Sunnah saja. Tapi juga berdasar ilmu pengetahuan. Al-Qur’an diturunkan melalui Rasulullah saw. sedangkan ilmu pengetahuan didapatkan dari pengamatan terhadap alam semesta. Seorang muslim harus menguasai keduanya. Karena dengan menguasai ilmu agama dan ilmu pengetahuan (sains), Islam pernah berjaya dalam kurun waktu lebih dari 10 abad.
Dengan segenap potensi itu Islam sangat mungkin untuk kembali berada di puncak kejayaan. Dan kita, para pemuda, harus mempersiapkan untuk itu. Semua itu demi terbentuknya dunia yang lebih baik dan bermartabat!
Wallahua’lam bishshawab.. []gea

Saturday, May 26, 2012

Wa’tashimuu bi-Hablillahi Jami’an wa Laa Tafarraquu


Oleh Gading Ekapuja Aurizki [1]

Sebagai negara yang menjunjung tinggi pluralitas, Indonesia pantas disebut sebagai pasar ideologi. Ideologi kiri mentok sampai kanan njedok bisa tumbuh di sini. Setiap ideologi memiliki kelompok-kelompok pengusung, dan setiap pengusung memiliki model perjuangan masing-masing.

Membahas Islam di Indonesia secara khusus, banyak organisasi yang menyebut Islam sebagai basis ideologi maupun kulturnya. Semuanya tidak berada dalam satu wadah, melainkan berbeda-beda. Ada NU, Muhammadiyah, Tarbiyah, Hizbut Tahrir, Salafy, Jamaah Tabligh, dan lain-lain. Namun semuanya masih dalam bingkai yang sama: Islam.

Anehnya, meski sama-sama Islam, antar golongan tersebut masih sulit untuk akur. Selalu saja ada perseteruan, baik dalam skala mikro (praksis lapangan) maupun makro (manhaj dan kebijakan). Dan yang paling disayangkan adalah, perseteruan mereka adalah dalam hal-hal yang sifatnya furu’ (cabang), terutama dalam masalah fiqh. Baik itu fiqh dalam hal ibadah, maupun dalam konsep kenegaraan. Juga dalam strategi dakwah.

Hal tersebut sungguh disayangkan, mengingat musuh dakwah semakin getol menebarkan “serangan” yang menyudutkan Islam. Selain itu, musuh dakwah juga semakin solid mengorganisasi gerakan mereka. Kita bisa melihat bagaimana para Evangelian dan Zionis bekerja sama dalam mengusung The New World Order meski mereka tak seagama. Sangat tepat Ali bin Abi Thalib ra. mengatakan bahwa kejahatan yang terorganisasi akan dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.

Disadari atau tidak perseteruan itu membuat negeri yang membuat negeri gemah ripah loh jinawi ini masih saja terpuruk. Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun negeri habis hanya untuk berdebat dan berdiskusi. Lihatlah bagaimana kita masih dibuat repot oleh rencana kedatangan seorang Lady Gaga. Lihatlah ketika kawan-kawan kita yang notabene sama-sama muslim lebih memilih membela Lady Gaga dibandingkan mendengarkan nasihat bijak para ulama. Itu karena umat Islam tidak lagi memiliki kewibawaan di hadapan para penentang dakwah. Dan hilangnya kewibawaan itu –salah satunya- disebabkan lemahnya soliditas gerakan kita!

Apa yang membuat antara masyarakat NU dan Muhammadiyah sering terlibat konflik, dan apa pula yang menyebabkan kader Tarbiyah dan Hizbut Tahrir tidak bosan untuk terus berdebat? Selain itu apa yang menyebabkan orang-orang mencurigai dakwah salafy dan JT? Dan apa yang membuat semua harakah Islam tak bisa saling akur??

Yang pasti, bukan masalah aqidah. Karena kita sama-sama mengaku tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad saw. adalah rasul Allah. Meyakini secara lurus rukun iman pertama sampai keenam, dan mengamalkan rukun Islam satu sampai lima. Selama tidak kerasukan virus sepilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme), saya yakin kita masih termasuk ahlus-sunnah wal-jama’ah.

