Showing posts with label KAMMI. Show all posts
Showing posts with label KAMMI. Show all posts

Thursday, April 11, 2013

Catatan Ketumsat: Saatnya Kita Terbang

Oleh Gading Ekapuja Aurizki

Apa yang terjadi di bulan April tahun 2013, khususnya pekan pertama dan kedua adalah waktu yang harus dicatat dan diingat oleh setiap kader KAMMI Airlangga. Ada apa gerangan? Adakah hal yang istimewa? Memang, tidak semua orang bisa merasakannya. Tapi saya sebagai pejabat Ketua Komisariat bisa merasakan energi kebangkitan itu langsung. Tahukah antum, jika dalam waktu kurang dari sepuluh hari Komisariat KAMMI Airlangga telah mengadakan enam kali forum!

Yang pertama adalah Forum AB2 Airlangga yang diselenggarakan pada tanggal 4 April di Lantai 2 Masjid Al-Jihad, dihadiri oleh 15 orang AB2. Kedua, ada Training Dasar Organisasi (TDO) tanggal 6 April yang dihadiri oleh 28 orang. Ketiga, Diskusi Kultural dari Departemen Kastrat dengan peserta tak kurang dari 10 orang. Yang keempat dan kelima adalah Madrasah KAMMI 1 Klasikal yang diselenggarakan serangkaian pada tanggal 10-11 April. Tanggal 10 April MK1 Kampus B, yang bertempat di depan Gedung Magister Manajemen Unair dihadiri oleh 11 orang. Tanggal 11 April-nya, giliran MK1 Kampus C yang bertempat di lorong Student Center Unair lantai 3 dihadiri 13 orang. Dan besok, masih ada forum lagi atas inisiasi Kader-kader FPK dengan target kehadiran 15 orang peserta.

Artinya apa? Tren pergerakan kita mulai naik. Energi pergerakan ini lambat laun mulai menyala kembali setelah sekian lama meredup. Jumlah di atas mungkin baru bisa menggambarkan kuantitas gerakan, belum berbicara kualitas. Namun, kita harus bersyukur bahwa ada perubahan yang telah kita buat. Sepanjang pengalaman saya di komisariat, belum pernah forum sebanyak ini dalam jangka waktu yang sama. Sebelum ini, paling banter forum itu ya seminggu sekali, bahkan kadang ada yang sebulan sekali. Namun dua pekan ini saja sudah enam kali! Pekerjaan rumah kita adalah bagaimana mempertahankan ritme kerja ini sehingga bisa terus konsisten.

Konsistensi sangat penting mengingat organisasi kita bukanlah organisasi yang sifatnya sporadis atau spontan. Gerakan kita adalah gerakan yang terorganisasi dengan baik untuk mencapai visi melahirkan kader pemimpin dan membuat bangsa dan negara Indonesia yang Islami. Jangan sampai tren baik organisasi ini menurun hanya karena kita merasa puas dan cukup dengan capaian yang ada. Kita harus bisa mengalahkan capaian yang kita buat sendiri. Kalau perlu, jika dua pekan ini enam forum dalam sepuluh hari, ke depan kita bisa satu forum dalam satu hari. Aamiin! Kalau tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi?! Sekarang, saatnya kita terbang!!
 
Di akhir catatan ini saya ingin menyampaikan permohonan maaf. Pertama kepada pihak-pihak yang telah saya repotkan akhir-akhir ini. Semoga antum bisa bersabar dengan SMS saya yang meminta ini dan itu. Kedua kepada pihak-pihak yang merasa saya abaikan atau tidak terurus beberapa waktu terakhir ini. Sungguh, tidak ada niat untuk menelantarkan, kecuali bagian dari keterbatasan.

Selanjutnya, saya ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya untuk yang sudah ikhlas mem-back up agenda komisariat, untuk Pengurus Komisariat KAMMI Airlangga, untuk AB2 Airlangga, dan untuk KAMMI Daerah Surabaya atas segala bantuan tenaga, pemikiran, dan doa. Semoga Allah mengganti jasa antum dengan sesuatu yang lebih baik. Dan tentu saja terima kasih saya sampaikan kepada kader-kader KAMMI Airlangga atas partisipasinya dalam agenda, atas semangatnya, atas konfirmasinya, dan atas saran-saran yang telah antum berikan. Saya berdoa agar antum dapat menjadi kader yang memiliki kualitas dan integritas, yang nantinya da[at berguna bagi agama, bangsa, dan almamater.

Terakhir, marilah kita berdoa kepada Allah swt. agar kita diberi keistiqomahan dalam mengelola gerakan ini: "Segala puji syukur kami panjatkan pada-Mu, yaa Allah! Berikanlah kami kekuatan untuk mengelola gerakan ini dengan segala keterbatasan yang kami miliki."

Sunday, March 3, 2013

Kebangkitan Intelektualitas Kader KAMMI

Dalam sarasehan Sosmas KAMMI di Surabaya awal Februari kemarin, saya bertanya kepada Pak Yusuf Maulana, "Bagaimana cara menciptakan iklim intelektualitas kader KAMMI?" Jawaban beliau insyaAllah terwakili dengan 3 poin ini:
  1. Bidik orang2 yang potensial.
  2. Dorong orang2 tersebut untuk mencari kompetensi professionalnya.
  3. Buat lokus2 diskusi untuk mengasah intelektualitas mereka.
Beberapa pekan setelah itu, sudah muncul diskusi kultural yang dimotori Ahmad Jilul Qur'ani Farid. Alhamdulillah, saya bersyukur. Ya, meskipun belum terasa gaungnya, tetapi asal jalan itu sudah bagus. Asal konsisten, dan menjaga etika diskusi, objektif, intelektual. Karena intelektualitas tidak hanya diukur dari apa yang dikeluarkan saja, tetapi yang terpenting adalah prosesnya. Nah, barusan dapat info kalau ada gerakan baru, namanya KAMMI Ideologis dari kader yang baru DM 2 kemarin. Saya doakan semoga bisa berjalan dengan baik.

