Showing posts with label NLC. Show all posts
Showing posts with label NLC. Show all posts

Friday, July 27, 2012

Belajar dari Al-Fatih

Materi oleh. Agung Waspodo (Sejarawan Muslim)
Ringkasan oleh. Gading Ekapuja Aurizki (NIP 0604756)
Konstantinopel adalah sebuah obsesi. Usaha untuk menaklukkannya sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad saw. Terletak di ujung pertemuan dua benua, Asia dan Eropa, Konstantinopel menjadi kota impian. Ada yang mengatakan, siapa yang menguasainya, maka ia akan bisa menguasai Timur dan Barat.
Umat Muslim telah berulang kali berusaha untuk menaklukkan Konstantinopel. Namun setiap usaha selalu menuai kegagalan. Tercatat kekhilafahan Bani Umayyah dua kali melakukan ekspedisi ke Konstantinopel, namun dua-duanya menemui kegagalan. Ekspedisi pertama gagal saat mengepung. Sedangkan ekspedisi kedua, yang diikuti oleh sahabat Nabi Abu Ayyub al-Anshari berhasil mengepung tapi kalah dalam hal logistik, politik, dan teknologi. Hingga akhirnya, sebaik-baik pemimpin itu datang.
Al-Fatih memiliki nama asli Muhammad (bahasa Turki: Mehmet). Panggilan “Al-Fatih” didapatkannya setelah berhasil menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453 Masehi. Sebelum merebut Konstantinopel, Al-Fatih menjalani tahun-tahun masa pembinaan. Usia 11 tahun ayahnya Sultan Murad I sudah memberikan kepercayaan kepadanya untuk menjadi walikota. Pada usia 19 tahun, ketika ayahnya meninggal, ia diangkat menjadi sultan bergelar Murad II.
Banyak orang yang meragukan kapasitasnya sebagai seorang pemimpin. Namun, di sampingnya ada dua orang yang menjadi motivator agar terus maju. Salah satunya bernama Syaikh Syamsuddin. Syaikh Syamsuddin jugalah yang meyakinkan Al-Fatih bahwa ia adalah orang yang disebutkan dalam salah satu hadits Nabi, sebagai sebaik-baik pemimpin yang menjadi panglima bagi sebaik-baik pasukan.
Persiapan untuk menaklukkan Konstantinopel sudah dimulai Al-Fatih sejak naik tahta. Dengan kata lain, 2 tahun sebelum hari-H penyerangan segala sesuatunya telah dipersiapkan. Mulai dari logistik perang, teknologi persenjataan, dan yang paling penting spiritual pasukan. Saking rapi dan matangnya persiapan, setiap satu instruksi itu sudah dipersiapkan sejak 3 minggu. Di jalan-jalan menuju Konstantinopel sudah disediakan logistik untuk pasukan, pemahaman terhadap medan juga sudah dikuasai.
