Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Sunday, May 5, 2013

Novel, Film, dan Imajinasi

Masih ingat tentang Totto-chan? Itu lho, yang novelnya baru saya selesaikan dua pekan lalu. Novel yang berjudul asli Totto-chan: The Little Girl at the Window adalah buku yang pernah menghebohkan Jepang. Pernah terjual 4.500.000 dalam setahun, itu belum termasuk yang diterjemahkan ke berbagai bahasa di penjuru dunia. Yang mengesankan lagi, buku ini menjadi buku wajib pendidikan, bahkan beberapa isinya menjadi materi pengajaran di kelas. Namun kali ini saya tidak akan berbicara tentang substansi pendidikan di dalamnya, saya akan membicarakan hal lain.

Adalah wajar, ketika ada sebuah novel yang sangat laris, kemudian banyak produser yang ingin mengangkat kisah novel tersebut ke dalam film. Hal itu sudah sering kita jumpai, semisal serial Harry Potter, Lord of the Ring, Twillight, Ketika Cinta Bertasbih, Laskar Pelangi, dan masih banyak lagi. Namun, hal itu tidak terjadi pada novel Totto-chan ini. Sang pengarang, Tetsuko Kuroyanagi, memang tidak menghendaki hal tersebut. Di dalam 'Catatan Akhir' novel ia menulis:
"Setelah buku ini terbit, aku didatangi perusahaan-perusahaan film, televisi, teater, dan film animasi yang minta izin untuk memproduksi ceritaku lewat bermacam-macam medium mereka. Tapi karena sudah banyak sekali orang yang membaca buku ini dan membuat bayangan mereka sendiri tentang tokoh-tokoh di sini, aku merasa akan sulit mengembangkan imajinasi mereka betapun hebatnya sutradara yang akan membuatnya. Jadi kutolak semua tawaran itu." (Hlm. 261)
Saya menilai pilihan penulis begitu bijak. Film, gambar, dan media visual lainnya adalah media yang pesannya sangat mudah diterima otak dan lebih sulit hilang ketimbang tulisan atau audio. Hal itu menyebabkan imajinasi terhadap suatu peristiwa menjadi semakin terarah dan cenderung sempit. Dan demi menghargai imajinasi banyak orang, penulis menolak memvisualisasikan novel karyanya.

Apa yang terjadi jika ruang untuk berimajinasi dipersempit? Tentu lama kelamaan akan mematikan imajinasi itu sendiri. Banyak orang yang membaca sebuah novel, kemudian melihat edisi visualnya merasa kecewa karena ternyata film tidak bisa menggambarkan secara sempurna apa yang mereka imajinasikan sebelumnya. Sedangkan bagi orang yang membaca novel setelah menonton filmnya, tidak akan bisa mengembangkan imajinasi mereka karena telah terbatasi oleh tafsir imajinasi tunggal dalam film.

Matinya imajinasi pembaca ini justru menurunkan bargaining position novel. Saya merasa ketika sebuah novel sudah difilmkan, itu akan membuat minat orang untuk membaca novel tersebut menurun. Pengalaman pribadi, sampai sekarang saya belum pernah membaca satu pun buku tetralogi Laskar Pelangi. Sebabnya saya sudah nonton film "Laskar Pelangi" dan "Sang Pemimpi". Pun dengan Ayat-ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih yang sebelum filmnya muncul menjadi novel yang cukup fenomenal, namun pasca itu justru sepi peminat. Hal yang sama mungkin juga terjadi pada Harry Potter, Lord of The Ring, Twillight, dan sebagainya.

Untuk itu mungkin ada baiknya tidak semua novel laris difilmkan. Meskipun dari segi keuntungan cukup besar, tetapi kepuasan membaca novel tersebut tentu akan terasa berbeda. Rasanya, tidak ada kemewahan membaca novel yang telah difilmkan. Adakah yang berpikiran sama?

#SaatnyaDapat4
 
Diskusi dapat dilihat di sini. 

Thursday, May 2, 2013

Keluarga Berencana

Pagi2 kepikiran nulis tentang Program Keluarga Berencana (KB). Gak apa2 lah ya.. Yang penting ide di dalam otak tersalurkan dulu.

Seperti yang kita tahu sejak era Presiden Soeharto, pemerintah berkeinginan menekan angka kelahiran dengan menggunakan program KB. Alasan diadakannya program KB beragam, mulai masalah jumlah penduduk dunia yang semakin meningkat, kesejahteraan keluarga, dsb.