Ini adalah tanda bahwa KAMMI sedang bangkit bergerak. Jika dulu ada tembok yang menghalangi KAMMI untuk tumbuh besar, saat ini KAMMI sedang menyusuri celah2 kecil untuk bisa keluar dari tembok besar itu.
 
Saya juga bersyukur, sekitar delapan orang AB 2 baru lahir dari DM 2 Surabaya kemarin. Setelah ini akan ada beberapa yang ikut DM 2 Malang. Ini adalah investasi KAMMI untuk Indonesia.

KAMMI terus bekerja, KAMMI tetap solid!
Bismillah, semoga Allah memudahkan...

"Aku tidak akan bangga dengan keberhasilan yang tidak aku rencanakan. Aku akan tetap bangga dengan kegagalan yang aku rencanakan." (Umar bin Khattab ra.)

Monday, February 25, 2013

Dakwah Kampus

Kembali mengingat mihwar dakwah yang empat: tandzimi, sya'bi, muassasi, dan dauli. Kita hentikan perdebatan tentang berada di mihwar mana perjuangan kita saat ini dalam konteks makro (negara/Indonesia). Sejenak mihwar yang empat itu kita letakkan dalam konteks kampus yang kecil, kemudian tanyakan, sudah sampai di mihwar mana kita?

Sudahkah kita sampai pada mihwar dauli, ketika sektor pengambil kebijakan kampus (dekanat atau rektorat) "kita" kuasai? Kalau belum, mungkin kita sampai di mihwar muassasi. Itu berarti lembaga-lembaga mahasiswa, UKM, BSO, BEM dan BLM sudah kita kelola.

Oo, ternyata belum semua terpegang. Hanya satu dua lembaga saja, sehingga belum layak dikatakan kita sampai pada mihwar muassasi. Jika begitu, mungkin kah kita berada di mihwar sya'bi?

Ketika itu pergerakan kita sudah dikenal publik. Kalau ada mahasiswa yang meraih prestasi, publik langsung menyorot kita, oh itu anak KAMMI, anak LDK. Atau ketika nama kita disebut di Giras, para mahasiswa yang nyangkruk di sana langsung tahu, "Oh, Gading si anak KAMMI itu ya?" Pun ketika di Perpus, "Oh, saya sering ngobrol sama Gading di sini."

Lalu, bagaimana kalau itu juga belum? Pastinya kita berada di mihwar tandzimi. Ketika kita masih mencoba merapikan barisan kita, membenahi sistem di internal kita, dengan susah payah mengangkat citra organisasi yang kita kelola, dan yang terpenting mencoba memperbanyak lingkaran-lingkaran pekanan kita.

Yang terpenting, bukan berada di mana kita, tapi apa yang bisa kita lakukan untuk menapaki setiap mihwar tersebut dengan tangan kita sendiri. "Mari kita tulis lagi sejarah, jangan titipkan reformasi pada siapa pun!" (Fahri Hamzah)

Selamat sore!

Saturday, February 16, 2013

Belajar untuk Kota Surabaya

Alhamdulillah, bersyukur dari Sekolah Peradaban Kammi Daerah Surabaya bisa pulang membawa ilmu. Sesi pertama ada materi tentang advokasi dari Bu Reni Astuti, anggota legislatif DPRD Surabaya. Lalu di sesi kedua ada "debat" dua kubu pro-kontra dengan keberadaan pasar modern yang membuat pasar tradisional dan toko kelontong kehilangan pasarnya.

Dari forum tadi saya baru menyadari bahwa modernisasi membawa dampak yang begitu besar bagi kehidupan sosial masyarakat. Modernisasi memang menjanjikan efisiensi, dengan produktifitas tinggi. Namun perubahan menuju modernisasi juga banyak memakan korban, khususnya bagi penyedia jasa.

Hal ini bisa ditinjau dari perbedaan alur pendistribusian barang pasar modern dengan toko kelontong. Semakin pendek pintu yang harus dilewati sebuah produk dari produsen ke konsumen, maka akan semakin sedikit tenaga kerja yang terlibat. Dampaknya, akan banyak orang kehilangan pekerjaannya. Dulu sebelum adanya Handphone, kita pergi ke wartel jika perlu menelpon seseorang. Tapi setelah adanya HP, wartel2 gulung tikar.

Kemajuan teknologi memang mensyaratkan penggantian tenaga manusia dengan tenaga mesin. Hal itulah yang mengakibatkan munculnya pengangguran. Kita lihat bisnis jasa yang saat ini eksis, misal fotocopy-an, di tengah derasnya serbuan teknologi printer yang sekaligus bisa digunakan untuk fotocopy, berapa lama ia akan bertahan? Begitu pun dengan warnet dan tenaga jasa lainnya.

Yang perlu kita sadari adalah bahwa apa yang terjadi hari ini tidak terjadi begitu saja. Selalu ada proses yang membuatnya menjadi seperti itu. Kita hidup dengan mencatatkan sejarah yang akan dibaca oleh anak cucu kita kelak. Maka dari itu hiduplah dengan akal sehat (common sense) dan kesadaran (conciousness), agar kita tidak semakin memperparah kerusakan di dunia ini.

Sekian!

