Showing posts with label curhat. Show all posts
Showing posts with label curhat. Show all posts

Wednesday, February 27, 2013

Aku Ingin Kembali

Aku ingin kembali ke desa tempatku berasal. Tempat dimana aku tumbuh besar. Dengan sawah-sawahnya, dengan pasar-pasarnya, dengan sungai-sungainya, dengan tangkis-tangkisnya, dengan lapangan-lapangannya, dengan penduduk-penduduknya, dengan kenduri-kendurinya, dengan layangannya, dengan petak umpetnya, dengan sepak bolanya, dan dengan anak-anaknya.

Aku menyesal "pergi" terlalu cepat. Berkelana mencari ilmu, dan meninggalkan kehidupan kampung yang dulu kuanggap tak maju. Lebih asyik hidup di kota, banyak fasilitas, banyak kawan, banyak kegiatan organisasi, dan tentu banyak kemajuan teknologi. Aku jadi heran, hanya karena itu kutinggalkan kehidupan kampung yang begitu ramah dan menentramkan. Hanya karena itu kutinggalkan kesempatan berinteraksi dengan para tetanggaku. Hanya karena itu aku kehilangan teman-teman sepermainanku!

Aku kini seperti apa yang diungkapkan Descartes, "bila terlalu banyak waktu digunakan untuk berkelana, seseorang akan menjadi asing di negerinya sendiri." Ya, mungkin aku telah menjadi orang asing di kampungku. Meskipun banyak orang mengenalku, aku tak mengenal mereka. Dan itu begitu menyiksa!

Aku ingin kembali. Kembali ke masa lalu ketika sawah dan setren kali masih menjadi tempat yang asyik untuk bermain. Ketika tangkis penuh dengan capung dan anak yang bermain layang-layang. Ketika kelereng dan kartu kwartet menjadi harta paling berharga.

Andaikan dulu aku diberi kesempatan untuk membaca pidato Bung Karno yang berjudul "Soal Hidup atau Mati" mungkin aku memilih menjadi petani saja. Karena petani berperan besar untuk menyediakan bahan makanan bagi bangsa. Bung Karno begitu keras mengatakan bahwa urusan pangan adalah urusan hidup mati! Kalau tidak dicukupi bagaimana bangsa ini menjadi bangsa yang kuat?

Namun kini, penduduk mati kelaparan, mati bunuh diri, mati dianiaya, mati kecelakaan, mati karena sakit, seolah menjadi hal yang biasa. Apa gerangan yang salah? Jangan-jangan karena banyak orang yang telah lupa darimana dirinya berasal, termasuk diriku ini.

Namun semuanya belum terlambat. Ketika sudah terlanjur mengembara akan sangat sayang ketika pulang tak membawa apa-apa. Aku di sini, belajar, berkarya, berjuang, mempersiapkan diri untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.

Semoga Allah memberi pertolongan..

Merdeka!
Allahu Akbar!

Wednesday, February 13, 2013

Menggagas KAMMI (di) Surabaya

Di malam Kamis ini, izinkan saya untuk berbagi kegelisahan kepada kawan2 semua. Selama hampir 3 tahun di KAMMI, saya memandang bahwa ada tiga daerah yang menjadi basis KAMMI. Tanpa mengecilkan daerah2 lain, tiga daerah ini memang spesial dengan cirinya masing2.

Pertama, Yogyakarta, tempat dimana Haryo Setyoko, Sekjend KAMMI pertama ditempa. Dari sana pula lah filosofi gerakan KAMMI bermula. Ditambah dengan iklim pergerakan yang masih cukup dinamis, saya menyimpulkan bahwa Yogyakarta adalah basis pemikiran dan kajian strategis KAMMI.

Kedua, Jakarta, yang menjadi rumah bagi Fahri Hamzah, deklarator KAMMI plus Ketua KAMMI Pertama. Meskipun saat ini di UI tidak ada KAMMI -atau dalam jumlah kecil-, namun Jakarta dengan universitas2 yang lain menjadi tempat yang dekat dengan pusat kekuasaan. Jakarta kuat dalam hal jejaring.