Untuk menaklukkan Konstantinopel bukan perkara mudah. Pasalnya Konstantinopel, yang dikuasai oleh kekaisaran Byzantium, dikelingi oleh benteng-benteng tinggi di segala penjuru. Hanya sebagian kecil wilayah yang pertahanannya lemah. Bahkan wilayah laut untuk masuk ke wilayah Konstantinopel dipasangi rantai besar. Namun pertahanan yang kuat itu tak kuasa membendung laju pasukan Al-Fatih.
Sebelum ke hari-H pengepungan, ada sebuah fakta menarik dari Kekaisaran Turki Utsmani, yakni menempatkan ibukota negara di wilayah perbatasan dengan daerah musuh. Ada pelajaran dibalik kebiasaan itu, yaitu setiap kali sang Sultan bangun yang dia lihat pertama kali adalah negeri musuh yang ingin ia taklukkan. Hal ini memberi visi bagi sang Sultan untuk senantiasa mempersiapkan diri melakukan pembebasan negeri-negeri musuh.
Saat penyerangan, ternyata Al-Fatih memiliki rencana brilian. Ia mengetahui bahwa jalur laut menuju Konstantinopel dihalangi oleh rantai besar. Untuk itu ia dan pasukannya mengangkat kapal melewati gunung sebelum akhirnya tiba di Golden Horn, sebelah Timur Konstantinopel. Selain pasukan yang menggunakan kapal, ada juga pasukan yang datang dari sebelah Barat yang sebagiannya merupakan “sekutu” Al-Fatih dari wilayah Eropa Timur. Pasukan ini harus menghadapi benteng tiga lapis. Menghadapi pertahanan yang begitu kuat, pasukan Al-Fatih memiliki bekal sebuah meriam besar. Tembakan meriam itu mampu meruntuhkan benteng tersebut satu persatu.
Setelah memenangkan pertarungan, ada sesuatu yang menarik: Al-Fatih melarang pasukannya untuk masuk ke dalam kota. Jika pasukan masuk ke dalam kota, dikhawatirkan nafsu untuk menjarah dan melakukan pengrusakan muncul. Al-Fatih pun setelah itu hanya memerintahkan untuk membersihkan Hagia Sophia untuk dijadikan tempat shalat. Hagia Sophia pun berubah menjadi Aya Sophia, meskipun saat Turki Sekuler dicanangkan Kemal Attaturk, namanya dikembalikan menjadi Haghia Sophia.
Dari sejarah ini kita mendapatkan banyak pelajaran. Jatuh bangun yang terjadi dalam sejarah Turki membuktikan kalau bangsa Turki adalah bangsa yang besar. Sebelum menaklukkan Konstantinopel, sempat kekhilafahan Turki Utsmani kehilangan rajanya dalam sebuah pertempuran. Tetapi beberapa generasi setelah itu Turki justru berhasil menaklukkan Konstantinopel. Begitupun sekarang. Setelah jatuh dalam kubang sekulerisme, Turki mampu bangkit menjadi sebuah negara dengan kepemimpinan Muslim yang disegani. Itu seharusnya memotivasi kita untuk berjuang, menjadikan Indonesia lebih baik dan bermartabat!