Ditulis dalam sekali duduk,
Jum'at, 15 Februari 2013

Gading Ekapuja Aurizki

Friday, February 15, 2013

OPINI: Jalan Menuju Intelektual Profetik

Oleh Gading Ekapuja Aurizki

"Jadi pemimpin itu harus cerdas dan bernyali." Kalimat yang sering diucapkan oleh masbro Arif Syaifurrisal itu terus terngiang di telinga saya. Memang benar, seorang pemimpin harus memiliki keduanya. Pemimpin yang hanya cerdas, namun tak mampu mengeksekusi suatu konsep yang ia susun takkan bisa membuat perubahan apa2. Sebaliknya, kalau pemimpin hanya punya nyali namun tidak punya narasi yang jelas, akan banyak membuat blunder yang justru merugikan organisasinya. Lalu apa hubungannya dengan intelektual profetik?

Semuanya berawal dari wacana yang diberikan Pak Yusuf Maulana di Sarasehan Sosmas KAMMI awal bulan Februari lalu. Saat itu beliau membandingkan praktik berorganisasi yang dipraktikkan oleh beliau dan beberapa orang kader senior KAMMI UIN Sunan Kalijaga yang selalu mengedepankan filosofi, teori, dan konsep. Setelah semuanya disepakati barulah kemudian bertindak. Model berorganisasi ini berbeda dari kebanyakan kita yang biasanya langsung menginjak ke teknis. Model yang dipraktikan pak Yusuf dkk ini saya sebut model teoritis, sedangkan yang banyak kita praktikkan kita sebut model empiris.

Keunggulan model teoritis adalah ketika kita mampu menemukan sebuah konsepsi yang tepat, benar, dan kokoh, hal itu akan membuat gerak semakin lancar. Konsepsi2 ini secara tak sadar ia akan menuntun laku dari orang2 yang ada di suatu organisasi dan menanamkan sebuah keyakinan bahwa konsepsi2 itulah yang harus dijalankan/dicapai. Jika dijalankan dengan benar, orang yang memahami konsepsi2 tersebut takkan kehilangan orientasi dan akan lebih cepat tiba di tempat yang dituju. Namun kelemahan dari model ini adalah "syahwat" berpikir yang terkadang berlebihan sehingga menggeser semangat untuk berbuat. Banyak orang yang mengambil model ini terjebak pada diskusi tanpa ujung, yang justru membuat dirinya tak beranjak dari tempatnya memulai. Mereka merasa hanya dengan berpikir semua masalah akan selesai, padahal hal itu tidak mungkin terjadi.

Kebalikannya, model empiris jauh lebih banyak menguras tenaga dan pikiran. Hal itu disebabkan karena model ini lebih mengutamakan pengalaman (experience) dan menggunakan metode coba-coba (experimental). Trial and Error pun tak pelak menjadi makanan sehari2. Gak cocok buang, cocok gunakan. Tentu jika menggunakan model ini akan memakan waktu yang panjang, dan biasanya tidak responsif terhadap perubahan. Karena setiap ada perubahan kondisi eksternal, internal organisasi harus melakukan eksperimen/trial and error lagi untuk menyesuaikan kondisi eksternal. Hanya saja dari sisi positif, model empiris ini akan membiasakan seseorang untuk terus bekerja dan nantinya akan membentuk kekuatan yang -dalam bahasa Rhenald Kasali dalam buku MYELIN- disebut intangibles. Thomas Alva Edison menjadi ilmuwan besar juga karena model seperti ini.

Lalu model manakah yang seharusnya kita pakai? Dr. Arief Munandar pernah menjelaskan bahwa pemimpin transformatif itu adalah mereka yang memiliki kemampuan teortis unggul, sekaligus matang dari sisi empiris. Kesimpulannya, secara ideal kita harus seimbang di antara keduanya. Itu berarti bagi yang selama ini masih berhenti pada ranah diskursif, lebih baik segera mencari wadah untuk mewujudkan konsepsi2nya. Sedangkan yang lebih banyak bejibaku dengan pengalaman, harus mulai menggali konsep dari segala hal yang telah dan akan dilakukan.

Dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul "Disorientasi dan Pemecahannya", saya menghimbau kader KAMMI untuk lebih mengenali KAMMI. Di sana saya menyampaikan bahwa barangkali permasalahan yang saat ini banyak mendera kita disebabkan diri kita tidak mengenal organisasi yang kita ikuti ini. Mengacu pada metode berfilsafat, sebelum masuk ke ranah aksiologis (untuk apa -saya berada di KAMMI-) dan epistemologis (bagaimana -mengelola KAMMI-), harus selesai dulu dengan ontologisnya (apa -itu KAMMI-).

Mengenal KAMMI adalah salah satu bentuk penguasaan teoritis, bahwa KAMMI memiliki profil seperti ini dan itu. Urusan kader yang aktif sedikit, program tidak jalan, dsb itu urusan lain. Intinya segala permasalahan teknis yang ada di tubuh organisasi tak boleh mereduksi pemahaman kita tentang bagaimana kondisi ideal organisasi. Caranya adalah terus membaca setiap fenomena baik tekstual maupun kontekstual, mengkaji setiap permasalahan, mengkritisi kelengahan dan kelemahan, mengkonsep sesuatu yang ideal, memperjuangkan jika menemukan kebenaran, dst.

Mumpung masih awal tahun, dan masih ada sisa kepengurusan, jangan bosan2 untuk menggali lebih dalam..lebih dalam..dan lebih dalam apa itu KAMMI. Dimulai dari AD/ART dan filosofi gerakan. Kebetulan pagi ini saya akan mengisi Suplemen MK 1, kita tunggu gimana hasilnya.