Ketiga, Malang, tempat KAMMI dideklarasikan. Meskipun tidak termasuk kota besar, KAMMI memang tergolong istimewa. Menurut informasi yang saya peroleh, setiap DM 2 yang diadakan Malang pesertanya selalu mencapai 100 orang. Sangat banyak! Sehingga bisa dikatakan bahwa Malang adalah basis pengkaderan KAMMI.

Dengan saya menyebutkan tiga basis di atas tidak berarti saya ingin memecah2 KAMMI menjadi faksi2. Sama sekali tidak. Saya hanya mencoba mencari rolemodel yang tepat untuk KAMMI tempat saya saat ini bernaung, KAMMI Surabaya.

Tidak diragukan lagi, Surabaya adalah kota yang sangat strategis. Mendapat sebutan Kota Pahlawan, Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia dan memiliki posisi yang sangat strategis. Bahkan kalau boleh dikatakan, dengan pertimbangan jarak dan jangkauan ke seluruh wilayah Indonesia, Surabaya lebih pantas menjadi ibukota karena terletak di tengah2 Nusantara.

Lalu apa hubungannya dengan KAMMI Surabaya? Mungkin banyak di antara kita tahu, KAMMI Surabaya beberapa tahun ini mengalami penurunan kontribusi. Mulai banyaknya permasalahan internal, hingga menurunnya jumlah kader. Nah, dengan kondisi tersebut tentu kontribusi KAMMI di Surabaya masih sangat jauh dari harapan. Meskipun saya juga tahu bahwa rekan2 PD KAMMI Surabaya sudah berjuang keras memaksimalkan segenap kekuatan yang dimiliki untuk mengoptimalkan kinerja KAMMI di Surabaya.

Sebagai kader, saya justru mengharap ke depan KAMMI Surabaya ini tidak hanya kembali sehat manajemennya. Namun juga memiliki karakter dan spesialisasi seperti tiga daerah yang saya sebutkan di muka. Apa yang spesial dari KAMMI Surabaya? Pengkaderan kah? Pemikiran kah? Jaringan kah? Atau paling mungkin Sosmas kah, jika mengacu departemen paling berkembang adalah LSO Lentera Harapan? Wallahua'lam..

Tetapi sebelum kita memutuskan akan seperti apa KAMMI Surabaya, kita perlu merumuskan karakter Kota Pahlawan yang tentu berbeda dengan kota2 lain. Ada beberapa fakta yang perlu kita ungkap. Saya akan mengungkapkan sedikit saja:

1. Surabaya adalah kota dengan APBD terbesar di Indonesia. Sebenarnya Jakarta lebih besar, tetapi karena Jakarta adalah provinsi, sehingga Surabaya menjadi kota dengan pendapatan terbesar di negeri ini.
2. Surabaya adalah kota industri yang besar. Hal itu akan membuat jumlah buruhnya juga cukup besar.
3. Surabaya adalah kota yang penduduknya paling aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan. Sehingga, orang Surabaya lebih banyak berada di luar rumah dibandingkan di dalam rumah, (kalau yang ini pendapat teman saya).
4. Surabaya memiliki basis pendukung fanatik Persebaya, yakni BONEK MANIA. Dan siapa yang dapat memegang suporter fanatik, dia memiliki pengaruh yang sangat besar.
5. dsb.

Dari beberapa informasi ini, adakah yang sudah terpikir ke mana sebaiknya KAMMI Surabaya menuju?

