Showing posts with label silaturahim. Show all posts
Showing posts with label silaturahim. Show all posts

Wednesday, April 18, 2012

Biaya Pendidikan Sistem Kredit

Sekitar dua minggu yang lalu, gelombang penolakan RUU PT sedang panas-panasnya. Tetapi setelah Mendiknas M. Nuh meminta penundaan pengesahan RUU PT, tensi pembahasannya menurun. Tulisan ini sebenarnya adalah hasil diskusi saya dan beberapa teman KAMMI dengan Prof. Daniel M. Rosyid (ICMI Jatim dan Pakar Pendidikan) di rumah beliau di Perumahan Dosen ITS. Semoga ingatan saya masih terjaga untuk menjelaskan beberapa hasil diskusi kami. Di tulisan ini saya lebih spesifik membahas tentang biaya pendidikan sistem kredit. Cekidot:
 
Pembiayaan Pendidikan

Pembiayaan pendidikan memang hal yang cukup sensitif untuk dibahas. Sehingga sering terjadi tarik ulur antar dua golongan yang sampai menimbulkan polemik. Pemerintah kita posisikan sebagai golongan pertama yang merasa biaya pendidikan selama ini masih kurang untuk mencapai angka ideal, meski telah dianggarkan sebesar 20% dari APBN. Seperti kata pepatah Jawa (sekaligus semboyan Jawa Timur) "Jer Basuki Mawa Beya" yang artinya kira-kira adalah "setiap keberhasilan membutuhkan biaya". Itu membuat adanya pembebanan biaya pendidikan bagi peserta didik untuk menutupi kekurangan tersebut. Dengan biaya yang cukup harapannya kualitas pendidikan juga bisa terjamin. Sedangkan golongan kedua adalah rakyat yang menuntut agar biaya pendidikan diminimalkan. Jangan sampai biaya pendidikan tak terjangkau, bahkan kalau perlu pendidikan digratiskan. Dan mereka memang berhak menuntut itu, karena sesuai amanat undang-undang dasar bahwa tujuan diselenggarakannya pemerintahan negara adalah untuk "mencerdaskan kehidupan bangsa". Paradoks inilah yang memunculkan polemik. Di satu sisi negara kekurangan biaya, di sisi lain rakyat menuntut pendidikan murah.

Menanggapi polemik ini, Prof. Daniel berpandangan bahwa memang untuk mencapai kualitas yang diinginkan biaya pendidikan yang ada saat ini masih jauh dari kata cukup. Namun beliau menggarisbawahi pemerintah tidak bisa seenaknya menaikkan beban biaya pendidikan bagi peserta didik karena itu bisa memberatkan mereka. Sehingga beliau memiliki opsi harus ada perubahan sistem pembiayaan pendidikan di Indonesia, dan alternatif yang beliau pilih adalah sistem kredit.

Kalau ada yang ingat, ide tentang pembiayaan sistem kredit ini pernah saya lontarkan melalui kolom gagasan di Jawa Pos bulan Juli tahun 2011 yang berjudul "Biaya Pendidikan Sistem Utang". Ide itu muncul setelah saya terlibat diskusi dengan seorang tukang cetak pamflet di sebuah percetakan di Gubeng Kertajaya. Beliau yang pernah bekerja di Malaysia mengatakan lebih enak memakai sistem utang karena tidak memberatkan mahasiswa. Karena pembahasannya cocok dengan suasana yang terjadi saat itu (daftar ulang Maba Unair yang ribet dan melelahkan) muncul ide untuk menulis dan mengirimkannya ke Jawa Pos. Eh, besoknya langsung terbit. Alhamdulillah..

Bagi yang belum tahun apa itu sistem kredit, akan saya paparkan sedikit dengan bahasa saya. Jika sistem kredit ini diterapkan, maka mahasiswa yang belajar di perguruan tinggi tak perlu membayar sepeser pun biaya. Sebagai gantinya, mereka harus membayarnya dengan cara yang telah disepakati, misal; dibayar setelah mereka mendapatkan pekerjaan atau ikut magang bekerja di jurusan atau fakultas sebagai tenaga tertentu. Intinya seperti itu. Sedangkan biaya kredit bisa didapat dari kerja sama dengan bank/perusahaan tertentu. Sehingga nantinya ketika mahasiswa lulus dan sudah bekerja, mereka harus membayar ke bank atau bekerja di perusahaan tersebut.