Saya kurang sepakat jika program KB ini dipukul rata untuk semua keluarga. Seharusnya KB ditujukan hanya untuk keluarga yang memang rawan jika memiliki banyak anak, misal keluarga dengan ekonomi rendah, karena dikhawatirkan akan mempersulit kehidupan mereka. Sedangkan keluarga yang mampu mendidik anak mereka baik secara materiil maupun non-materiil lebih baik jika memiliki banyak anak. Karena mereka tidak ada kendala untuk mendidik anak2 sampai jadi "orang". Semakin banyak anak berpendidikan, bukankah akan menguntungkan negara?

Persoalannya selama ini terbalik. Yang punya banyak anak justru orang-orang yang kurang mampu dan berpendidikan rendah. Sedangkan orang2 kaya dan berpendidikan, merasa bahwa membatasi anak adalah pilihan tepat. Sehingga tidak heran kalau SDM kita masih kurang, karena yang banyak bertambah adalah SDM dari kalangan menengah kebawah dengan tingkat pendidikan rendah. Sedangkan yang menengah ke atas dan berpendidikan tinggi justru telah merasa menyelamatkan dunia dengan pembatasan kelahiran anak yang mereka lakukan.

Semoga mencerahkan. Jika ada diskusi, monggo..

#SaatnyaDapat4


Diskusi dapat dilihat di sini.

Friday, April 26, 2013

Koping dalam Loss and Grieving

Lagi makan di warung, obrolan nyambung ke peristiwa meninggalnya Ustadz Jefri Al-Buchari. Dari pembicaraan singkat itu, saya tertarik dengan ucapan Mas Mohammad Dzulfikar Arifi, "Keluarga yang ditinggal meninggal karena kecelakaan jauh lebih shock daripada meninggal karena sakit."

Jika dipikir sepintas, benar juga kata Mas Arifi tersebut. Argumentasi sederhananya, keluarga yang ditinggal oleh orang yang sebelumnya sakit, paling tidak sudah menimbang dan memperkirakan kemungkinan terburuk dari suatu penyakit akan berujung pada kematian. Namun bagi keluarga yang ditinggal meninggal karena kecelakaan, sebelumnya tidak ada persiapan itu.

Tetapi saya belum tahu apakah sudah ada pembuktiannya secara ilmiah atau belum. Hal ini bisa dimasukkan ke dalam kajian Ilmu Keperawatan Dasar, tentang fase pre-Loss and Grieving (LnG). Di mana fase ini akan mempengaruhi fase-fase ketika sudah masuk LnG, yakni denial, anger, bargaining, depression, dan acceptance. Kalau ada yang terarik meneliti mungkin judul ini bisa dipakai, "Pengaruh Penyebab Kematian Terhadap Koping Keluarga dalam Menghadapi Loss and Grieving."

#SaatnyaDapat4


Diskusi dapat dilihat di sini.

Wednesday, April 24, 2013

Berbicara tentang Independensi

Adakah di dunia independensi yang mutlak/absolut? Saya rasa tidak ada.. Baik pemikiran, perilaku, dan sikap kita pasti sudah terpengaruh oleh unsur2 di luar kita, baik saudara, sahabat, lingkungan, budaya, media massa, dll. Sehingga tak perlu lagi mempermasalahkan independensi (meskipun ada saatnya hal itu dipermasalahkan). Yang justru perlu harus dicari adalah nilai apa yang kita bawa. Apakah itu kebaikan atau keburukan, kebenaran atau kebathilan. Percuma ketika kita bicara tentang independensi tanpa melibatkan unsur nilai di sana. Karena independensi itu hanyalah suatu bentuk cara, agar kita bisa bebas memilih nilai yang kita anut. Lagipula, independen itu tidak berarti bisa berbuat seenaknya. Pun juga ketika kita dependen, tidak selalu harus membebek. Yang terpenting di sini adalah kesadaran dalam diri kita untuk selalu berorientasi pada kebaikan dan kebenaran. Itu titik tolak utamanya. Jika itu belum selesai, independensi yang kita bicarakan pun akan terasa semu.

#SaatnyaDapat4

Tuesday, April 9, 2013

Harga Seorang Pemimpin

*Kupersembahkan untuk Orang-orang Luar Biasa di PPSDMS.