Jika belum, akan saya bagikan cerita yang saya dapat dua pekan lalu. Saya mendengar dari salah seorang ideolog KAMMI, Pak Yusuf Maulana, bahwa tempat penanamanan ideologi para aktivis buruh adalah di Yogyakarta. Setelah itu para aktivis buruh itu dikirim ke daerah2, utamanya Surabaya, Sidoarjo, dan sekitarnya yang memiliki basis buruh yang cukup besar. Berbeda dengan Yogyakarta yang notabene bukan kota industri dan memiliki sedikit gerakan buruh, Surabaya memang kota industri yang jumlah buruhnya cukup besar. Sehingga tak heran kalau Yogyakarta hanya sekedar menjadi tempat ideologisasi, bukan tempat kontribusi.

Dari poin ini saya bisa menangkap bahwa Surabaya memang memiliki ciri khas. Kita tidak bisa menyamakannya dengan Jakarta, Yogya, Malang, atau kota2 lain. Sehingga, Surabaya membutuhkan gerakan yang memang khas untuk Surabaya. Apa itu? Itu PR untuk kita semua.

* * *

Menyoal tentang MUKTAMAR VIII KAMMI yang akan diselenggarakan di Surabaya tengah tahun nanti, awalnya saya cukup kaget. Dalam hati saya berkata, "Masalah internal belum selesai kok berani mengambil event besar?!" Ketika saya melontarkan isu ini ke beberapa orang kader di komisariat, kurang lebih tanggapannya sama.

Tetapi saya yakin, akh Decka selaku Ketumda tidak bertindak gegabah ketika mengambil amanah besar ini. Saya berhusnudzan beliau punya rencana yang kami di komisariat tidak mengetahui. Mungkin beliau ingin menjadikan momentum Muktamar ini untuk kembali mensolidkan kader2 Surabaya.

Jika selama ini "common enemy" yang dijadikan excuse/alasan atas lesunya gerakan mahasiswa, maka beliau menghadirkan "common enemy" itu dalam bentuk event besar yang perlu disukseskan. Kader KAMMI Surabaya harus menyambut seruan itu. Khususnya kepada kader2 saya di Komisariat KAMMI Airlangga.

* * *

NB: Di sini, saya memandang masalah KAMMI Surabaya (sengaja tidak menyebutnya PD KAMMI Surabaya) sebagai orang dalam sekaligus orang luar. Orang dalam sebagai kader yang aktif di PK KAMMI Airlangga, tetapi tidak aktif di PD KAMMI Surabaya. Sehingga jika mas Decka dkk tidak setuju dengan opini saya ini, silahkan. Saya terbuka jika rekan2 memberikan kritik terhadap apa yang saya tulis.

Surabaya, 13 Februari 2013

Saturday, May 26, 2012

Celah Kompromi: Antara Idealitas dan Realita


Oleh Gading Ekapuja Aurizki

Ada sebuah pikiran yang sulit hilang dalam benak saya dan itu seringkali mengganggu. Tidak hanya saat ini, namun sepanjang waktu. Sejak masuk kuliah hingga semester IV ini saya masih sering bertanya-tanya, “akan menjadi apa aku kelak?”.

Ketika orang lain sudah sibuk berpikir bagaimana mewujudkan cita-cita mereka, saya sendiri belum memiliki keyakinan yang kuat akan cita-cita saya sendiri. Jika sekedar cita-cita yang ditulis untuk menjadi sebuah coretan di kertas saya punya. Tetapi kalau cita-cita yang benar-benar saya hayati keberadaannya sebagai arah pengabdian saya nanti, saya belum memilikinya.

Pikiran seperti ini tidak sama dengan pikiran, “aku akan bekerja sebagai apa?” Pertanyaan “menjadi apa” menunjukkan keumuman masalah namun menuntut adanya fokus yang spesifik. Jika melihat bidang studi yang saya pelajari saat ini di keperawatan maka akan ada pertanyaan, “perawat seperti apa?” dan “apa saja yang bisa saya berikan setelah menjadi perawat seperti itu?”.