Wallahua'lam bishshawab.. []gea

Thursday, July 26, 2012

Mengelola Hidup Merencanakan Masa Depan (MHMMD)

Materi oleh. Tim MHMMD 
Ringkasan oleh. Gading Ekapuja Aurizki (NIP 0604756)
Apakah sudah terbayang di benak Anda apa yang akan Anda lakukan 1, 5, 10, 20, atau 50 tahun ke depan? Jika belum, tahukah Anda ada ungkapan “If you fail to plan, you are planning to fail” (Kalau Anda Gagal Berencana, Anda Berencana untuk Gagal)?
Urgensi untuk merencanakan kehidupan sama dengan urgensi kehidupan itu sendiri. Karena setiap rencana yang kita buat, menjadi navigator bagi kehidupan kita. Orang yang tidak merencanakan hidupnya akan terombang-ambing penuh ketidakpastian di tengah dunia yang semakin menggila. Sebaliknya, orang yang merencanakan hidupnya hingga detail akan memiliki menjalani hidup dengan penuh kepastian. Untuk itulah, kita perlu merencanakan hidup kita. Dengan merencanakan hidup kita, mulai dari cita-cita, capaian, pendidikan, keluarga, dan lain sebagainya, kita akan “sampai di tujuan, sebelum berangkat”.
Rencana yang kita buat tidak boleh sembarangan. Memang, kita boleh bermimpi setinggi-tingginya. Namun mimpi itu harus berpijak pada bumi, alias realistis. Sesuai dengan potensi dan peluang yang kita miliki.
Dalam pelatihan MHMMD, sebelum kita merencanakan hidup, kita diminta untuk mengaudit potensi diri kita. Kekayaaan, keunggulan, dan keunikan diri dieksplorasi sedemikian rupa sehingga kita memahami gambaran diri kita saat ini.
Setelah itu, kita diminta untuk memandang masa depan dengan segenap peluangnya. Saat itu kita diajak untuk melihat gambaran orang sukses di masa depan, yakni orang yang: (1) Berpengetahuan; (2) Berketerampilan; (3) Memiliki jaringan; dan (4) Memiliki jiwa luhur dan bermoral.
Selanjutnya, kita diminta untuk melihat peluang bidang dalam kehidupan kita. Diutamakan yang sesuai dengan bidang yang ditekuni saat kuliah. Dengan peluang bidang ini diharapkan kita menjadi seorang professional yang bisa meninggalkan legacy (jejak) di kehidupan kita. Selain itu, dengan pemetaan peluang masing-masing bidang diharapkan kita bisa menemukan inovasi dalam mengelola potensi sumber daya di Indonesia.
Bunda Marwah Daud menjelaskan bahwa Indonesia adalah surganya bahan baku. Tetapi karena minim inovasi, bahan baku tetap menjadi bahan baku. Tidak seperti negara-negara maju yang mengolah bahan baku menjadi sebuah produk yang memiliki nilai jual. Kita bisa mengambil contoh buah kakao. Indonesia memiliki banyak perkebunan kakao, tetapi kenapa Indonesia tidak terkenal dengan produk coklatnya? Justru Amerika, Swis, dan beberapa negara maju yang tidak punya ladang kakao terkenal dengan produk coklatnya. Itu karena kita minim inovasi.
Yang terakhir, setelah mengetahui potensi, gambaran masa depan, dan peluang yang dimiliki, saatnya membuat peta hidup. Peta hidup dibuat untuk menjadi navigator dalam kehidupan kita. Dalam menuliskan peta hidup, kita diminta untuk membuatnya sedetail mungkin. Agar setiap satuan waktu yang kita miliki telah kita rencanakan. Tahun, bulan, pekan, hari, bahkan jam, menit, dan detik. Diharapkan kita mampu memproyeksikan masa depan kita sendiri.
Setelah peta hidup tertulis, tinggal kita bersiap untuk merealisasikannya. Bagaimana caranya? “Yakinlah bumi Allah itu luas. Peluang tak terhingga banyaknya. Kita harus siap belajar, berkunjung ke tempat yang mendukung potensi kita.”
Semoga rencana yang kita buat mampu mendukung terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat!
Wallahua’lam bishshawab.. []gea