15 Februari 2013
Jum'at dini hari
Gading Ekapuja Aurizki
 
Komentar dapat dilihat di sini

Thursday, February 14, 2013

Konsolidasi Pertama #MuktamarKAMMI

Sore tadi, sekitar 35 orang kader KAMMI mengadakan konsolidasi di Lt. 2 Masjid Nurul Huda, Jojoran Surabaya. Forum yang cukup sederhana. Tidak ada suguhan apapun selain segelas air mineral. Meskipun di bawah agak berisik karena ada adik2 TPA, forum tetap berlangsung tertib. Para kader mendengarkan satu persatu pemaparan hasil RAPIMNAS dari Ketumda. Pada poin terakhir disampaikan bahwa SURABAYA akan menjadi tuan rumah MUKTAMAR VIII KAMMI pada bulan Mei nanti.

Ini bukan keputusan tergesa2, ini adalah cara untuk mengambil peluang. Percayakah jika ini adalah momentum untuk bangkit? Mengembalikan kejayaan Kammi Surabaya yang sempat meredup? Pedang telah dihunus, dan tak mungkin disarungkan kembali. Kalau perlu sarungnya dibuang, sehingga hanya ada satu pilihan: MAJU PERANG!

Tak peduli seberapa banyak amanah antum, tak peduli seberapa sibuk antum, tak peduli berapa IP terakhir antum, tak peduli berapa SKS yang akan antum ambil, tak peduli seberapa aktif antum di komisariat, jika antum merasa Kader KAMMI baik yg struktural maupun kultural, telah mengikuti minimal DM1, saatnya memberikan kontribusi terbaik! Kesempatan hanya datang sekali, dan takkan terulang kembali...

#RoadToMuktamarKAMMI
 
Baca komentar di sini 

Wednesday, February 13, 2013

Menggagas KAMMI (di) Surabaya

Di malam Kamis ini, izinkan saya untuk berbagi kegelisahan kepada kawan2 semua. Selama hampir 3 tahun di KAMMI, saya memandang bahwa ada tiga daerah yang menjadi basis KAMMI. Tanpa mengecilkan daerah2 lain, tiga daerah ini memang spesial dengan cirinya masing2.

Pertama, Yogyakarta, tempat dimana Haryo Setyoko, Sekjend KAMMI pertama ditempa. Dari sana pula lah filosofi gerakan KAMMI bermula. Ditambah dengan iklim pergerakan yang masih cukup dinamis, saya menyimpulkan bahwa Yogyakarta adalah basis pemikiran dan kajian strategis KAMMI.

Kedua, Jakarta, yang menjadi rumah bagi Fahri Hamzah, deklarator KAMMI plus Ketua KAMMI Pertama. Meskipun saat ini di UI tidak ada KAMMI -atau dalam jumlah kecil-, namun Jakarta dengan universitas2 yang lain menjadi tempat yang dekat dengan pusat kekuasaan. Jakarta kuat dalam hal jejaring.

Ketiga, Malang, tempat KAMMI dideklarasikan. Meskipun tidak termasuk kota besar, KAMMI memang tergolong istimewa. Menurut informasi yang saya peroleh, setiap DM 2 yang diadakan Malang pesertanya selalu mencapai 100 orang. Sangat banyak! Sehingga bisa dikatakan bahwa Malang adalah basis pengkaderan KAMMI.

Dengan saya menyebutkan tiga basis di atas tidak berarti saya ingin memecah2 KAMMI menjadi faksi2. Sama sekali tidak. Saya hanya mencoba mencari rolemodel yang tepat untuk KAMMI tempat saya saat ini bernaung, KAMMI Surabaya.

Tidak diragukan lagi, Surabaya adalah kota yang sangat strategis. Mendapat sebutan Kota Pahlawan, Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dan memiliki posisi yang sangat strategis. Bahkan kalau boleh dikatakan, dengan pertimbangan jarak dan jangkauan ke seluruh wilayah Indonesia, Surabaya lebih pantas menjadi ibukota karena terletak di tengah2 Nusantara.

Lalu apa hubungannya dengan KAMMI Surabaya? Mungkin banyak di antara kita tahu, KAMMI Surabaya beberapa tahun ini mengalami penurunan kontribusi. Mulai banyaknya permasalahan internal, hingga menurunnya jumlah kader. Nah, dengan kondisi tersebut tentu kontribusi KAMMI di Surabaya masih sangat jauh dari harapan. Meskipun saya juga tahu bahwa rekan2 PD KAMMI Surabaya sudah berjuang keras memaksimalkan segenap kekuatan yang dimiliki untuk mengoptimalkan kinerja KAMMI di Surabaya.

Sebagai kader, saya justru mengharap ke depan KAMMI Surabaya ini tidak hanya kembali sehat manajemennya. Namun juga memiliki karakter dan spesialisasi seperti tiga daerah yang saya sebutkan di muka. Apa yang spesial dari KAMMI Surabaya? Pengkaderan kah? Pemikiran kah? Jaringan kah? Atau paling mungkin Sosmas kah, jika mengacu departemen paling berkembang adalah LSO Lentera Harapan? Wallahua'lam..

Tetapi sebelum kita memutuskan akan seperti apa KAMMI Surabaya, kita perlu merumuskan karakter Kota Pahlawan yang tentu berbeda dengan kota2 lain. Ada beberapa fakta yang perlu kita ungkap. Saya akan mengungkapkan sedikit saja:

1. Surabaya adalah kota dengan APBD terbesar di Indonesia. Sebenarnya Jakarta lebih besar, tetapi karena Jakarta adalah provinsi, sehingga Surabaya menjadi kota dengan pendapatan terbesar di negeri ini.
2. Surabaya adalah kota industri yang besar. Hal itu akan membuat jumlah buruhnya juga cukup besar.
3. Surabaya adalah kota yang penduduknya paling aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan. Sehingga, orang Surabaya lebih banyak berada di luar rumah dibandingkan di dalam rumah, (kalau yang ini pendapat teman saya).
4. Surabaya memiliki basis pendukung fanatik Persebaya, yakni BONEK MANIA. Dan siapa yang dapat memegang suporter fanatik, dia memiliki pengaruh yang sangat besar.
5. dsb.