Tetapi jika ternyata pertentangan itu masih terasa, mungkin saja aqidah kita yang bermasalah. Kita tak lagi merasa satu aqidah, oleh sebab menjadikan salah satu di antara manhaj perjuangan golongan sebagai unsur dari aqidah. Dari itu muncullah fenomena takfir (mengkafirkan orang lain). Padahal pada ayat-ayat awal QS Al-Baqarah sudah sangat jelas kalau ada tiga tipe manusia dilihat dari kacamata keimanan: muttaqin, kafirin, dan munafiqin. Kalau kafirin dan munafiqin saja bisa akur, namun kenapa golongan yang mengaku muttaqin harus terpecah belah?!

Atau jangan-jangan sebenarnya kita masuk golongan munafiqin? Yang ketika diberi peringatan agar jangan berbuat kerusakan justru merasa sedang mengadakan perbaikan [2]! Semoga kita tidak seperti itu.

Dalam QS Al-Baqarah 143, Allah swt. menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan –umat pertengahan-, yang oleh Sayyid Quthb di Tafsir Fii Zhilalil Qur’an mencakup makna wasath (baik), yang diambil dari kata wisaathah yang berarti bagus dan utama, maupun dari kata wasath yang berarti adil dan seimbang atau wasath dalam arti material indrawi.

Konsekuensi dari gelar ummatan wasathan adalah menjadi saksi atas perbuatan manusia, dan Rasulullah saw. menjadi saksi atasnya. Pengertian wasathan –pertengahan- di sini bukan sekedar moderat, melainkan menjadi standar global atas seluruh perbuatan manusia. Artinya, sebagai standar global, umat Islam harus mengetahui segala hal terkait dengan perbuatan manusia untuk nanti di-“laporkan” kepada yang mengangkatnya menjadi saksi, yakni Allah swt..

Namun yang perlu diingat, sebagaimana saksi pada umumnya, kita hanya memberikan laporan (report), bukan penilaian (judgment). Karena Allah Al-Hakim lah yang nanti akan memberi penilaian. Oleh karena itu dalam bermuamalah, semangat ummatan wasathan itu harus kita bawa. Kita tidak boleh sembarang men-judge sikap, pilihan, atau jalan seseorang sebelum terang benar-salah jalan yang mereka pilih. Apalagi jika itu sesama muslim, dan sama-sama sedang memperjuangkan dakwah.

Kalaupun sudah terang salahnya, kita juga tidak secara membabi buta dalam mengungkap kesalahan/aib mereka. Karena selain benar-salah, Islam juga mengajarkan untuk memperhatikan adab. Nabi Musa as. saja oleh Allah diperintahkan untuk bersikap lemah lembut kepada Fir’aun yang mengaku tuhan [3]. Kalau seperti itu, apakah kita berhak untuk mencaci saudara kita seiman lantaran perbedaan pandangan? Sepertinya kita perlu kembali pada prinsip “bekerja sama dalam hal yang disepakati dan toleransi dalam hal yang tidak disepakati (berbeda).”

Jujur saya merasa miris ketika melihat “pembantaian” lewat komentar-komentar di wall sebuah grup facebook oleh aktivis mahasiswa, terhadap syiar dakwah sebuah organisasi mahasiswa Islam di Unair. Jika itu dilakukan dengan cara yang santun dan intelek mungkin tidak masalah, tetapi justru itu dilakukan dengan tidak bersandar pada etika ilmiah dan adab berdiskusi. Semua orang menyerang organisasi tersebut lantaran tujuannya dianggap irasional dan dalam praktik pencapaian tujuannya dinilai inkonsisten.

Sebagai sama-sama aktivis dalam sebuah organisasi mahasiswa Islam, saya turut prihatin dengan kondisi tersebut. Kondisi di sana seakan menunjukkan bahwa aktivis mahasiswa sekarang mulai hilang adab sopan santunnya, tidak peduli mereka aktivis Islam atau bukan. Apalagi fenomena itu terjadi di dunia maya, yang secara psikologis memudahkan orang untuk menyampaikan pendapat tanpa khawatir adanya intimidasi secara langsung/fisik. Sosok dibalik komentar-komentar pedas itu merasa terlindungi oleh “layar kaca” yang membatasinya dengan orang lain. Tetapi mereka lupa, kalau cacian, cemoohan, dan gunjingan mereka di dunia maya tetap dicatat oleh malaikat dalam kitab amal perbuatan.