Sebenarnya berapa banyak uang yang harus dikeluarkan untuk mencetak seorang pemimpin? Di tempat saya dibina, Ppsdms Nurul Fikri, setiap peserta diberi beasiswa sebesar Rp 1.500.000 per-bulan/orang. Rinciannya adalah Rp 1.000.000 berbentuk program dan berbagai subsidi kegiatan, sedangkan Rp 500.000 diberikan cash sebagai uang saku. Peserta dibina selama 22 bulan. Jadi tinggal mengalikan saja, Rp 1.500.000 x 22 bulan = Rp 33.000.000 per-orang. Apakah angka itu menurut Anda sedikit? Simak kelanjutannya..

Seorang pemimpin saja tidak cukup untuk mengubah Indonesia. Kepemimpinan harus dijalankan secara kolektif, dan PPSDMS menyadari itu. Dengan banyaknya pemimpin yang berkualitas diharapkan banyak sektor terkawal, sehingga perubahan itu benar-benar terwujud. Berawal dari hanya 20 orang pada tahun 2002, dalam waktu 10 tahun kuota peserta PPSDMS meningkat menjadi 220 orang peserta. Sekarang, kita hitung berapa uang yang harus dikeluarkan PPSDMS untuk membiayai 220 pesertanya dalam kurun waktu 2 tahun. Rp 33.000.000 x 220 = Rp 7.260.000.000 (7,26 Milyar) atau 330.000.000/bulan!

Dari mana uang sebanyak itu? Tentu bukan dari pemerintah. Ini adalah donasi yang berikan oleh orang atau perusahaan yang masih peduli dengan masalah kepemimpinan Indonesia. Dan mendonasikan uang untuk kepemimpinan masa depan adalah sesuatu yang absurd, karena efeknya baru bisa dirasakan dalam jangka panjang. "Yang kita jual adalah visi," Kata Bang Adji, manajer bidang program PPSDMS.

Ini belum berbicara berapa banyak orang yang mau berinvestasi masa depan seperti itu. Jika seseorang memiliki uang 15 juta dan mendonasikan uangnya untuk PPSDMS, ini hanya mampu untuk membiayai 10 orang saja per-bulan. Jika tidak bervisi jangka panjang, atau cari mudahnya dalam beramal, bisa saja uang 15 juta itu dia donasikan untuk hal lain yang hasilnya kembali lebih cepat, misal untuk modal usaha, atau menyumbang ke panti asuhan. Jika per-anak yatim diberi Rp 100.000, itu sudah bisa membiayai 150 anak yatim. Pahalanya juga udah jelas.

Jadi, sebenarnya berapa biaya yang diperlukan untuk mencetak seorang pemimpin? Atau lebih tepatnya berapa biaya untuk mendapatkan biaya untuk mencetak seorang pemimpin? Mungkin jawabannya tidak bisa dinominalkan. Biayanya adalah kesabaran, keikhlasan, ketekunan, kerja keras, visi, jaringan, dan tentu saja doa.

*Disarikan dari Taujih Bang Adji dalam Latgab Timur 2, Yogyakarta 6-7 April 2013

[gea]

#SaatnyaDapat4
 
Diskusi dapat dilihat di sini.

Wednesday, March 6, 2013

Antara Belanda dan Inggris (ABDI)

Empat tahun lalu, ketika saya masih duduk di kelas 2 SMA, ada hal menarik yang masih saya ingat hingga kini. Itu tentang dua negara penjajah, Belanda dan Inggris.

Saat itu saya membaca hasil tes tulis salah seorang adik kelas untuk seleksi calon Putra-putri Smaga. Yang saya ingat ada pertanyaan tes tulis yang berbunyi, "Jika kamu bisa mengubah masa lalu, apa yang bisa akan kamu ubah?"

Saya masih sangat ingat, adik kelas tersebut menjawab, "Membuat Indonesia dijajah Inggris (bukan Belanda --pen)." Saat membaca jawaban itu, pikiran saya langsung melayang ke negeri seberang, Malaysia. "Hmm.. Memang, negeri yang dijajah Inggris lebih maju ketimbang yang dijajah Belanda." nalar saya polos. Karena kepolosan saya itulah secara tidak langsung saya sepakat dengan jawaban tersebut. Waktu pun berlalu, dan kejadian itupun terlupakan begitu saja.

