Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Showing posts with label pendidikan. Show all posts
Sunday, April 21, 2013
Thursday, March 28, 2013
Sebelum Anda Belajar
Apa
sih yang terpenting sebelum kita menuntut ilmu? Setelah niat yang
ikhlas tentunya. Rasa-rasanya tidak ada yang lebih penting setelah itu
selain rasa ingin tahu yang besar akan ilmu yang dipelajari, atau bahasa
kerennya curiosity. Apa yang saya dapat di Dialog Tokoh Ppsdms
Regional IV dengan Prof. Dr. Ing. Ir. Herman Sasongko kemarin
menegaskan hal itu. Seharusnya anak SD itu sebelum dijejali pelajaran
yang "berat" ditumbuhkan rasa ingin tahunya lebih dahulu tentang alam
dan dunia di sekitar mereka. Bagaimana caranya? Pertama, tentu kurikulum
sekolah berperan penting di sini. Dikatakan Prof. Herman, kurikulum
yang ada saat ini orientasinya masih materialistis pragmatis. Anak
diajarkan sesuatu yang hanya bisa digunakan untuk menjawab soal-soal
ujian. Bukan dididik bagaimana cara mereka hidup dan peduli dengan
lingkungan sekitar. Kedua, guru yang berkualitas. Sebagai pendidik, guru
harus memiliki kualifikasi sebagai orang teladan. Teladan dalam hal
apa? Teladan untuk senantiasa mau mendengar, dan teladan yang
mengajarkan kesederhanaan.
Setelah mendapatkan banyak ilmu dari
Prof. Herman, saya langsung teringat kisah Totto-chan, di buku yang
saya pinjam dari Mas Yudha (dan belum saya kembalikan -afwan mas Yud).
Kebetulan dua bulan ini saya mencicil membaca pelan-pelan setiap kisah
pendek dari buku yang merupakan kisah nyata dari penulisnya, Tetsuko
Kuroyanagi, tersebut. Kesimpulan yang saya dapat setelah membaca
setengah cerita di Totto-chan, mungkin kisah Totto-chan bisa dijadikan
model pendidikan anak di Indonesia. Terlepas dari perbedaan kondisi yang
ada, buku ini menarik di baca bagi Anda yang konsen di dunia pendidikan
anak-anak.
* * *
Sebelum kuliah, apakah Anda penasaran dengan materi kuliah yang akan Anda ikuti? Kalau belum, percuma Anda pergi kuliah..
Selamat pagi! :)
Diskusi bisa di lihat di sini.
Friday, March 22, 2013
Pendidikan
Shalat Jum'at di Rektorat UA, yang ngisi Prof. Daniel M. Rosyid..
Temanya tentang urgensi keluarga dalam pendidikan..
Sekolah bisa jadi jebakan yang membuat banyak orang melupakan
pendidikan keluarga. Padahal sejatinya, pendidikan keluarga adalah yang
utama. Prof. Daniel mengibaratkan pendidikan di sekolah itu ibarat makan
siang, sedangkan pendidikan keluarga adalah sarapan. Jika sarapannya
bergizi dan berimbang, makan siangnya apapun tak perlu terlalu
dikhawatirkan. Tetapi banyak orang yg justru melupakan sarapan dan
langsung berpikir makan siang..
#RenunganSiang
Sunday, May 20, 2012
Bangunlah Jiwanya Bangunlah Badannya
Oleh
Gading Ekapuja Aurizki
Pemandangan berbeda saya temukan ketika
mengunjungi SMP 2 Madiun Sabtu siang kemarin (19/5). Terakhir mengunjungi
sekolah pertengahan tahun 2010 yang lalu, kondisi gedung sekolah tak jauh berbeda
dengan saat saya lulus SMP tahun 2007. Hanya ada penambahan ruang kelas di
lantai 2 gedung selatan.
Namun sekarang, kondisi sekolah sudah
sangat jauh berbeda. Gedung sekolah tampak di mark-up habis-habisan dengan dominan warna hijau, disertakan pula
tulisan visi misi sekolah di sejumlah tembok. Beberapa sudut dibangun, seperti
penambahan keramik dan pembangunan panggung aula. Yang baru adalah gazebo dari
kursi dan meja kayu, serta keberadaan “laboratorium” tanaman di salah satu
sudut sekolah.
Dari seorang staf tata usaha saya mengetahui
alasan dibalik perubahan besar-besaran itu, yaitu untuk menyambut penganugerahan
Adiwiyata dari Kementerian Lingkungan Hidup.
* * *
Lembaga pendidikan sekarang tampaknya
memiliki penyakit yang sama. Baik kampus maupun sekolah, sekarang orientasnya
mendapatkan titel dan nilai baik saat akreditasi. Hal itu menjadikan pengelola lembaga
pendidikan lebih sibuk melakukan pencitraan lembaga ketimbang fokus membangun
karakter siswanya.
Jika dicermati, ternyata titel atau nilai
akreditasi tidak berpengaruh secara signifikan pada perkembangan karakter siswa.