Mempertimbangkan beberapa hal di atas, dengan membawa semangat sebagai ummatan wasathan, kita seharusnya tidak terjebak dalam pusaran yang penuh syubhat dan mudharat. Untuk itu saya menghimbau kepada kader-kader KAMMI khususnya dan para aktivis mahasiswa umumnya untuk: (1) Menghindari perdebatan meskipun berada dalam pihak yang benar; (2) Lebih mengedepankan dialog dengan bingkai ukhuwah dalam sebuah forum silaturahim daripada debat dalam forum publik yang tak terkondisikan; dan (3) Tidak membuat forum-forum yang lebih banyak mudharat-nya dibandingkan mashlahat-nya, seperti berpotensi terjadi chaos dan debat kusir. Wallahua’lam bish-shawwab.


Surabaya, 26 Mei 2012


Catatan:
[1] Ketua Pengurus Komisariat KAMMI Airlangga 2012-2013
[2] Di dalam QS Al-Baqarah 11
[3] Di dalam QS Thaha 43-44

Wednesday, April 25, 2012

Solusi Adekuat untuk Permasalahan Umat

Oleh Gading Ekapuja Aurizki*

Iftitah

Dalam dunia kesehatan, orang sakit atau pasien harus diberi asupan nutrisi yang adekuat. Adekuat berarti cukup sesuai kebutuhan. Tidak kurang, tidak juga lebih. Apabila nutrisi yang diberikan kurang, proses penyembuhan akan berlangsung lama, dan bisa memperparah sakitnya. Jika nutrisi yang diberikan berlebihan, bisa mengakibatkan komplikasi dan efek samping yang tak diinginkan. Untuk itu perlu perhitungan yang pas dalam menentukan kadar nutrisi yang akan diberikan kepada pasien. Orang yang menghitung kadar asupan nutrisi pun tidak boleh sembarangan, harus dari tenaga ahli yang benar-benar paham tentang gizi. Jangan sampai orang yang tidak paham gizi yang menentukan. Bukannya sembuh, bisa-bisa penyakit pasien malah tambah parah!

Sama seperti contoh di atas, dunia yang tengah sakit ini hanya bisa disembuhkan dengan solusi yang adekuat. Solusi yang benar-benar adekuat tidak akan didapatkan kecuali dari Allah Swt, Tuhan yang menguasai dunia seisinya. Dan Allah telah menetapkan bahwa solusi adekuat tersebut adalah Islam.

Solusi Adekuat

Allah menjadikan Islam sebagai sebuah sistem pemberian (given) yang utuh dan lengkap. Sehingga manusia bisa langsung menerapkan tanpa perlu memodifikasinya sana-sini. Untuk menerangkan “resep obat” yang adekuat itu kepada manusia, Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai manhaj (guide), dan mengutus seorang rasul bernama Muhammad Saw. untuk menjadi uswah (role model) penerapan manhaj tersebut.

Saking pentingnya pemahaman bahwa Islam adalah agama yang lengkap, Imam Syahid Hasan Al-Banna sampai menjadikannya sebagai prinsip pertama dalam Ushul ‘Isyrin (Dua Puluh Prinsip untuk memahami Islam). Itu berarti, prinsip Islam sebagai agama yang lengkap (syumul) dianggap sebagai –dalam bahasa hukum- the ground norm yang harus diyakini dan dipegang teguh oleh setiap muslim, sebelum merekonstruksi perangkat-perangkat peradaban lainnya.

Sejarah telah membuktikan, dengan menerapkan Islam sebagai landasan untuk bergerak, Rasulullah Saw. dan para sahabatnya telah berhasil membangun peradaban besar yang bertahan sampai satu milenium lamanya! Selama kurun waktu itu, ilmu pengetahuan berkembang pesat, tokoh-tokoh besar lahir, dan umat Islam bisa menerapkan syari’ah secara sempurna.