Dari beberapa informasi ini, adakah yang sudah terpikir ke mana sebaiknya KAMMI Surabaya menuju?

Jika belum, akan saya bagikan cerita yang saya dapat dua pekan lalu. Saya mendengar dari salah seorang ideolog KAMMI, Pak Yusuf Maulana, bahwa tempat penanamanan ideologi para aktivis buruh adalah di Yogyakarta. Setelah itu para aktivis buruh itu dikirim ke daerah2, utamanya Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya yang memiliki basis buruh yang cukup besar. Berbeda dengan Yogyakarta yang notabene bukan kota industri dan memiliki sedikit gerakan buruh, Surabaya memang kota industri yang jumlah buruhnya cukup besar. Sehingga tak heran kalau Yogyakarta hanya sekedar menjadi tempat ideologisasi, bukan tempat kontribusi.

Dari poin ini saya bisa menangkap bahwa Surabaya memang memiliki ciri khas. Kita tidak bisa menyamakannya dengan Jakarta, Yogya, Malang, atau kota2 lain. Sehingga, Surabaya membutuhkan gerakan yang memang khas untuk Surabaya. Apa itu? Itu PR untuk kita semua.

* * *

Menyoal tentang MUKTAMAR VIII KAMMI yang akan diselenggarakan di Surabaya tengah tahun nanti, awalnya saya cukup kaget. Dalam hati saya berkata, "Masalah internal belum selesai kok berani mengambil event besar?!" Ketika saya melontarkan isu ini ke beberapa orang kader di komisariat, kurang lebih tanggapannya sama.

Tetapi saya yakin, akh Decka selaku Ketumda tidak bertindak gegabah ketika mengambil amanah besar ini. Saya berhusnudzan beliau punya rencana yang kami di komisariat tidak mengetahui. Mungkin beliau ingin menjadikan momentum Muktamar ini untuk kembali mensolidkan kader2 Surabaya.

Jika selama ini "common enemy" yang dijadikan excuse/alasan atas lesunya gerakan mahasiswa, maka beliau menghadirkan "common enemy" itu dalam bentuk event besar yang perlu disukseskan. Kader KAMMI Surabaya harus menyambut seruan itu. Khususnya kepada kader2 saya di Komisariat KAMMI Airlangga.

* * *

NB: Di sini, saya memandang masalah KAMMI Surabaya (sengaja tidak menyebutnya PD KAMMI Surabaya) sebagai orang dalam sekaligus orang luar. Orang dalam sebagai kader yang aktif di PK KAMMI Airlangga, tetapi tidak aktif di PD KAMMI Surabaya. Sehingga jika mas Decka dkk tidak setuju dengan opini saya ini, silahkan. Saya terbuka jika rekan2 memberikan kritik terhadap apa yang saya tulis.

Surabaya, 13 Februari 2013

Wednesday, February 6, 2013

Disorientasi dan Pemecahannya

Oleh. Gading Ekapuja Aurizki

Berkiprah di KAMMI yang notabene organisasi ekstra kampus berbeda dengan berkiprah di LDK, BEM, atau organisasi-organisasi intra kampus lainnya. Seringkali perbedaan yang membuat kita mengalami disorientasi, "setelah di KAMMI saya harus berbuat apa?" Ini adalah masalah awal yang harus kita pecahkan.

Saya menyadari, saat ini kondisi komisariat kita belum stabil. Dengan berbagai masalah internal yang kita hadapi, belum jauh kita beranjak dari posisi awal kita memulai. Padahal saat ini sudah lebih dari setengah periode kepengurusan. Namun saya tidak menyebut KAMMI bermasalah. Mungkin kita sebagai pribadi yang mengemban amanah di KAMMI lah yang bermasalah. Terutama masalah seberapa kita mengenal organisasi bernama KAMMI itu.

Dengan banyaknya amanah yang kita emban, manhaj tugas baca (mantuba) yang berjudul-judul itu memang terasa sangat membebani. "Saya lho merasa belum diberdayakan, masih minim kontribusi, kenapa harus menambah beban pikiran dengan membaca filosofi gerakan dan mantuba?" Begitu yang kadang terlintas di benak kita.

Tetapi pernahkah kita mencoba berpikir sebaliknya? Jangan-jangan karena kita tidak memahami filosofi gerakan sehingga masalah-masalah itu muncul dan mengganggu kinerja kita di komisariat? Karena ada kaidah yang mengatakan 'ilmu qabla 'amal. Jika kita tidak memiliki ilmu tentang KAMMI, bagaimana kita bisa menjalankan organisasi bernama KAMMI tersebut?

Di dalam filsafat terdapat tiga lingkup kajian (ontologi, epistemologi, dan aksiologi), yang satu sama lain saling mempengaruhi. Jika ditarik dalam konteks KAMMI, saya dapat menyimpulkan bahwa sempitnya pengetahuan tentang apa itu KAMMI (ontologi), dapat mempengaruhi bagaimana seharusnya KAMMI itu dijalankan (epistemologi) dan untuk apa KAMMI itu ada (aksiologi). Sehingga wajar jika kita sering bingung "di KAMMI saya harus melakukan apa?". Itu karena kita belum selesai dengan pertanyaan "KAMMI itu apa?".