Tidak juga mendongkrak prestasi akademik atau non-akademiknya. Titel dan
akreditasi lebih banyak berpengaruh pada; (1) Citra lembaga; (2) Pembiayaan dan
fasilitas; dan (3) Kerja sama.
Citra lembaga biasanya berbanding lurus
pada kualitas pendaftar (input).
Sedangkan kualitas lulusan (output)
tetap ditentukan oleh kualitas produk pendidikan dengan berbagai instrumen
pendukungnya. Adapun jika titel dan akreditasi itu memang memiliki pengaruh,
pasti alokasinya lebih banyak ke instrumen pendukung seperti; kelengkapan
fasilitas, kucuran dana, dan jejaring yang luas. Semuanya itu hanyalah suplemen
bagi pendidikan. Sedangkan nutrisi pokok yang harus dipenuhi adalah Kegiatan
Belajar Mengajar (KBM) yang diselenggarakan dengan berorientasi pada pembentukan
karakter peserta didik.
Untuk mencapai kualitas pendidikan terbaik,
pembiayaan dan fasilitas memang mutlak diperlukan. Seperti kata pepatah Jawa, “Jer basuki mawa beya” –Barangsiapa ingin
sukses, membutuhkan biaya-. Biaya di sini bisa di artikan uang maupun
fasilitas, ada juga yang mengartikan kerja keras. Namun mutlaknya kebutuhan
pembiayaan dan fasilitas ini tidak lantas menjadikannya yang utama. Justru yang
utama adalah idealisme guru dalam usaha mencerdaskan peserta didiknya. Biaya
atau fasilitas mengikuti.
Memang, titel dan akreditasi yang baik
mempermudah lembaga pendidikan untuk menjalin kerja sama dengan pihak luar.
Lembaga pendidikan di luar negeri misalnya, sebelum memutuskan untuk menjalin
kerja sama biasanya melihat titel dan hasil akreditasi lembaga terkait. Namun
sekali lagi kerja sama itu harus berorientasi pada pembentukan karakter siswa,
tidak sekedar ngopeni –mengurus- peserta
didik lembaga/negara lain untuk dibawa ke sana kemari tanpa ada dampak terhadap
peningkatan kualitas peserta didik sendiri.
Saya menyampaikan beberapa hal di atas
bukan berarti saya alergi terhadap titel dan akreditasi. Sama sekali tidak!
Saya pun memahamai bahwa di era global seperti sekarang kualitas suatu produk
harus terukur, dan akreditasi adalah salah satu caranya. Namun yang saya
khawatirkan adalah ketika akreditasi dijadikan segala-galanya. Perlu ada
perubahan mindset bahwa akreditasi
adalah tugas ekstra bagi lembaga pendidikan yang memang ingin lebih unggul dari
lembaga lain. Namun tugas utamanya tidak boleh ditinggalkan, yaitu –seperti
yang saya katakan sebelumnya- membangun karakter peserta didik.
Membangun
Jiwa
Jika mencermati lirik lagu Indonesia Raya
ciptaan WR Supratman kita akan mendapati bait yang berbunyi, “Bangunlah jiwanya
bangunlah badannya.” Artinya apa? Sebelum membangun badan (fisik), harus
dibangun jiwanya terlebih dahulu. Sebelum memperbaiki gedung, menambah
fasilitas, dan memperluas jaringan, yang harus dipenuhi pertama kali adalah
jiwa pembelajar para peserta didik, yaitu kekritisan, keingintahuan (curiosity), dan kepedulian. Sehingga di
awal-awal peserta didik harus diajari bagaimana mencintai ilmu sebelum disuguhi
berbagai macam fasilitas. Diajari untuk apa ilmu itu sebelum diberi nilai. Kesimpulannya
adalah sebelum mengunggulkan jargon-jargon dan pencitraan, perbaikan kualitas
pendidikan harus didahulukan.
Wednesday, April 18, 2012
Biaya Pendidikan Sistem Kredit
Sekitar dua minggu yang lalu, gelombang penolakan RUU PT sedang panas-panasnya. Tetapi setelah Mendiknas M. Nuh meminta penundaan pengesahan RUU PT, tensi pembahasannya menurun. Tulisan ini sebenarnya adalah hasil diskusi saya dan beberapa teman KAMMI dengan Prof. Daniel M. Rosyid (ICMI Jatim dan Pakar Pendidikan) di rumah beliau di Perumahan Dosen ITS. Semoga ingatan saya masih terjaga untuk menjelaskan beberapa hasil diskusi kami. Di tulisan ini saya lebih spesifik membahas tentang biaya pendidikan sistem kredit. Cekidot:
Pembiayaan Pendidikan
Pembiayaan pendidikan memang hal yang cukup sensitif untuk dibahas. Sehingga sering terjadi tarik ulur antar dua golongan yang sampai menimbulkan polemik. Pemerintah kita posisikan sebagai golongan pertama yang merasa biaya pendidikan selama ini masih kurang untuk mencapai angka ideal, meski telah dianggarkan sebesar 20% dari APBN. Seperti kata pepatah Jawa (sekaligus semboyan Jawa Timur) "Jer Basuki Mawa Beya" yang artinya kira-kira adalah "setiap keberhasilan membutuhkan biaya". Itu membuat adanya pembebanan biaya pendidikan bagi peserta didik untuk menutupi kekurangan tersebut. Dengan biaya yang cukup harapannya kualitas pendidikan juga bisa terjamin. Sedangkan golongan kedua adalah rakyat yang menuntut agar biaya pendidikan diminimalkan. Jangan sampai biaya pendidikan tak terjangkau, bahkan kalau perlu pendidikan digratiskan. Dan mereka memang berhak menuntut itu, karena sesuai amanat undang-undang dasar bahwa tujuan diselenggarakannya pemerintahan negara adalah untuk "mencerdaskan kehidupan bangsa". Paradoks inilah yang memunculkan polemik. Di satu sisi negara kekurangan biaya, di sisi lain rakyat menuntut pendidikan murah.