Namun kita tak bisa menampik bahwa sekarang umat Islam berada di bawah hegemoni peradaban barat. Kondisi ini sudah berlangsung hampir satu abad, sejak 1924, ketika Kemal Attaturk “memproklamasikan” berdirinya Turki Sekuler dan mengakhiri kekuasaan kekhilafahan Turki Utsmani. Saat itu bargaining position Islam di mata dunia internasional benar-benar jatuh, sehingga kolonialisme merajalela di atas negeri-negeri Islam seperti Mesir, Libya, Afghanistan, Palestina, dan lainnya, termasuk Indonesia.

Sekarang, umat Islam sedang tertatih-tatih memperjuangkan kembalinya kejayaan Islam –yang berarti kembalinya peradaban dunia yang mulia dan bermartabat. Namun ada dua masalah yang saat ini masih menjadi ganjalan bagi umat untuk bangkit. Dua ganjalan itu adalah sekularisme dan liberalisme!

Sekularisme dan Liberalisme

Dr. Yusuf Al-Qaradhawy pernah menyampaikan bahwa ada beberapa masalah yang muncul dalam memahami agama Islam. Masalah ini terkait langsung dengan pemahaman bahwa Islam adalah solusi adekuat. Ada orang yang mengurangi bagian dari agama Islam, ada juga orang yang menambahnya dengan sesuatu yang bukan berasal dari Islam (bid’ah).

Penambahan dan/atau pengurangan bagian dari agama Islam hanya akan merusak Islam sendiri. Kita bisa bisa memakai analogi orang sakit yang diberi nutrisi yang kurang atau berlebih seperti yang saya terangkan di awal. Jika dikorelasikan dalam era kekinian, kita akan mendapati orang yang mengurangi bagian dari agama Islam adalah orang-orang sekuler, sedangkan yang menambahnya sesuai kehendak nafsu adalah orang liberal.

* * *

Orang sekuler memisahkan antara agama dan negara, juga antara agama dan pasar. Itu artinya mereka mengurangi bagian dari Islam yang mengatur tentang masalah kenegaraan dan perekonomian. Tidak hanya dua masalah itu, banyak hal yang oleh orang sekuler dipisahkan dari agama.

Parahnya, paham-paham sekuler ini sudah meracuni pemikiran para pemimpin kita. Dalam bukunya “Muslim Indonesia Berdemokrasi, Kapan Menang?”, Ustadz Fuad Amsyari, Ph.D mengutip pemberitaan Republika tentang peristiwa debat calon wakil presiden 2009 silam. Saat itu tema debat adalah hubungan antara agama dan negara.

Hasilnya, menurut Boediono, agama harus diletakkan ditempat yang MULIA. Tidak menjadi elemen politik praktis. Sedangkan Wiranto hanya menekankan ada hubungan di antara keduanya, tetapi hanya substansial. Jawaban Prabowo senada dengan Boediono, bahwa agama harus lepas dari politik praktis. Menurutnya, agama adalah hal yang SAKRAL.

Kata “mulia” dan “sakral” seolah begitu arif dan bijak diucapkan. Mereka tidak menyadari bahwa itulah yang menjadi muslihat para musuh-musuh Islam untuk memisahkan agama dan negara. Sakralisasi agama akan membuat Al-Qur’an yang –salah satunya- memuat petunjuk kehidupan bernegara hanya dijadikan simbol, atau tidak untuk diterapkan. Sehingga jangan heran, meskipun umat Islam di negeri ini mayoritas (bahkan terbanyak di dunia), tapi penderitaan menjadi teman sehari-hari bagi rakyat.

Ingat, kalau solusi yang diberikan kurang, maka negeri yang sakit ini proses penyembuhannya akan semakin lama. Bahkan bisa bertambah parah jika tak segera diberikan asupan solusi yang adekuat!

* * *

Dewasa ini mubtadi’in (ahli bid’ah) muncul dalam bentuk yang lebih “modern”. Jika kita sering menemui bid’ah dalam ritual peribadatan, tapi kali ini bid’ah yang kita temukan adalah bid’ah pemikiran. Bisa jadi karena pemahamannya itu mereka sama sesatnya dengan murji’ah dan mu’tazilah. Atau bahkan lebih sesat lagi! Kalau murji’ah dan mu’tazilah masih mempercayai rukun iman ke-1 sampai ke-5 (rukun iman ke-6 yang mereka percayai tidak sesuai dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, sehingga mereka dianggap sesat), maka “mubtadi’in modern” ini mungkin sudah tidak percaya lagi adanya rukun iman. Mereka adalah orang-orang liberal.