Indonesia Tanpa Korupsi

Materi oleh. Febri Hendry (Indonesian Corruption Watch)
dan Dedie A. Rachim (Komisi Pemberantasan Korupsi)
Ringkasan oleh. Gading Ekapuja Aurizki (NIP 0604756)
Indonesian Corruption Watch
Menurut ICW, ada tiga sektor korupsi terbesar berdasarkan jumlah kasus, yaitu: 1). Pendidikan (54 Kasus, 115,7 M); 2). Keuangan Daerah (51 Kasus, 417,4 M); dan 3) Sosial Kemasyarakatan (42 Kasus, 296,0 M). Sedangkan berdasar total kerugian yang diderita oleh negara Investasi Pemerintah menempati urutan pertama dengan total kerugian sebanyak 439,0 M. Menyusul di tempat kedua dan ketiga, kasus Keuangan Daerah 417,4 dan Sosial Kemasyarakatan 296,0 M.
Dari data di atas dapat diambil kesimpulan, meskipun banyak kasus yang terjadi dalam ranah pendidikan jumlah korupsi per-kasusnya “cukup” sedikit. Sedangkan Investasi Pemerintah, dengan kasus yang cukup sedikit memakan banyak kerugian.
Untuk modus, dua modus teratas dalam kasus korupsi adalah modus penyelendupan (168 kasus) dan modus penyelewengan (81 kasus).
Menurut Bang Febri Hendry (ICW), ke depan tren korupsi bukannya malah turun, justru semakin naik. Ada beberapa alasan: (1) Biaya politik yang semakin mahal; (2) Sistem anti-korupsi yang belum berjalan baik, masih perlu pengawalan dari berbagai pihak; dan (3) Soal transparasi yang belum bisa terkuak sempurna. Terutama dalam hal korupsi barang dan jasa (markup kontrak).
Komisi Pemberantasan Korupsi
Ada 3 intitusi yang berada di garda terdepan dalam usaha pemberantasan korupsi di Indonesia: (1) Kepolisian; (2) Kejaksaan; dan (3) KPK. Di antara ketiganya, Kejaksaan merupakan institusi yang paling banyak menghukum koruptor, sedang KPK paling sedikit. Namun peran KPK ini tidak bisa dianggap kecil, karena KPK mampu mengungkap sejumlah kasus korupsi strategis seperti kasus BLBI, dsb.
Ketika kita melihat komposisi orang yang ada di KPK, kita akan melihat KPK sejatinya hanya memiliki 98 orang penyidik.  Itu kemudian terkurangi 1 karena menjalin hubungan dengan Angelina Sondakh. KPK dengan berat hati mengembalikan ke institusi asalnya, yaitu kepolisian. Jumlah itu harus terkurangi 1 orang lagi karena yang bersangkutan dekat dengan keluarga Nazaruddin, dan lagi-lagi KPK dengan berat hati mengembalikan ke institusi kepolisian.
Bang Dedie (KPK) mengatakan, untuk mengatasi maraknya kasus korupsi perlu adanya penambahan gaji bagi pergawai negeri sipil. Menurut beliau korupsi terjadi karena kebutuhan. Namun itu hanyalah solusi alternatif yang memang masih perlu dikaji lebih lanjut.
Untuk solusi jangka panjang, pihak KPK, bekerja sama dengan kementerian pendidikan, telah menyiapkan pendidikan integritas bagi siswa sekolah. Hal itu seperti yang telah dilakukan Brunei Darussalam. Biro Mencegah Ratua Brunei (lembaga seperti KPK) telah membuat program integritas sejak dini.
Kita sebagai mahasiswa juga perlu mengawal agenda pemberantasan korupsi ini. Bagaimana pun, korupsi adalah tindakan yang merugikan uang negara. Banyak rakyat miskin, tidak tersejahterakan karena uangnya dikorupsi oleh sebagian oknum. Untuk itu kita harus mengatakan TIDAK pada korupsi! Semuanya demi terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat!
Wallahua’lam bishshawab.. []gea