Beberapa hari yang lalu, saya membaca kumpulan pidato-pidato Bung Karno. Dari sana saya tersadar bahwa penjajahan tetaplah penjajahan. Terlepas soal makmur atau tidak negeri yang dijajahnya. Bahkan, pilihan untuk memakmurkan atau tidak negeri jajahan merupakan strategi negara penjajah. Tujuannya adalah sama-sama mengekploitasi negara jajahan mereka masing-masing.

India yang notabene negara jajahan Inggris memang sengaja dimakmurkan untuk tujuan ekploitasi. Saat itu di Inggris sedang terjadi industrialisasi besar-besaran. Inggris butuh pasar untuk melempar produk-produk mereka. Nah, ketika Inggris menjajah India, penduduk India diberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan agar mereka makmur. Dari kondisi makmur itu Inggris berharap masyarakat India memiliki daya beli yang tinggi. Sehingga produk-produk Inggris bisa didatangkan ke India, dan mereka pun mendapatkan pasar yang bisa mereka keruk keuntungannya.

Berbeda dengan Belanda. Di Belanda saat itu belum terjadi industrialisasi. Belanda lebih suka membawa produk dari tanah air ke negerinya. Produk-produk seperti gula, rempah-rempah, teh, dsb. adalah produk yang disukai rakyat Belanda. Untuk mengolahnya, Belanda mendirikan pabrik-pabrik di Indonesia. Agar pabrik beroperasi, dibutuhkan tenaga kerja. Kalau bisa semurah mungkin. Latar belakang inilah yang Belanda tidak memberikan pendidikan kepada rakyat Indonesia. Itu agar mereka bisa menggaji rendah para pekerja yang tidak berpendidikan.

Nah, kalau sekarang kondisinya seperti apa? Kita dicerdaskan (model penjajahan Inggris), tapi tujuannya untuk bekerja pada "mereka" (model penjajahan Belanda).



Diskusi dapat dilihat di sini.

Friday, February 15, 2013

OPINI: Jalan Menuju Intelektual Profetik

Oleh Gading Ekapuja Aurizki

"Jadi pemimpin itu harus cerdas dan bernyali." Kalimat yang sering diucapkan oleh masbro Arif Syaifurrisal itu terus terngiang di telinga saya. Memang benar, seorang pemimpin harus memiliki keduanya. Pemimpin yang hanya cerdas, namun tak mampu mengeksekusi suatu konsep yang ia susun takkan bisa membuat perubahan apa2. Sebaliknya, kalau pemimpin hanya punya nyali namun tidak punya narasi yang jelas, akan banyak membuat blunder yang justru merugikan organisasinya. Lalu apa hubungannya dengan intelektual profetik?

Semuanya berawal dari wacana yang diberikan Pak Yusuf Maulana di Sarasehan Sosmas KAMMI awal bulan Februari lalu. Saat itu beliau membandingkan praktik berorganisasi yang dipraktikkan oleh beliau dan beberapa orang kader senior KAMMI UIN Sunan Kalijaga yang selalu mengedepankan filosofi, teori, dan konsep. Setelah semuanya disepakati barulah kemudian bertindak. Model berorganisasi ini berbeda dari kebanyakan kita yang biasanya langsung menginjak ke teknis. Model yang dipraktikan pak Yusuf dkk ini saya sebut model teoritis, sedangkan yang banyak kita praktikkan kita sebut model empiris.

Keunggulan model teoritis adalah ketika kita mampu menemukan sebuah konsepsi yang tepat, benar, dan kokoh, hal itu akan membuat gerak semakin lancar. Konsepsi2 ini secara tak sadar ia akan menuntun laku dari orang2 yang ada di suatu organisasi dan menanamkan sebuah keyakinan bahwa konsepsi2 itulah yang harus dijalankan/dicapai. Jika dijalankan dengan benar, orang yang memahami konsepsi2 tersebut takkan kehilangan orientasi dan akan lebih cepat tiba di tempat yang dituju. Namun kelemahan dari model ini adalah "syahwat" berpikir yang terkadang berlebihan sehingga menggeser semangat untuk berbuat. Banyak orang yang mengambil model ini terjebak pada diskusi tanpa ujung, yang justru membuat dirinya tak beranjak dari tempatnya memulai. Mereka merasa hanya dengan berpikir semua masalah akan selesai, padahal hal itu tidak mungkin terjadi.

