Thursday, July 26, 2012

Peran Media dalam Pembentukan Kepemimpinan Muda

Materi oleh. Ir. Tifatul Sembiring (Menkominfo RI 2009-sekarang)
Ringkasan oleh. Gading Ekapuja Aurizki (NIP 0604756)
Ada 4 (empat) hal yang harus dimiliki seorang leader: (1) Moral; (2) Visi; (3) Kompetensi; dan (4) Komunikasi.
Seorang pemimpin harus memiliki moral karena pemimpin diharapkan teguh karakternya. Gagal berkarakter seorang berarti seorang pemimpin gagal hidup. Seorang pemimpin juga harus menjadi tauladan bagi anak buahnya. Untuk itulah seorang pemimpin harus bermoral.
Yang kedua, pemimpin itu harus memiliki visi. Visi ini yang membedakan pemimpin dengan pengikut. Boleh saja seorang pengikut menjadi follower, tapi jangan sampai pemimpin yang seperti itu. Agar seorang pemimpin memiliki pengikut adalah ia harus memiliki filosofi tentang kepemimpinannya. No philosopy no follower.
Ketiga adalah kompetensi. Setelah memiliki visi, pemimpin harus bisa mengimplementasikan visinya itu. Jangan sampai ia membuat bingung para pengikutnya karena ia tidak bisa mengimplementasikan visinya itu karena tidak punya kompetensi.
Yang terakhir, yang akan kita bahas lebih lanjut adalah komunikasi. Tanpa komunikasi seorang pemimpin hanya akan menjadi pemimpin di puncak menara gading. Ia tidak bisa menyampaikan apa keinginannya kepada anak buahnya.
Hal paling mudah melihat kemampuan komunikasi seorang pemimpin adalah saat ia berpidato. Menurut seobahwarang pakar komunikasi Barat, ada sebuah konsep berpidato yang ia namakan POWER. POWER adakah kepanjangan dari: Punch, On Theme, Window, Ear, dan Resume.
Punch, maksudnya adalah di awal pidato seorang pemimpin harus mampu memberikan sebuah kesan bahwa pidatonya itu layak di dengarkan. Hendaknya punch ini diberikan sebelum 8 detik pertama. Bentuk punch bisa macam-macam, contohnya puisi, kutipan, proyeksi, pantun, humor, dll. pemimpin yang tidak mampu memberikan punch bisa ditinggal pendengarnya karena tidak fokus.
On theme, dalam berpidato hendaknya seseorang memilih satu fokus tema. Tujuannya agar ada arah pidato. Jangan sampai pendengar diputar-putarkan sehingga bingung ketika mendengar pidatonya.
Window. Maksud window adalah ilustrasi. Hal ini dimaksudkan agar tidak pendengar tidak bosan. Pidato yang hanya mengandalkan data dan kata, akan membosankan ketika di dengar, untuk itu seorang pemimpin perlu memberikan ilustrasi-ilustrasi yang berkaitan dengan isi pidatonya.
Ear, maksudnya ketika berpidato hendaknya diperhatikan “telinga” pendengar. Berpidato harus sesuai dengan kemampuan sang pendengar, atau dalam Islam dikenal “berbicara dengan bahasa kaumnya”. Jangan sampai terjadi roaming (tidak nyambung) ketika berpidato.
Yang terakhir, resume. Jangan lupa memberikan kesimpulan. Tujuannya agar di akhir, pendengar memahami keseluruhan isi dari pidato. Dalam berpidato hendaknya jangan terlalu lama, maksimal 18 menit. Menghindari terjadinya kebosanan.
Selain pidato, juga perlu diperhatikan penggunaan media. Ada 3 (tiga) tipe media: (1) media oral; (2) media cetak; dan (3) media elektronik.
Media oral adalah media dari mulut ke mulut. Berita yang menarik ketika tersebar melalui media akan sampai ke seluruh dunia dalam waktu kurang lebih 100 tahun. Media cetak seperti buku, koran, selebaran, dsb. Akan tersebar ke seluruh dunia dalam jangka waktu 25 tahun. Yang paling ampuh adalah media elektronik. Ia bisa menyebarkan sebuah berita ke seluruh dunia dalam detik itu juga.
Dengan karakteristik media yang seperti itu seorang pemimpin wajib mempertimbangkan penggunaan media. Kita bisa melihat sekarang, untuk meneguhkan eksistensi politik, industri media mulai banyak dilirik. Kepemilikan media elektronik bisa menjadi kekuatan politik yang hebat. Untuk itu sebagai calon pemimpin masa depan kita harus bisa memanfaatkan media sebagai sarana pembelajaran. Tetapi jangan menggunakan media sebagai sarana pencitraan saja, melainkan juga untuk menyebarluaskan kebaikan-kebaikan kepada rakyat. Semua itu demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Wallahua’lam bishshawab.. []gea

No comments:

Post a Comment