Manajemen Pembinaan Peserta PPSDMS

Materi oleh. Adi Wahyu Adji (Manajer Bid. Program PPSDMS) 
Ringkasan oleh. Gading Ekapuja Aurizki (NIP 0604756)
Cita-cita PPSDMS
Ada beberapa hal yang menjadi inspirasi dalam penyelenggaraan PPSDMS: (1) Keberadaan Jesuit; (2) Inspirasi kos HOS Tjokroaminoto; (3) Islamisasi Turki; dan (4) Idealisme Kami.
Keberadaan ordo Jesuit adalah salah satu bukti bahwa Umat Katholik “peduli” dengan masa depan umat mereka. Untuk itu, mereka membuat sebuah organisasi pembinaan pemimpin masa depan. Umat Islam tidak boleh kalah. Meskipun baru 10 tahun berdiri, PPSDMS juga ingin mencetak pemimpin masa depan dari umat Islam.
Inspirasi kedua datang dari kos HOS Tjokroaminoto di gang Peneleh Surabaya. Meski rumah itu sempit, tapi ia mampu melahirkan negarawan Indonesia seperti Ir. Soekarno. Juga mampu melahirkan tokoh ideolog seperti Muso (PKI) dan Kartosuwirjo (NII).
Ketiga, Islamisasi Turki. Meskipun Turki adalah negara Sekuler, namun kepemimpinan Erdogan mampu membuat Turki lebih Islami. Hal itu dibuktikan dengan UU tentang penggunaan jilbab yang baru-baru saja disahkan. Ibu negara –istri Erdogan yang berjilbab- yang selama UU itu belum disahkan tidak bisa ikut agenda negara, sekarang sudah bisa masuk istana negara.
Terakhir, adalah Idealisme Kami. Idealisme kami menjadi semangat bagi orang yang membacanya. Ketika sedang futur, dengan mengingat-ingat idealisme kami jiwa menjadi tergugah.
Keempat hal itu menjadi alasan bagi PPSDMS untuk terus maju dan berkembang. Dilaunching pada tanggal 3 Agustus 2002, tahun ini sudah 1 dasawarsa PPSDMS berkiprah. Saat pertama kali dilaunching PPSDMS hanya memiliki 1 regional putra (UI) dengan peserta 20 orang, saat ini telah ada 5 regional putra dan 2 regional putri dengan jumlah peserta 220 orang. Sebuah perkembangan yang begitu pesat.
Untuk menghandel institusi besar ini, PPSDMS mensinergikan 3 (tiga) bidang: (1) Bid. Program; (2) Bid. Kemitraan; dan (3) Bid. Alumni. Bid. Program menjadi core bussiness PPSDMS. Bid. Alumni menjadi tonggak mobilitas vertikal para alumni untuk menduduki jabatan-jabatan strategis. Sedagkan Bid. Kemitraan adalah bidang yang menjadi ujung tombak networking dan financial gathering. Ketiga bidang inilah yang menjadi pilar perkembangan PPSDMS hingga bisa menjadi sebesar ini.
Menikah dengan PPSDMS
Ada istilah menarik yang dicetuskan oleh salah seorang alumni PPSDMS, yakni istilah “Menikah dengan PPSDMS”. Terdapat 4 (empat) penjabaran terkait hal itu, yaitu: (1) Berkumpul; (2) Bergabung; (3) Menggulung; dan (4) Menindih.
Berkumpul berarti asrama PPSDMS menjadi tempat berkumpulnya bermacam potensi dan kekuatan. Terutama potensi milik para pesertanya. Bergabung artinya adalah ikatan emosional peserta dengan institusi. Tidak hanya selama masa pembinaan saja, tetapi juga setelah menjadi alumni. Menggulung dalam arti memahami segala dinamikan di dalam asrama serta mau berkorban untuk terus melakukan perbaikan. Dan menindih adalah rasa bersalah dan tertekan ketika tidak menjadi peserta PPSDMS yang tidak memegang teguh idelisme.
Kata Bang Adji, “Filosofi menikah itulah yang akhirnya memunculkan komitmen untuk menyuguhkan yang terbaik bagi institusi. Baik dari pengurus maupun peserta. Kami berkejaran untuk menikah!”
Dengan filosofi itu diharapkan peserta PPSDMS memiliki 4 (empat) jati diri: (1) Aktivis Islam; (2) Aktivis Pergerakan; (3) Mahasiswa Berprestasi; dan (4) Menjunjung kebersamaan dan kekeluargaan.
Untuk mencapai 4 jati diri itu, pengurus telah merancang standar manajemen asrama, beserta fasilitas dan program pembinannya. Diharapkan asrama PPSDMS menjadi rumah yang nyaman bagi peserta. Hal yang bisa didapatkan adalah religious activity, social politic engagement, academic excellent, scientific discourse, dan professional syndicate.
Pesan Bang Adji tentang peran stratgis angkatan VI, “Angkatan VI, melompatlah lebih tinggi!” Itu semua demi terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat!
Wallahua’lam bishshawab.. []gea