Kebalikannya, model empiris jauh lebih banyak menguras tenaga dan pikiran. Hal itu disebabkan karena model ini lebih mengutamakan pengalaman (experience) dan menggunakan metode coba-coba (experimental). Trial and Error pun tak pelak menjadi makanan sehari2. Gak cocok buang, cocok gunakan. Tentu jika menggunakan model ini akan memakan waktu yang panjang, dan biasanya tidak responsif terhadap perubahan. Karena setiap ada perubahan kondisi eksternal, internal organisasi harus melakukan eksperimen/trial and error lagi untuk menyesuaikan kondisi eksternal. Hanya saja dari sisi positif, model empiris ini akan membiasakan seseorang untuk terus bekerja dan nantinya akan membentuk kekuatan yang -dalam bahasa Rhenald Kasali dalam buku MYELIN- disebut intangibles. Thomas Alva Edison menjadi ilmuwan besar juga karena model seperti ini.

Lalu model manakah yang seharusnya kita pakai? Dr. Arief Munandar pernah menjelaskan bahwa pemimpin transformatif itu adalah mereka yang memiliki kemampuan teortis unggul, sekaligus matang dari sisi empiris. Kesimpulannya, secara ideal kita harus seimbang di antara keduanya. Itu berarti bagi yang selama ini masih berhenti pada ranah diskursif, lebih baik segera mencari wadah untuk mewujudkan konsepsi2nya. Sedangkan yang lebih banyak bejibaku dengan pengalaman, harus mulai menggali konsep dari segala hal yang telah dan akan dilakukan.

Dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul "Disorientasi dan Pemecahannya", saya menghimbau kader KAMMI untuk lebih mengenali KAMMI. Di sana saya menyampaikan bahwa barangkali permasalahan yang saat ini banyak mendera kita disebabkan diri kita tidak mengenal organisasi yang kita ikuti ini. Mengacu pada metode berfilsafat, sebelum masuk ke ranah aksiologis (untuk apa -saya berada di KAMMI-) dan epistemologis (bagaimana -mengelola KAMMI-), harus selesai dulu dengan ontologisnya (apa -itu KAMMI-).

Mengenal KAMMI adalah salah satu bentuk penguasaan teoritis, bahwa KAMMI memiliki profil seperti ini dan itu. Urusan kader yang aktif sedikit, program tidak jalan, dsb itu urusan lain. Intinya segala permasalahan teknis yang ada di tubuh organisasi tak boleh mereduksi pemahaman kita tentang bagaimana kondisi ideal organisasi. Caranya adalah terus membaca setiap fenomena baik tekstual maupun kontekstual, mengkaji setiap permasalahan, mengkritisi kelengahan dan kelemahan, mengkonsep sesuatu yang ideal, memperjuangkan jika menemukan kebenaran, dst.

Mumpung masih awal tahun, dan masih ada sisa kepengurusan, jangan bosan2 untuk menggali lebih dalam..lebih dalam..dan lebih dalam apa itu KAMMI. Dimulai dari AD/ART dan filosofi gerakan. Kebetulan pagi ini saya akan mengisi Suplemen MK 1, kita tunggu gimana hasilnya.

15 Februari 2013
Jum'at dini hari
Gading Ekapuja Aurizki
 
Komentar dapat dilihat di sini

Wednesday, November 14, 2012

Mewaspadai dengan Memperbaiki Sistem Transportasi


Oleh Gading Ekapuja Aurizki

Bagi orang yang pernah ke Universitas Indonesia (UI) dan naik Bis Kuning (Bikun), pasti familiar dengan kalimat “Use public transportation to reduce air pollution” yang tertulis di badan bis. Kalimat tersebut adalah salah satu bentuk kampanye ramah lingkungan dengan mendorong orang untuk menggunakan transportasi publik. Kampanye semacam ini digunakan pemerintah untuk menekan penggunaan kendaraan pribadi, baik motor maupun mobil. Selain karena alasan lingkungan, juga untuk mencegah kemacetan. Namun keinginan tersebut belum didukung oleh kondisi transportasi publik di Indonesia, yang tingkat keamanan dan kenyamanannya masih rendah. Pencopetan, perampokan, pelecehan, dan pemerkosaan adalah beberapa contoh kejahatan yang dapat terjadi di transporasi publik seperti angkot, bus, taksi, kereta maupun kendaraan umum lainnya.

