Showing posts with label pengembangan diri. Show all posts
Showing posts with label pengembangan diri. Show all posts

Sunday, November 25, 2012

Your Lockership Shows Your Leadership

Judul di atas secara bebas dapat diartikan seperti ini, "Lokermu menunjukkan kepemimpinanmu." Tambahan kata "-ship" setelah kata "Locker" adalah sisipan yang saya gunakan untuk menegaskan pengelolaan sebuah loker. Bukan lokernya secara fisik. Meskipun fisik menunjukkan pengelolaanya. Lantas sebenarnya, apa maksud dari kalimat tersebut?

Saya pertama kali mendengar substansinya ketika mengikuti National Leadership Camp (NLC) PPSDMS Nurul Fikri, kalau tidak salah dari Ust. Musholli. Beliau menyampaikan bahwa Ust. Hidayat Nur Wahid
pernah mengatakan, "Kepribadian seorang pemimpin bisa dilihat dari lemarinya. Jika lemarinya rapi maka bagus pula kepemimpinannya, jika lemarinya berantakan maka seperti itu pula kepemimpinannya." Ini bukan hadits lho ya, meskipun ada model "rawi"-nya. Hehehe..

Intinya adalah kondisi lingkungan pemimpin menunjukkan kualitas
kepemimpinannya. Lemari/loker adalah hal remeh. Menata baju agar tetap rapi membutuhkan waktu tak lebih dari lima menit. Jika untuk hal-hal kecil seperti ini saja seorang pemimpin tak peduli, bagaimana ia bisa mempedulikan hal-hal yang besar? Padahal sense of crisis seorang pemimpin muncul ketika melihat sesuatu secara detail. Saya punya sebuah pengandaian untuk kasus ini:  

Ketika kita melihat bumi dari atas satelit, kita akan melihat bola bumi berwarna biru  yang indah.
Di permukaannya terdapat benua-benua berwarna hijau, putih, dan coklat. Semakin di dekatkan, permukaannya akan semakin jelas. Terlihat kota dan desa. Di dekatkan lagi, kita bisa melihat pusat aktivitas manusia. Semakin di dekatkan baru kita bisa melihat detailnya. Ada kolam yang indah, ada juga tempat sampah yang kotor. Jika itu di Indonesia, mungkin akan ditemukan sampah yang berserakan di jalan. Sekali lagi sampah-sampah itu hanya bisa dilihat ketika kita melihatnya dari dekat. Atau kalau tidak melihat langsung dari dekat, minimal punya alat untuk melihatnya secara dekat.

Ini menjadi pelajaran bagi kita yang berpikiran bahwa hal-hal besar lebih patut dipikirkan dari hal-hal kecil. Memang secara normatif kita harus berpikir besar. Tetapi konteksnya beda jika kita membicarakan action. Seperti kata Aa Gym, semuanya harus dimulai dari hal terkecil. Think big, do small.
Orang yang yang think big tanpa melalui tahapan do small -melainkan langsung meminta do big- bisa dibilang dirinya hanyalah seorang pemimpi (dreamer).

Lemari/loker hanyalah satu dari banyak hal kecil yang menunjukkan kualitas pemimpin.
Hal lain yang bisa menjadi indikator adalah kerjanya sehari-hari. Bagaimana dirinya memperlakukan waktu, tugas, dan lingkungannya. Jika masih sering telat, tugas tertunda-tunda, kamar berantakan, dsb. bisa dipastikan kualitas kepemimpinannya tidak jauh-jauh dari itu. Ya, harus diakui juga kalau saya juga masih sering seperti itu. Tetapi dengan menulis artikel ini saya memiliki komitmen untuk berubah. InsyaAllah.. doakan!
 
Sedikit cerita, sejak dulu memang saya menganggap merapikan baju, mencuci piring, mengembalikan barang pada tempatnya, menyemir sepatu, dll. sebagai hal yang tidak produktif. Bahkan mindset itu masih tersisa hingga sekarang. Seringkali saya abai terhadap hal-hal seperti itu. Baju kotor tidak segera dicuci, sampah kertas tak segera dibuang, menunda-nunda pekerjaan, sepatu tidak disemir, motor tidak dilap, dsb. Saya sering beralasan bahwa saya sibuk mengerjakan amanah di sana-sini. Benarkah? Padahal untuk melakukan hal-hal tersebut di atas masing-masing memerlukan waktu tak lebih dari lima menit!

Setelah saya renungkan kembali, ternyata amanah saya juga sering tidak tuntas. Bahkan lebih banyak yang terbengkalai. Lalu, kemanakah waktu saya terbuang? Ternyata waktu
saya banyak terbuang "dijalan". Saya terlalu banyak berpikir untuk melakukan ini itu. Bisa juga dibilang "NATO", bukan No Action Talk Only, tetapi NO ACTION THINK ONLY.

Pernah sekali saya dan teman-teman Heroboyo ditegur Bu Ima, seorang perempuan paruh baya yang setiap pagi membantu kami untuk memberishkan asrama. Beliau berkata kurang lebih seperti ini, "Ini sandal-sandal kok berantakan. Masak merapikan sandal saja tidak bisa, tetapi mau merapikan negara?!" Bu Ima saja tahu kalau pemimpin itu harus rapi dalam setiap halnya. Bagaimana dengan kita kader-kader pemimpin masa depan?


Untuk itu mari kita bersama-sama mengubah diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terlebih dahulu. Baru setelah itu kita beranjak memikirkan hal yang lebih besar: negara. Untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat!
[]

Monday, September 5, 2011

Think Globally Act Locally

"Think Globally Act Locally"
Kata-kata special ini baru saya temukan kemarin dari comment seorang saudara di status saya. Mengapa kata-kata tersebut terasa begitu special? Karena saya menemukan formula yang pas untuk meneguhkan kontribusi di kehidupan yang tidak panjang ini.

Saya sering mengamati para pakar, ustadz, guru besar, pahlawan, dan orang-orang hebat lainnya. Kemudian timbul pertanyaan, "Bagaimana kontribusi mereka bisa dikenang oleh banyak orang?"

Saya pun berpikir kalau mereka pasti melakukan hal luar biasa besar yang tidak akan pernah bisa saya lakukan. Namun setelah menemukan formula itu, paradigma saya berubah.

Think Globally Act Locally : Menandakan bahwa orang besar memiliki visi yang besar. Inilah yang membedakannya dengan orang kebanyakan. Orang besar Think Globally, orang biasa Think Locally. Tetapi tidak cukup hanya dengan berpikir global dan besar, dia juga melakukan hal yang konkret. Itulah mengapa tajuknya Act Locally, bukan berarti pekerjaan yang dilakukannya adalah pekerjaan kecil dan remeh, namun lebih dekat dengan konkret, simpel, terjangkau oleh manusia, bukan pekerjaan yang utopis (mustahil). Sedangkan orang yang merasa 'sok' besar adalah yang Act Globally, dia begitu ingin mengakomodasi semua pekerjaan, tapi menjurusnya malah muluk-muluk, tiada hal yang konkret.

Untuk itu, mulai saat ini kita harus memiliki narasi besar terhadap dunia, dan mengemasnya dalam bingkisan kecil yang akan kita berikan pada lingkungan di sekitar kita, terhadap bidang garap kita, profesi kita, keluarga, dan saudara-saudara kita. Mulailah dari hal yang terkecil yang mungkin bisa dilakukan.

Jangan menunggu menjadi besar untuk memulai kontribusi, tetapi mulailah berkontribusi untuk menjadi besar!


Belajar&Berkarya!


Semoga bermanfaat.. []gea