Peserta PPSDMS yang Kompetitif dan Berintegritas

Materi oleh. Laksda. TNI (Purn.) Husein Ibrahim, MBA (Dewan Penyantun PPSDMS) 
Ringkasan oleh. Gading Ekapuja Aurizki (NIP 0604756)
PPSDMS dibentuk untuk mencetak generasi pemimpin masa depan (future leaders). Diharapkan para peserta memiliki dua hal: (1) Dasar ke-Islam-an yang kuat; dan (2) Kedisiplinan tinggi. Apa yang dibangun di PPSDMS ini sama seperti yang pernah diterapkan di SMA Taruna Nusantara, Magelang.
Diharapkan PPSDMS menjadi seperti Jami’atul Khair , sebuah organisasi Islam pada era 1901 yang kepemilikan jiwa Islam dan jiwa kebangsaan sekaligus.
Sebuah kisah inspiratif dari Laksda TNI (Purn.) Husein Ibrahim, MBA. Beliau lahir tahun 1942, pada usia 3 tahun (tahun 1945) ayahnya meninggal dan diasuh oleh ibu beliau saja. ibu beliau adalah orang yang buta aksara dan –bisa dikatakan- melarat. Namun itu tak membuat Husein Ibrahim patah arang. Pada tahun 1948, saat usia beliau menginjak 6 tahun, beliau membantu keluarga membuat kecap, sebuah usaha dari orang tua beliau.
Tahun 1966, beliau lulus akademi Angkatan Laut. Setelah lulus beliau langsung ditugaskan di satuan kapal cepat Torpedo (satuan Jibaku) Skuadron 6 yang berdinas di Semarang. Salah satu prinsip yang beliau pegang ketika menjadi Angkatan Laut adalah integritas dan menjadi diri sendiri. Beliau tidak mau “takluk” begitu saja kepada para senior. Bahkan setiap kali ada pertemuan para Perwira beliau selalu memberikan gagasan-gagasan. Pernah suatu kali beliau ditegur oleh senior beliau agar jangan terlalu banyak bicara, beliau langsung lapor ke komandan dan bertanya, “Apakah Bapak menyukai cara saya?” Komandannya berkata suka.
Keteguhan itulah yang membuat karir beliau melesat. Satu pelajaran yang bisa diambil adalah kita harus memegang teguh kebenaran yang kita yakini. Memang, seringkali orang tidak suka. Namun, ketidaksukaan orang lain terhadap diri kita tidak menunjukkan buruknya pribadi kita.
Dari perspektif beliau, seorang peserta PPSDMS harus memiliki 3 (tiga) hal: (1) Kejujuran; (2) Tanggung Jawab; dan (3) Kehendak ingin berbuat.
Dengan memiliki pemimpin-pemimpin masa depan yang kompetitif dan berintegritas, Indonesia pasti bisa bangkit mengungguli bangsa-bangsa lain. Sebenarnya, Indonesia kini tengah dikepung oleh Barat. Barat tidak menginginkan Indonesia bangkit, karena jika bangkit Indonesia bisa mengancam eksistensi mereka. Hal itu dikarenakan Indonesia memiliki dua hal: (1) Potensi Aqidah Islam; dan (2) Kekayaan alam yang melimpah ruah.
Tidak ada negara yang bisa mengalahkan Indonesia dalam dua hal itu. Untuk itulah PPSDMS ada untuk mencetak pemimpin masa depan yang bisa memanfaatkan segenap potensi tersebut. Itu semua demi terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Sebuah tips penutup dari beliau:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (TQS Al-Ankabuut: 69)
Wallahua’lam bishshawab.. []gea