Berdasarkan data dari Humas Polri bulan Juli 2012, kasus terbanyak terjadi di Angkot. Angkot menjadi primadona karena murah dan daya jelajahnya yang luas. Namun kondisi angkot yang sempit dengan penumpang berdesak-desakan membuat risiko terjadi kejahatan menjadi lebih besar. Bagi yang ingin menggunakannya perlu meningkatkan kewaspadaan. Tetapi kewaspadaan saja kurang efektif jika hanya dilakukan di tingkat individu. Kewaspadaan harus dimulai dari tingat tertinggi atau negara. Karena mendapatkan rasa aman adalah hak setiap warga negara yang dijamin oleh konstitusi kita, yakni UUD 1945 dalam Pasal 28G ayat 1. Untuk itu pemerintah perlu memberikan transportasi publik yang aman dan nyaman, dengan akses yang luas. Dengan melakukan perbaikan sistem transportasi tindak kejahatan dalam kendaraan umum bisa diminimalkan. InsyaAllah!

____________________
NB: Tulisan ini sempat dikirim ke www.mediaindonesia.com untuk dimasukkan ke Opini Publik Harian Media Indonesia tanggal 12 Nopember 2012, tetapi tidak dimuat.

Sunday, May 20, 2012

Fisiologi Kebangkitan: Sebuah Rumusan Proses Menuju Kebangkitan


Oleh Gading Ekapuja Aurizki*

Pernahkah Anda berpikir bagaimana caranya bangkit dari duduk? Jika belum, cobalah praktikan sekarang juga, dan amati.

Dimulai ketika Anda menginginkan untuk berdiri [1]. Otak mengolah pesan tersebut, yang selanjutnya dihantarkan ke seluruh tubuh melalui saraf. Pesan itu merupakan arahan/perintah bagi seluruh organ agar sama-sama mempersiapkan diri untuk melakukan gerakan [2]. Berat tubuh yang semula bertumpu pada pantat dipindahkan ke kaki [3]. Setelah itu beberapa organ gerak berkoordinasi menghimpun kekuatan untuk mempersiapkan gerakan, terutama otot kaki yang menjadi tumpuan utama untuk bangkit [4]. Sehingga saat “hentakan” dilakukan, kaki bisa menahan tubuh tetap seimbang [5]. Saat itulah tubuh kita dikatakan BANGKIT dari duduk.

Dari fenomena ini saya bisa merumuskan beberapa step kebangkitan:

[1].    Inisiasi
[2].   Internalisasi-visi
[3].   Migrasi
[4].   Konsolidasi
[5].   Eksekusi

Mengacu pada fisiologi kebangkitan di atas, sebuah usaha bisa disebut kebangkitan ketika sudah memasuki tahap eksekusi. Ketika segalanya telah siap, dan tinggal menanti “hentakan” terakhir itulah yang dimaksud kebangkitan. Sedangkan proses-proses sebelumnya lebih cocok disebut persiapan menuju kebangkitan.

Namun yang sering kita jumpai selama ini, kebangkitan dianggap sebagai titik awal sebuah perubahan (insiasi). Hal itu membuat ada pihak yang “menjual” istilah kebangkitan –maupun bangkit- sebagai propaganda tanpa sebelumnya melakukan kerja nyata. Istilah kebangkitan hanya digunakan sebagai jargon-jargon kosong yang tidak ada progres ke depannya.

Pun dengan dipilihnya tanggal 20 Mei 1908 atau kelahiran Budi Utomo sebagai hari kebangkitan nasional –terlepas dari berbagai konflik dan kontroversi atas penisbatannya kepada mereka- adalah baru memasuki tahap inisiasi. Untuk alasan mengapa tanggal 20 Mei dipilih sebagai hari kebangkitan nasional, kita tidak perlu sibuk membahasnya karena bukan hal yang esensial. Yang pasti, inisiasi yang dilakukan oleh pendiri Budi Utomo berhasil menhantarkan bangsa Indonesia pada puncak eksekusi kebangkitan, yaitu Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.

Inisiasi kebangkitan dimulai dari keresahan mendalam terhadap suatu kondisi masyarakat yang dinilai jauh dari nilai-nilai ideal. Sampai pada akhirnya ada beberapa orang yang berpikir tentang fenomena tersebut dan kemudian berniat untuk melakukan perbaikan. Jika dalam sirah nabawiyah, tahap ini merupakan tahapan ketika Rasulullah saw. berkhalwat di gua hira, menerima wahyu kenabian dan kerasulan, sampai dakwah secara sembunyi-sembunyi di kalangan terbatas.