Untuk itu mulai saat ini, kader KAMMI harus belajar tentang apa itu KAMMI, mulai dari sejarahnya, AD/ART-nya, filosofinya, dan isu-isu teraktual di tubuh KAMMI. Semoga Allah swt. memudahkan. Hanya kepada-Nya lah kita menyembah, dan hanya kepada-Nya lah kita memohon pertolongan.

[]

Saturday, May 26, 2012

Wa’tashimuu bi-Hablillahi Jami’an wa Laa Tafarraquu


Oleh Gading Ekapuja Aurizki [1]

Sebagai negara yang menjunjung tinggi pluralitas, Indonesia pantas disebut sebagai pasar ideologi. Ideologi kiri mentok sampai kanan njedok bisa tumbuh di sini. Setiap ideologi memiliki kelompok-kelompok pengusung, dan setiap pengusung memiliki model perjuangan masing-masing.

Membahas Islam di Indonesia secara khusus, banyak organisasi yang menyebut Islam sebagai basis ideologi maupun kulturnya. Semuanya tidak berada dalam satu wadah, melainkan berbeda-beda. Ada NU, Muhammadiyah, Tarbiyah, Hizbut Tahrir, Salafy, Jamaah Tabligh, dan lain-lain. Namun semuanya masih dalam bingkai yang sama: Islam.

Anehnya, meski sama-sama Islam, antar golongan tersebut masih sulit untuk akur. Selalu saja ada perseteruan, baik dalam skala mikro (praksis lapangan) maupun makro (manhaj dan kebijakan). Dan yang paling disayangkan adalah, perseteruan mereka adalah dalam hal-hal yang sifatnya furu’ (cabang), terutama dalam masalah fiqh. Baik itu fiqh dalam hal ibadah, maupun dalam konsep kenegaraan. Juga dalam strategi dakwah.

Hal tersebut sungguh disayangkan, mengingat musuh dakwah semakin getol menebarkan “serangan” yang menyudutkan Islam. Selain itu, musuh dakwah juga semakin solid mengorganisasi gerakan mereka. Kita bisa melihat bagaimana para Evangelian dan Zionis bekerja sama dalam mengusung The New World Order meski mereka tak seagama. Sangat tepat Ali bin Abi Thalib ra. mengatakan bahwa kejahatan yang terorganisasi akan dapat mengalahkan kebaikan yang tidak terorganisir.

Disadari atau tidak perseteruan itu membuat negeri yang membuat negeri gemah ripah loh jinawi ini masih saja terpuruk. Energi yang seharusnya digunakan untuk membangun negeri habis hanya untuk berdebat dan berdiskusi. Lihatlah bagaimana kita masih dibuat repot oleh rencana kedatangan seorang Lady Gaga. Lihatlah ketika kawan-kawan kita yang notabene sama-sama muslim lebih memilih membela Lady Gaga dibandingkan mendengarkan nasihat bijak para ulama. Itu karena umat Islam tidak lagi memiliki kewibawaan di hadapan para penentang dakwah. Dan hilangnya kewibawaan itu –salah satunya- disebabkan lemahnya soliditas gerakan kita!

Apa yang membuat antara masyarakat NU dan Muhammadiyah sering terlibat konflik, dan apa pula yang menyebabkan kader Tarbiyah dan Hizbut Tahrir tidak bosan untuk terus berdebat? Selain itu apa yang menyebabkan orang-orang mencurigai dakwah salafy dan JT? Dan apa yang membuat semua harakah Islam tak bisa saling akur??

Yang pasti, bukan masalah aqidah. Karena kita sama-sama mengaku tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad saw. adalah rasul Allah. Meyakini secara lurus rukun iman pertama sampai keenam, dan mengamalkan rukun Islam satu sampai lima. Selama tidak kerasukan virus sepilis (sekularisme, pluralisme, dan liberalisme), saya yakin kita masih termasuk ahlus-sunnah wal-jama’ah.

Tetapi jika ternyata pertentangan itu masih terasa, mungkin saja aqidah kita yang bermasalah. Kita tak lagi merasa satu aqidah, oleh sebab menjadikan salah satu di antara manhaj perjuangan golongan sebagai unsur dari aqidah. Dari itu muncullah fenomena takfir (mengkafirkan orang lain). Padahal pada ayat-ayat awal QS Al-Baqarah sudah sangat jelas kalau ada tiga tipe manusia dilihat dari kacamata keimanan: muttaqin, kafirin, dan munafiqin. Kalau kafirin dan munafiqin saja bisa akur, namun kenapa golongan yang mengaku muttaqin harus terpecah belah?!

Atau jangan-jangan sebenarnya kita masuk golongan munafiqin? Yang ketika diberi peringatan agar jangan berbuat kerusakan justru merasa sedang mengadakan perbaikan [2]! Semoga kita tidak seperti itu.

Dalam QS Al-Baqarah 143, Allah swt. menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan –umat pertengahan-, yang oleh Sayyid Quthb di Tafsir Fii Zhilalil Qur’an mencakup makna wasath (baik), yang diambil dari kata wisaathah yang berarti bagus dan utama, maupun dari kata wasath yang berarti adil dan seimbang atau wasath dalam arti material indrawi.

Konsekuensi dari gelar ummatan wasathan adalah menjadi saksi atas perbuatan manusia, dan Rasulullah saw. menjadi saksi atasnya. Pengertian wasathan –pertengahan- di sini bukan sekedar moderat, melainkan menjadi standar global atas seluruh perbuatan manusia. Artinya, sebagai standar global, umat Islam harus mengetahui segala hal terkait dengan perbuatan manusia untuk nanti di-“laporkan” kepada yang mengangkatnya menjadi saksi, yakni Allah swt..