Peran Media dalam Pembentukan Kepemimpinan Muda

Materi oleh. Ir. Tifatul Sembiring (Menkominfo RI 2009-sekarang)
Ringkasan oleh. Gading Ekapuja Aurizki (NIP 0604756)
Ada 4 (empat) hal yang harus dimiliki seorang leader: (1) Moral; (2) Visi; (3) Kompetensi; dan (4) Komunikasi.
Seorang pemimpin harus memiliki moral karena pemimpin diharapkan teguh karakternya. Gagal berkarakter seorang berarti seorang pemimpin gagal hidup. Seorang pemimpin juga harus menjadi tauladan bagi anak buahnya. Untuk itulah seorang pemimpin harus bermoral.
Yang kedua, pemimpin itu harus memiliki visi. Visi ini yang membedakan pemimpin dengan pengikut. Boleh saja seorang pengikut menjadi follower, tapi jangan sampai pemimpin yang seperti itu. Agar seorang pemimpin memiliki pengikut adalah ia harus memiliki filosofi tentang kepemimpinannya. No philosopy no follower.
Ketiga adalah kompetensi. Setelah memiliki visi, pemimpin harus bisa mengimplementasikan visinya itu. Jangan sampai ia membuat bingung para pengikutnya karena ia tidak bisa mengimplementasikan visinya itu karena tidak punya kompetensi.
Yang terakhir, yang akan kita bahas lebih lanjut adalah komunikasi. Tanpa komunikasi seorang pemimpin hanya akan menjadi pemimpin di puncak menara gading. Ia tidak bisa menyampaikan apa keinginannya kepada anak buahnya.
Hal paling mudah melihat kemampuan komunikasi seorang pemimpin adalah saat ia berpidato. Menurut seobahwarang pakar komunikasi Barat, ada sebuah konsep berpidato yang ia namakan POWER. POWER adakah kepanjangan dari: Punch, On Theme, Window, Ear, dan Resume.
Punch, maksudnya adalah di awal pidato seorang pemimpin harus mampu memberikan sebuah kesan bahwa pidatonya itu layak di dengarkan. Hendaknya punch ini diberikan sebelum 8 detik pertama. Bentuk punch bisa macam-macam, contohnya puisi, kutipan, proyeksi, pantun, humor, dll. pemimpin yang tidak mampu memberikan punch bisa ditinggal pendengarnya karena tidak fokus.
On theme, dalam berpidato hendaknya seseorang memilih satu fokus tema. Tujuannya agar ada arah pidato. Jangan sampai pendengar diputar-putarkan sehingga bingung ketika mendengar pidatonya.
Window. Maksud window adalah ilustrasi. Hal ini dimaksudkan agar tidak pendengar tidak bosan. Pidato yang hanya mengandalkan data dan kata, akan membosankan ketika di dengar, untuk itu seorang pemimpin perlu memberikan ilustrasi-ilustrasi yang berkaitan dengan isi pidatonya.
Ear, maksudnya ketika berpidato hendaknya diperhatikan “telinga” pendengar. Berpidato harus sesuai dengan kemampuan sang pendengar, atau dalam Islam dikenal “berbicara dengan bahasa kaumnya”. Jangan sampai terjadi roaming (tidak nyambung) ketika berpidato.
Yang terakhir, resume. Jangan lupa memberikan kesimpulan. Tujuannya agar di akhir, pendengar memahami keseluruhan isi dari pidato. Dalam berpidato hendaknya jangan terlalu lama, maksimal 18 menit. Menghindari terjadinya kebosanan.
Selain pidato, juga perlu diperhatikan penggunaan media. Ada 3 (tiga) tipe media: (1) media oral; (2) media cetak; dan (3) media elektronik.
Media oral adalah media dari mulut ke mulut. Berita yang menarik ketika tersebar melalui media akan sampai ke seluruh dunia dalam waktu kurang lebih 100 tahun. Media cetak seperti buku, koran, selebaran, dsb. Akan tersebar ke seluruh dunia dalam jangka waktu 25 tahun. Yang paling ampuh adalah media elektronik. Ia bisa menyebarkan sebuah berita ke seluruh dunia dalam detik itu juga.
Dengan karakteristik media yang seperti itu seorang pemimpin wajib mempertimbangkan penggunaan media. Kita bisa melihat sekarang, untuk meneguhkan eksistensi politik, industri media mulai banyak dilirik. Kepemilikan media elektronik bisa menjadi kekuatan politik yang hebat. Untuk itu sebagai calon pemimpin masa depan kita harus bisa memanfaatkan media sebagai sarana pembelajaran. Tetapi jangan menggunakan media sebagai sarana pencitraan saja, melainkan juga untuk menyebarluaskan kebaikan-kebaikan kepada rakyat. Semua itu demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Wallahua’lam bishshawab.. []gea