Banyak yang menolak sistem kredit ini. Alasan yang paling banyak dikemukakan adalah "mahasiswa diajari berutang." Memang benar, sistem ini mengajari (bahkan memaksa) rakyat untuk berutang. Namun jika dilihat dari sisi positifnya, saya justru menangkap "mahasiswa diajari untuk bertanggung jawab." Bagaimana bisa?

(1) Jika mahasiswa merasa bahwa mereka memiliki utang/kredit, maka mereka akan terpacu untuk serius belajar untuk bisa diterima kerja/tekun mencari kerja sendiri agar utangnya bisa dilunasi.

(2) Jika menerapkan sistem ini, secara tidak langsung universitas memiliki tanggung jawab untuk aktif "mencarikan" pekerjaan bagi mahasiswanya, agar setelah lulus mereka dapat berkerja dan melunasi utang. Selama ini universitas hanya secara pasif menunggu "laporan" mahasiswa yang diterima kerja. Selain itu sistem seperti ini mensyaratkan agar universitas menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan agar nantinya bisa menerima lulusannya.

Ketika ditanya apakah Indonesia siap menggunakan sistem kredit dengan beberapa hal yang dipersyaratkan, Prof. Daniel menjawab Indonesia belum siap. Jika ingin siap, Indonesia harus berani merubah model pembiayaan yang kuno (dengan sistem SPP atau SP3) dengan model pembiayaan yang basisnya adalah entrepreneurship. Jadi ke depan, universitas tidak terlalu tergantung pada pemerintah, namun juga tidak membebankan biaya ke rakyat. Biaya operasional pendidikan mahasiswa dibebankan kepada pihak penanggung, dan akan dibayar dengan sistem kredit setelah mahasiswa lulus.

Ya, kurang lebih seperti itu. Mohon maaf kalau menulisnya kurang sistematis, karena memang tujuan menulis ini hanya sekedar agar ide itu keluar dari otak yang sudah payah karena memikirkan banyak hal. Insya Allah konstruksi sistem pembiayaan ini akan terbangun seiring banyaknya diskusi/interaksi yang kita jalin. Terima kasih.

Berkenalan dengan Pak Anwar, Penulis Buku "Warnai Dunia dengan Menulis"

Sabtu pekan lalu, ada kejadian menarik yang kualami. Dari sini bisa diambil pelajaran kalau kita benar-benar memiliki keyakinan, Allah pasti akan memberikan jalan keluar. Berikut ceritanya;

Sabtu,  14 April 2012

Sejak pagi, aku tidak ada jadwal kemana-mana alias mendekam di rumah. Namun bukan berarti aku menganggur. Ada beberapa pekerjaan yang harus kuselesaikan. Baru sekitar pukul 10 aku keluar pergi ke Uranus untuk refreshing. Kali aja ada buku yang cocok dibeli.

Sampai di Uranus, aku berkeliling. Tujuan pertamaku adalah bagian buku-buku Islam. Aku tak tahu buku apa yang mau kubeli. Tapi aku terus saja melangkah menelusuri judul demi judul buku, meskipun sebagian besar sudah tak asing lagi di mata. Sekitar 20 menit berkeliling, sampailah aku di rak sebelah barat di dekat search engine (komputer). Di tempat itu aku menemukan buku baru berwarna hijau, judulnya Warnai Dunia dengan Menulis karya M. Anwar Djaelani. Bukunya tidak disampul plastik, sehingga aku bisa membaca isinya.

Sepintas membaca tidak ada yang istimewa, sampai ketika aku membaca biodata penulis. Ternyata penulis -Pak M. Anwar Djaelani- adalah alumni Unair (FH dan PPs). Beliau dulu juga aktivis LDK Unair. Ketika melihat foto beliau, aku baru sadar kalau ternyata aku pernah melihat beliau beberapa kali di agenda Temu Tokoh; Dr. Adian Husaini dan Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Kedekatan Pak Anwar dengan dua tokoh nasional itu tidak lepas dari aktivitas beliau sebagai peneliti InPAS (Institut Pemikiran dan Peradaban Islam) Surabaya.