Itulah yang seringkali mengganjal. Pasalnya, saya sendiri masih belum bisa yakin masa depan saya di dunia keperawatan. Namun saya tidak ingin banting setir terlalu ekstrim setelah lulus, misalkan berwirausaha kuliner atau menjadi teller bank. Ada tanggung jawab yang harus saya penuhi untuk profesi saya. Selain itu, saya menuntut diri saya untuk menguasai dasar-dasar ilmu keperawatan, karena ilmu itu akan sangat berguna –minimal- bagi diri dan keluarga saya kelak. Sehingga, sejauh apapun cita-cita saya dari dunia keperawatan, saya harus tetap menghormati pendidikan yang saya tempuh saat ini.

Sedikit mengutip teori dari Stephen Covey, ada 3 (tiga) unsur untuk melakukan sebuah tindakan (action), yaitu: (1) keinginan; (2) pengetahuan; dan (3) keterampilan. Menurut saya, keinginan lah yang paling sulit dicapai. Pengetahuan bisa dipelajari, ketrampilan bisa diasah. Tetapi keinginan? Seharusnya bisa ditumbuhkan. Tetapi sampai saat ini dalam diri saya belum tumbuh keinginan itu.

Aktivitas saya di dunia pergerakan mahasiswa –baik intra maupun ekstra kampus- membuat saya lebih menyukai topik-topik kebangsaan daripada membincangkan masalah penyakit. Meskipun ada topik kebangsaan dalam dunia kesehatan, saya belum begitu menyukai dan menguasainya. Namun saya berharap segera bisa, karena mungkin itu adalah celah kompromi yang bisa saya ambil.

Sebenarnya, ada satu hal dalam dunia keperawatan yang masih ingin saya rasakan, yaitu dunia penelitian. Terutama penelitian di bidang keperawatan kesehatan komunitas. Dengan itu saya ingin membuat artikel-artikel tentang keperawatan yang diterbitkan di jurnal ilmiah maupun populer, dan semoga juga bisa membuat buku tentang keperawatan. Seserpih keinginan itu akan saya jaga agar tetap bisa bertahan di dunia keperawatan.

Selain itu saya juga menaruh harapan besar pada pengabdian masyarakat. Karena bagi saya menjadi seorang perawat adalah sebuah pengabdian. Hal itu kemudian membuat saya berpikir bahwa hal pokok yang harus ditumbuhkan oleh institusi pendidikan keperawatan untuk peserta didiknya adalah jiwa seorang pengabdi, dan itu belum saya dapatkan di kuliah. Saya berharap setelah ini saya mendapatkannya.

Sebagai seorang aktivis dakwah saya terdorong untuk menjadi seorang pendidik (saya sengaja tidak menyebut dosen). Karena melalui pendidikan lah dakwah berkembang pesat. Mungkin salah satu problem yang membuat dakwah di Unair belum begitu masif adalah sedikitnya aktivis dakwah yang menjadi pendidik. Maksud pendidik di sini bukan berarti aktivis dakwah harus mengejar gelar sampai profesor, melainkan bagaimana mereka menggunakan profesi mereka sebagai seorang pendidik untuk mendapatkan akses ke peserta didik.

Terakhir, saya juga ingin mengembangkan jiwa kepemimpinan saya. Saya pikir keperawatan memiliki konsep yang bagus terkait dengan leadership. Hanya saja memang di semester-semester awal materi itu belum tersentuh sama sekali. Implementasi di lapangannya juga belum ada. Seharusnya materi tentang leadership diterapkan di setiap proses pembelajaran, baik di kelas maupun klinik. Semisal merapikan kembali konsep PJMK Mahasiswa yang selama ini menjadi amanah paling dihindari oleh teman-teman.

Ya, demikianlah coretan saya kali ini. Semoga ini menjadi peneguh komitmen saya untuk terus belajar dan konsisten dengan pilihan yang telah saya ambil. Saya ingin memperbaiki diri saya untuk menjadi solusi atas segala permasalahan bangsa ini.

#SalamSOLUSI! Terima kasih.


Surabaya, 26 Mei 2012