Perbankan Syari’ah - Harapan Kemajuan Ekonomi Indonesia

Materi oleh. Bambang Sutrisno (GM SDM BNI Syari’ah) 
Ringkasan oleh. Gading Ekapuja Aurizki (NIP 0604756)
Kian hari ekonomi kapitalistik mulai mendekati keruntuhannya. Krisis yang terjadi di Amerika dan Eropa adalah salah satu tanda-tandanya. Keruntuhan itu tidak lepas dari prinsip ekonomi kapitalistik yang memisahkan antara sektor riil dan sektor moneter (decaoupling). Banyak investasi, uang “imajiner” terus berputar, tetapi pembangunan tidak berimbang dengan keduanya. Pada 2007, transaksi sektor maya mencapai 95% dari total perdagangan dunia. Sedangkan, transaksi di sektor riil berupa perdagangan barang dan jasa kurang dari 5%. Volume transaksi maya yang terjadi di pasar uang dunia mencapai US$ 1,5 triliun/hari, sementara perdagangan barang dan komoditas hanya sebesar US$ 6 triliun/tahun (IMF and World Bank, 2008). Selain itu di dalam ekonomi kapital terdapat praktik-praktik immoral seperti riba’, gharar, dan maishir.
Bersamaan dengan momentum tersebut, ekonomi Islam perlahan bangkit. Banyak pakar mengakui bobroknya sistem ekonomi kapital, dan juga keunggulan ekonomi Islam. Hal itu didorong dari kebutuhan dunia akan ekonomi yang tidak hanya berbasis pada finansial, melainkan juga berlandaskan moral dan kesejahteraan rakyat. Dan ekonomi Islam lah yang memiliki keduanya. Kini, tinggal pembuktiannya!
Saat ini, nasabah dari bank syari’ah masih sangat sedikit dibandingkan nasabah bank konvensional. Tercatat aset dari bank syari’ah hanya mencapai 3,98%. Jauh di bawah bank konvensional yang asetnya berada di angka 96,02%. Meskipun begitu, dari tahun ke tahun jumlahnya bertambah. Ini menandakan bahwa masyarakat mulai percaya (trust) kepada model dan sistem bank syari’ah yang notabene adalah ujung tombak dari ekonomi Islam.
Banyak keuntungan dari menjamurnya bank syari’ah. Selain membuat umat muslim bisa dengan nyaman berekonomi dan ber-Islam secara kaaffah, munculnya bank syari’ah juga memicu berdirinya institusi-institusi syari’ah lainnya. Yang pasti bank syari’ah menjami keadilan dalam setiap transaksinya.
Banyak peluang didapatkan ketika kita menjalankan perbankan syari’ah, antara lain: (1) potensi pasar yang masih luas; (2) peningkatan dukungan pemerintah secara perlahan; (3) pertumbuhan tahunan yang tinggi; dan lain sebagainya. Sedangkan tantangannya antara lain: (1) bagaimana perbankan syari’ah bisa menjadi selevel dengan perbankan konvensional; (2) karena tergolong baru, diperlukan inovasi-inovasi produk, khususnya segmen korporasi dan layanan transaksional; dan lain sebagainya.
Kemajuan perbankan syariah tidak hanya untuk umat Islam saja. Melainkan untuk mensejahterakan masyarakat secara umum. Untuk mencapai itu, diperlukan dukungan dari semua pihak, mulai dari pemerintah secara umum, pemegang otoritas perbankan di Indonesia –Gubernur Bank Indonesia-, beberapa kepala departemen yang berkaitan dengan keuangan, staf institusi, sampai nasabah yang memberikan kepercayaan kepada perbankan syari’ah.
Usaha memajukan perbankan syari’ah dan ekonomi Islam ini tidak lain adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan demi terbentuknya Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Wallahua’lam bishshawab.. []gea