Setelah beberapa kali menimbang, aku memutuskan untuk membeli buku itu. Bukan karena bukunya, tetapi lebih karena penulisnya, Pak Anwar, adalah alumni Unair dan tinggal di Surabaya. Mengapa hal itu membuatku tertarik? (1) Mudah disilaturahimi untuk diajak berdiskusi, (2) secara psikologis muncul kedekatan, karena sama-sama dari Unair dan sama aktif di LDK-nya. Aku pun bertekad setelah itu akan mencari nomer HP beliau untuk langsung menghubungi mencari waktu untuk bertemu.

Aku mendapatkan nomer beliau dari Mbak Asih. Saat itu aku baru sampai di masjid Nuruzzaman untuk menunaikan shalat Zhuhur. Setelah shalat dan berdzikir, aku pergi menepi ke dekat tembok menemui seorang kawan dan mengobrol sejenak. Karena kawanku itu membaca buku, aku pun langsung mengambil buku yang baru kubeli dari tas kresek. Kubaca bagian awalnya, mulai dari pengantar Dr. Adian Husaini dan pengantar penulisnya sendiri. Selesai itu aku membuka HP untuk sms Pak Anwar.

Kira-kira sms yang kuketik bunyinya, "Assalamu'alaikum. Benar ini dengan Pak Anwar Djaelani? Perkenalkan saya Gading..." Sampai di situ aku berhenti mengetik. Perlu susunan kata yang pas untuk menghubungi orang penting. Aku pun mencoba mencari inspirasi dengan mengedarkan pandangan ke penjuru masjid.

Aku tertegun ketika mataku menangkap wajah sosok yang cukup kukenal. Seorang tokoh kenamaan, Direktur ISID Gontor, Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Beliau ada di Masjid Nuruzzaman!!! Kulihat ada dua orang lagi yang duduk di dekatnya. Yang pertama dr. Abdul Ghofir, Sp.PD, ketua InPAS Surabaya, dan Pak Anwar Djaelani!! Ternyata orang yang akan ku-sms ada di depan mataku. Subhanallah! Aku pun mengurungkan niat untuk sms beliau. Aku memilih menunggu obrolan ketiga orang yang duduk sekitar 8 meter di hadapanku selesai.

Sekitar 5 menit berselang, ketiga orang itu bangkit dari duduknya. Dr. Hamid dan dr. Abdul Ghofir pergi ke depan, dan Pak Anwar menuju ke belakang. Tanpa pikir panjang aku mengejar Pak Anwar. Ketika sudah di dekat beliau aku menyapa, "Pak Anwar!", beliau menjawab, "Ya!"

Aku tak bisa membayangkan raut mukaku saat itu. Aku pun tak mau mengingatnya. Yang pasti gak karu-karuan karena campur baur antara perasaan ndredeg, semangat, senang, dan sedikit takut. Yang kuingat aku langsung mengeluarkan dan menunjukkan buku yang baru kubeli kepada beliau. Beliau terkejut, dan bertanya belinya dimana, harganya berapa? Aku pun menjawab sebagaimana mestinya. Setelah itu beliau mengajakku pergi ke Workshop Islamic Worldview yang narasumbernya Dr. Hamid. Karena tidak ada jadwal yang urgen, aku mengiyakan saja. Sambil jalan kami mengobrol banyak hal.

Tak kuduga, setiap kata-kataku ditanggapi dengan antusias oleh Pak Anwar. Beliau bahkan sering bertanya dan memberikan dorongan, sehingga interaksi dua arah berjalan seimbang. Sikap seperti ini jarang kutemui pada orangtua kebanyakan. Obrolan kami tak lepas dari masalah tulis menulis, karena memang itulah yang kucari.

Banyak pelajaran yang bisa kupetik dari pertemuanku dengan Pak Anwar sore itu, antara lain; (1) Silaturahim memang membawa berkah rezeki, dalam konteks ini adalah beberapa ilmu tentang menulis dan tiket ikut workshop Dr. Hamid gratis [meski hanya dapat 1 dari 4 materi yang ada]. (2) Perlu ada keberanian untuk memulai interaksi dengan orang-orang penting, setelah itu semuanya akan berjalan mudah. (3) Aku semakin bersemangat untuk menulis.

Semoga menginspirasi!