Menanggapi polemik ini, Prof. Daniel berpandangan bahwa memang untuk mencapai kualitas yang diinginkan biaya pendidikan yang ada saat ini masih jauh dari kata cukup. Namun beliau menggarisbawahi pemerintah tidak bisa seenaknya menaikkan beban biaya pendidikan bagi peserta didik karena itu bisa memberatkan mereka. Sehingga beliau memiliki opsi harus ada perubahan sistem pembiayaan pendidikan di Indonesia, dan alternatif yang beliau pilih adalah sistem kredit.
Kalau ada yang ingat, ide tentang pembiayaan sistem kredit ini pernah saya lontarkan melalui kolom gagasan di Jawa Pos bulan Juli tahun 2011 yang berjudul "Biaya Pendidikan Sistem Utang". Ide itu muncul setelah saya terlibat diskusi dengan seorang tukang cetak pamflet di sebuah percetakan di Gubeng Kertajaya. Beliau yang pernah bekerja di Malaysia mengatakan lebih enak memakai sistem utang karena tidak memberatkan mahasiswa. Karena pembahasannya cocok dengan suasana yang terjadi saat itu (daftar ulang Maba Unair yang ribet dan melelahkan) muncul ide untuk menulis dan mengirimkannya ke Jawa Pos. Eh, besoknya langsung terbit. Alhamdulillah..
Bagi yang belum tahun apa itu sistem kredit, akan saya paparkan sedikit dengan bahasa saya. Jika sistem kredit ini diterapkan, maka mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi tak perlu membayar sepeser pun biaya. Sebagai gantinya, mereka harus membayarnya dengan cara yang telah disepakati, misal; dibayar setelah mereka mendapatkan pekerjaan atau ikut magang bekerja di jurusan atau fakultas sebagai tenaga tertentu. Intinya seperti itu. Sedangkan biaya kredit bisa didapat dari kerja sama dengan bank/perusahaan tertentu. Sehingga nantinya ketika mahasiswa lulus dan sudah bekerja, mereka harus membayar ke bank atau bekerja di perusahaan tersebut.
Banyak yang menolak sistem kredit ini. Alasan yang paling banyak dikemukakan adalah "mahasiswa diajari berutang." Memang benar, sistem ini mengajari (bahkan memaksa) rakyat untuk berutang. Namun jika dilihat dari sisi positifnya, saya justru menangkap "mahasiswa diajari untuk bertanggung jawab." Bagaimana bisa?
(1) Jika mahasiswa merasa bahwa mereka memiliki utang/kredit, maka mereka akan terpacu untuk serius belajar untuk bisa diterima kerja/tekun mencari kerja sendiri agar utangnya bisa dilunasi.
(2) Jika menerapkan sistem ini, secara tidak langsung universitas memiliki tanggung jawab untuk aktif "mencarikan" pekerjaan bagi mahasiswanya, agar setelah lulus mereka dapat berkerja dan melunasi utang. Selama ini universitas hanya secara pasif menunggu "laporan" mahasiswa yang diterima kerja. Selain itu sistem seperti ini mensyaratkan agar universitas menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan agar nantinya bisa menerima lulusannya.
Ketika ditanya apakah Indonesia siap menggunakan sistem kredit dengan beberapa hal yang dipersyaratkan, Prof. Daniel menjawab Indonesia belum siap. Jika ingin siap, Indonesia harus berani merubah model pembiayaan yang kuno (dengan sistem SPP atau SP3) dengan model pembiayaan yang basisnya adalah entrepreneurship. Jadi ke depan, universitas tidak terlalu tergantung pada pemerintah, namun juga tidak membebankan biaya ke rakyat. Biaya operasional pendidikan mahasiswa dibebankan kepada pihak penanggung, dan akan dibayar dengan sistem kredit setelah mahasiswa lulus.
Ya, kurang lebih seperti itu. Mohon maaf kalau menulisnya kurang sistematis, karena memang tujuan menulis ini hanya sekedar agar ide itu keluar dari otak yang sudah payah karena memikirkan banyak hal. Insya Allah konstruksi sistem pembiayaan ini akan terbangun seiring banyaknya diskusi/interaksi yang kita jalin. Terima kasih.
Subscribe to:
Posts (Atom)