Namun yang perlu diingat, sebagaimana saksi pada umumnya, kita hanya memberikan laporan (report), bukan penilaian (judgment). Karena Allah Al-Hakim lah yang nanti akan memberi penilaian. Oleh karena itu dalam bermuamalah, semangat ummatan wasathan itu harus kita bawa. Kita tidak boleh sembarang men-judge sikap, pilihan, atau jalan seseorang sebelum terang benar-salah jalan yang mereka pilih. Apalagi jika itu sesama muslim, dan sama-sama sedang memperjuangkan dakwah.

Kalaupun sudah terang salahnya, kita juga tidak secara membabi buta dalam mengungkap kesalahan/aib mereka. Karena selain benar-salah, Islam juga mengajarkan untuk memperhatikan adab. Nabi Musa as. saja oleh Allah diperintahkan untuk bersikap lemah lembut kepada Fir’aun yang mengaku tuhan [3]. Kalau seperti itu, apakah kita berhak untuk mencaci saudara kita seiman lantaran perbedaan pandangan? Sepertinya kita perlu kembali pada prinsip “bekerja sama dalam hal yang disepakati dan toleransi dalam hal yang tidak disepakati (berbeda).”

Jujur saya merasa miris ketika melihat “pembantaian” lewat komentar-komentar di wall sebuah grup facebook oleh aktivis mahasiswa, terhadap syiar dakwah sebuah organisasi mahasiswa Islam di Unair. Jika itu dilakukan dengan cara yang santun dan intelek mungkin tidak masalah, tetapi justru itu dilakukan dengan tidak bersandar pada etika ilmiah dan adab berdiskusi. Semua orang menyerang organisasi tersebut lantaran tujuannya dianggap irasional dan dalam praktik pencapaian tujuannya dinilai inkonsisten.

Sebagai sama-sama aktivis dalam sebuah organisasi mahasiswa Islam, saya turut prihatin dengan kondisi tersebut. Kondisi di sana seakan menunjukkan bahwa aktivis mahasiswa sekarang mulai hilang adab sopan santunnya, tidak peduli mereka aktivis Islam atau bukan. Apalagi fenomena itu terjadi di dunia maya, yang secara psikologis memudahkan orang untuk menyampaikan pendapat tanpa khawatir adanya intimidasi secara langsung/fisik. Sosok dibalik komentar-komentar pedas itu merasa terlindungi oleh “layar kaca” yang membatasinya dengan orang lain. Tetapi mereka lupa, kalau cacian, cemoohan, dan gunjingan mereka di dunia maya tetap dicatat oleh malaikat dalam kitab amal perbuatan.

Mempertimbangkan beberapa hal di atas, dengan membawa semangat sebagai ummatan wasathan, kita seharusnya tidak terjebak dalam pusaran yang penuh syubhat dan mudharat. Untuk itu saya menghimbau kepada kader-kader KAMMI khususnya dan para aktivis mahasiswa umumnya untuk: (1) Menghindari perdebatan meskipun berada dalam pihak yang benar; (2) Lebih mengedepankan dialog dengan bingkai ukhuwah dalam sebuah forum silaturahim daripada debat dalam forum publik yang tak terkondisikan; dan (3) Tidak membuat forum-forum yang lebih banyak mudharat-nya dibandingkan mashlahat-nya, seperti berpotensi terjadi chaos dan debat kusir. Wallahua’lam bish-shawwab.


Surabaya, 26 Mei 2012


Catatan:
[1] Ketua Pengurus Komisariat KAMMI Airlangga 2012-2013
[2] Di dalam QS Al-Baqarah 11
[3] Di dalam QS Thaha 43-44

Sunday, May 20, 2012

Fisiologi Kebangkitan: Sebuah Rumusan Proses Menuju Kebangkitan


Oleh Gading Ekapuja Aurizki*

Pernahkah Anda berpikir bagaimana caranya bangkit dari duduk? Jika belum, cobalah praktikan sekarang juga, dan amati.

Dimulai ketika Anda menginginkan untuk berdiri [1]. Otak mengolah pesan tersebut, yang selanjutnya dihantarkan ke seluruh tubuh melalui saraf. Pesan itu merupakan arahan/perintah bagi seluruh organ agar sama-sama mempersiapkan diri untuk melakukan gerakan [2]. Berat tubuh yang semula bertumpu pada pantat dipindahkan ke kaki [3]. Setelah itu beberapa organ gerak berkoordinasi menghimpun kekuatan untuk mempersiapkan gerakan, terutama otot kaki yang menjadi tumpuan utama untuk bangkit [4]. Sehingga saat “hentakan” dilakukan, kaki bisa menahan tubuh tetap seimbang [5]. Saat itulah tubuh kita dikatakan BANGKIT dari duduk.

Dari fenomena ini saya bisa merumuskan beberapa step kebangkitan:

[1].    Inisiasi
[2].   Internalisasi-visi
[3].   Migrasi
[4].   Konsolidasi
[5].   Eksekusi

Mengacu pada fisiologi kebangkitan di atas, sebuah usaha bisa disebut kebangkitan ketika sudah memasuki tahap eksekusi. Ketika segalanya telah siap, dan tinggal menanti “hentakan” terakhir itulah yang dimaksud kebangkitan. Sedangkan proses-proses sebelumnya lebih cocok disebut persiapan menuju kebangkitan.

Namun yang sering kita jumpai selama ini, kebangkitan dianggap sebagai titik awal sebuah perubahan (insiasi). Hal itu membuat ada pihak yang “menjual” istilah kebangkitan –maupun bangkit- sebagai propaganda tanpa sebelumnya melakukan kerja nyata. Istilah kebangkitan hanya digunakan sebagai jargon-jargon kosong yang tidak ada progres ke depannya.

Pun dengan dipilihnya tanggal 20 Mei 1908 atau kelahiran Budi Utomo sebagai hari kebangkitan nasional –terlepas dari berbagai konflik dan kontroversi atas penisbatannya kepada mereka- adalah baru memasuki tahap inisiasi. Untuk alasan mengapa tanggal 20 Mei dipilih sebagai hari kebangkitan nasional, kita tidak perlu sibuk membahasnya karena bukan hal yang esensial. Yang pasti, inisiasi yang dilakukan oleh pendiri Budi Utomo berhasil menhantarkan bangsa Indonesia pada puncak eksekusi kebangkitan, yaitu Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945.

Inisiasi kebangkitan dimulai dari keresahan mendalam terhadap suatu kondisi masyarakat yang dinilai jauh dari nilai-nilai ideal. Sampai pada akhirnya ada beberapa orang yang berpikir tentang fenomena tersebut dan kemudian berniat untuk melakukan perbaikan. Jika dalam sirah nabawiyah, tahap ini merupakan tahapan ketika Rasulullah saw. berkhalwat di gua hira, menerima wahyu kenabian dan kerasulan, sampai dakwah secara sembunyi-sembunyi di kalangan terbatas.

Sedangkan tahapan internalisasi ini dimulai ketika ide-ide hasil inisiasi disebarluaskan kepada khalayak luas. Saya tidak menyebutnya sosialisasi karena sosialisasi hanyalah salah satu tahapan untuk internalisasi. Sebelum melakukan internalisasi-visi kepada para pendukung kebangkitan pastilah ada sosialisasinya. Hal ini saya temui ketika berkunjung ke Semarang beberapa minggu lalu. Dalam seminar bertajuk konsolidasi ke-Indonesia-an, Gerakan Beli Indonesia yang diinisiasi Pak Heppy Trenggono berusaha diinternalisasikan kepada peserta seminar. Gerakan seperti ini mulai banyak berkembang sekarang.

Tahap internalisasi visi ini juga dilalui oleh Rasulullah saw. yaitu ketika membina keimanan para sahabat pada periode Makkah selama 13 tahun. Saat itu belum turun ayat-ayat yang mengatur syariat. Wahyu yang turun pada periode Makkah lebih banyak berbicara tentang tauhid dan aqidah. Inilah yang dimaksud internalisasi-visi.

Tahap selanjutnya, yaitu migrasi, yang merupakan tahap pemindahan tumpuan. Bahasa populernya adalah hijrah. Jika dikaitkan dengan konteks sekarang mungkin adalah regenerasi kepemimpinan dari generasi tua ke generasi yang lebih muda. Saya sepakat dengan Taufik Kiemas yang menghimbau kepada tokoh-tokoh tua untuk tidak mencalonkan diri sebagai presiden. Tokoh tertua yang naik menjadi presiden adalah BJ Habibie. Beliau menggantikan Soeharto pada usia 62 tahun. Sedangkan presiden termuda adalah Ir. Soekarno, yang dilantik saat beliau masih berusia 44 tahun.

Setelah pemindahan tumpuan dilakukan, perlu adanya penguatan-penguatan. Pada tahap konsolidasi hal itu dilakukan. Kekuatan-kekuatan yang ada dikumpulkan untuk disinergikan visi-misinya. Beberapa sektor dikuatkan, disiplin dijalankan, dan beberapa aturan disepakati.

Setelah hijrah, Rasulullah saw. melakukan penguatan pilar-pilar kenegaraan. Beliau mendirikan masjid, mempersaudarakan antara Anshar dan Muhajirin, memperkuat angkatan perang, menjalin perjanjian dengan Yahudi dan Nashrani Madinah lewat Piagam Madinah, dan lain sebagainya. Pada fase inilah konsolidasi kebangkitan dilakukan.

Yang terakhir adalah tahapan eksekusi. Inilah wujud kebangkitan yang sesungguhnya. Fase ini sama dengan ketika seorang penembak menekan pelatuknya dan pemanah melepaskan anak panahnya. Jadi kebangkitan ibarat pukulan terakhir dari sekian proses yang telah dipersiapkan. Dari kacamata pergerakan, gerakan kebangkitan Islam dimulai setelah hijrah. Namun dari kacamata perkembangan Islam secara global, kebangkitan itu dimulai ketika kemenangan menaklukkan Makkah dalam peristiwa Fathu Makkah. Setelah itulah Islam berkembang pesat dan tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Lantas, di tahap yang mana Indonesia berada saat ini? Menurut saya pribadi, Indonesia masih di tahap internalisasi-visi. Itu dikarenakan kita masih sering kehilangan arah dalam menjalankan fungsi negara. Dasar-dasar negara mulai kembali dibedah, proses ideologisasi sedang diusahakan, sedangkan proses pergantian kepemimpinan belum dilakukan. Sehingga kesimpulannya, kita masih berada di tahap internalisasi-visi.

Kebangkitan Indonesia memang masih jauh dari angan. Namun itu bukanlah alasan bagi kita untuk menyerah. Jika kebangkitan itu masih jauh, maka tugas kita adalah berusaha mendekatinya sedekat mungkin. Sehingga generasi penerus kita kelak bisa meneruskan perjuangan kita mewujudkan kebangkitan Indonesia yang sebenar-benarnya. Bukan jargon omong kosong belaka. Semoga!


*Penulis adalah Ketua Pengurus Komisariat KAMMI Airlangga 2012-2013