Sedangkan tahapan internalisasi ini dimulai ketika ide-ide hasil inisiasi disebarluaskan kepada khalayak luas. Saya tidak menyebutnya sosialisasi karena sosialisasi hanyalah salah satu tahapan untuk internalisasi. Sebelum melakukan internalisasi-visi kepada para pendukung kebangkitan pastilah ada sosialisasinya. Hal ini saya temui ketika berkunjung ke Semarang beberapa minggu lalu. Dalam seminar bertajuk konsolidasi ke-Indonesia-an, Gerakan Beli Indonesia yang diinisiasi Pak Heppy Trenggono berusaha diinternalisasikan kepada peserta seminar. Gerakan seperti ini mulai banyak berkembang sekarang.

Tahap internalisasi visi ini juga dilalui oleh Rasulullah saw. yaitu ketika membina keimanan para sahabat pada periode Makkah selama 13 tahun. Saat itu belum turun ayat-ayat yang mengatur syariat. Wahyu yang turun pada periode Makkah lebih banyak berbicara tentang tauhid dan aqidah. Inilah yang dimaksud internalisasi-visi.

Tahap selanjutnya, yaitu migrasi, yang merupakan tahap pemindahan tumpuan. Bahasa populernya adalah hijrah. Jika dikaitkan dengan konteks sekarang mungkin adalah regenerasi kepemimpinan dari generasi tua ke generasi yang lebih muda. Saya sepakat dengan Taufik Kiemas yang menghimbau kepada tokoh-tokoh tua untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden. Tokoh tertua yang naik menjadi presiden adalah BJ Habibie. Beliau menggantikan Soeharto pada usia 62 tahun. Sedangkan presiden termuda adalah Ir. Soekarno, yang dilantik saat beliau masih berusia 44 tahun.

Setelah pemindahan tumpuan dilakukan, perlu adanya penguatan-penguatan. Pada tahap konsolidasi hal itu dilakukan. Kekuatan-kekuatan yang ada dikumpulkan untuk disinergikan visi-misinya. Beberapa sektor dikuatkan, disiplin dijalankan, dan beberapa aturan disepakati.

Setelah hijrah, Rasulullah saw. melakukan penguatan pilar-pilar kenegaraan. Beliau mendirikan masjid, mempersaudarakan antara Anshar dan Muhajirin, memperkuat angkatan perang, menjalin perjanjian dengan Yahudi dan Nashrani Madinah lewat Piagam Madinah, dan lain sebagainya. Pada fase inilah konsolidasi kebangkitan dilakukan.

Yang terakhir adalah tahapan eksekusi. Inilah wujud kebangkitan yang sesungguhnya. Fase ini sama dengan ketika seorang penembak menekan pelatuknya dan pemanah melepaskan anak panahnya. Jadi kebangkitan ibarat pukulan terakhir dari sekian proses yang telah dipersiapkan. Dari kacamata pergerakan, gerakan kebangkitan Islam dimulai setelah hijrah. Namun dari kacamata perkembangan Islam secara global, kebangkitan itu dimulai ketika kemenangan menaklukkan Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah. Setelah itulah Islam berkembang pesat dan tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Lantas, di tahap yang mana Indonesia berada saat ini? Menurut saya pribadi, Indonesia masih di tahap internalisasi-visi. Itu dikarenakan kita masih sering kehilangan arah dalam menjalankan fungsi negara. Dasar-dasar negara mulai kembali dibedah, proses ideologisasi sedang diusahakan, sedangkan proses pergantian kepemimpinan belum dilakukan. Sehingga kesimpulannya, kita masih berada di tahap internalisasi-visi.

Kebangkitan Indonesia memang masih jauh dari angan. Namun itu bukanlah alasan bagi kita untuk menyerah. Jika kebangkitan itu masih jauh, maka tugas kita adalah berusaha mendekatinya sedekat mungkin. Sehingga generasi penerus kita kelak bisa meneruskan perjuangan kita mewujudkan kebangkitan Indonesia yang sebenar-benarnya. Bukan jargon omong kosong belaka. Semoga!


*Penulis adalah Ketua Pengurus Komisariat KAMMI Airlangga 2012-2013