Orang-orang liberal dinilai kebacut dalam memahami Islam. Mereka berpandangan bahwa semua agama sama dan menuju kepada Tuhan yang satu. Mereka juga menilai Al-Qur’an itu produk budaya, sehingga bisa diubah untuk disesuaikan dengan kondisi zaman. Mereka menggunakan dalih “rahmatan lil ‘alamin” untuk memperbolehkan maksiat. Dianggap Islam adalah agama rahmah, baik bagi orang yang alim sampai yang bejat sekalipun! Sehingga mereka memandang tak perlu adanya hukuman bagi mereka yang berzina, membunuh, mencuri, atau melakukan perbuatan maksiat lain. Mereka juga menghalalkan homoseks dan lesbian karena dianggap hak asasi. Untuk kaum wanitanya ada tambahan “syari’at” yang menyebutkan wanita boleh menjadi imam bagi laki-laki, menyesuaikan situasi dan kondisi. Masih banyak lagi pemikiran-pemikiran nyeleneh yang ketika di-“dakwah”-kan ke masyarakat mereka bingkai dengan istilah “pembaharuan”.

Selain itu orang-orang liberal itu begitu getol mengkampanyekan kesetaraan gender dan menjunjung tinggi pluralisme yang memunculkan toleransi yang kebacut. Melihat jayanya peradaban pada era Madinah, tampaknya orang-orang liberal tak perlu sibuk-sibuk mengajari Islam makna toleransi. Kejayaan Islam pada masa itu adalah manifestasi tertinggi bentuk toleransi yang pernah tercatat dalam lembar sejarah manusia. Bagaimana penduduk negara dengan agama dan karakteristik yang beragam bisa dipersatukan lewat piagam Madinah, dan hidup berdampingan secara nyaman, aman, dan sentausa. Sedangkan toleransi yang diusung orang-orang liberal, justru malah akan menimbulkan konflik.

Kita lihat, dengan dalih “toleransi” mereka justru menghasut kalangan minoritas untuk menuntut keadilan, dan tidak bersikap toleran terhadap paham-paham –yang notabene sudah lurus- yang diterapkan dalam kehidupan masyarakat. Mereka bilang kalangan mayoritas tak boleh memaksakan kehendak untuk tetap menerapkan hukum yang mendiskreditkan kalangan minoritas. Tetapi mereka sendiri memaksakan kehendak untuk menentang paham-paham lurus yang sudah ada untuk disesuaikan dengan Islam versi mereka. Siapa yang sebenarnya memaksakan kehendak?!

Khatimah

Untuk menyembuhkan umat yang sedang sakit, diperlukan solusi adekuat. Solusi itu mensyaratkan keyakinan bahwa Islam adalah agama yang lengkap (syumul) dan telah mencakup semua hal. Sampai ada keyakinan jika Islam adalah satu-satunya sistem atau ideologi yang ada, itu sudah cukup untuk mengelola dunia ini. Sayang, di tengah kebutuhan asupan solusi yang adekuat, masih ada yang bertindak pelit atau bahkan berlebih-lebihan. Mereka adalah orang sekuler dan liberal. Pemahaman mereka yang rusak hanya akan menjadi slilit dalam bangunan peradaban ini. Di satu sisi mereka masih ber-KTP Islam, tetapi segenap aktivitas mereka kerahkan untuk menghancurleburkan Islam. Na’udzubillah!


Inspirasi
  1. Risalah Pergerakan Ikhwahnul Muslimin 1 – Hasan Al-Banna
  2. Dari Gerakan ke Negara – Anis Matta
  3. Muslim Indonesia Berdemokrasi, Kapan Menang? – Fuad Amsyari, Ph.D
  4. Metodologi Hasan Al-Banna dalam Memahami Islam – Yusuf Al-Qaradhawy

*Penulis adalah aktivis KAMMI Airlangga, Surabaya. Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga