Materi oleh. Ir.
Tifatul Sembiring (Menkominfo RI 2009-sekarang)
Ringkasan oleh. Gading Ekapuja
Aurizki (NIP 0604756)
Ada
4 (empat) hal yang harus dimiliki seorang leader: (1) Moral; (2) Visi; (3) Kompetensi;
dan (4) Komunikasi.
Seorang
pemimpin harus memiliki moral karena
pemimpin diharapkan teguh karakternya. Gagal berkarakter seorang berarti seorang
pemimpin gagal hidup. Seorang pemimpin juga harus menjadi tauladan bagi anak buahnya.
Untuk itulah seorang pemimpin harus bermoral.
Yang
kedua, pemimpin itu harus memiliki visi.
Visi ini yang membedakan pemimpin dengan pengikut. Boleh saja seorang pengikut menjadi
follower, tapi jangan sampai pemimpin yang seperti itu. Agar seorang pemimpin memiliki
pengikut adalah ia harus memiliki filosofi tentang kepemimpinannya. No philosopy no follower.
Ketiga
adalah kompetensi. Setelah memiliki visi,
pemimpin harus bisa mengimplementasikan visinya itu. Jangan sampai ia membuat bingung
para pengikutnya karena ia tidak bisa mengimplementasikan visinya itu karena tidak
punya kompetensi.
Yang
terakhir, yang akan kita bahas lebih lanjut adalah komunikasi. Tanpa komunikasi seorang pemimpin hanya akan menjadi pemimpin
di puncak menara gading. Ia tidak bisa menyampaikan apa keinginannya kepada anak
buahnya.
Hal
paling mudah melihat kemampuan komunikasi seorang pemimpin adalah saat ia berpidato.
Menurut seobahwarang pakar komunikasi Barat, ada sebuah konsep berpidato yang ia
namakan POWER. POWER adakah kepanjangan dari: Punch, On Theme, Window, Ear, dan Resume.
Punch,
maksudnya adalah di awal pidato seorang pemimpin harus mampu memberikan sebuah kesan
bahwa pidatonya itu layak di dengarkan. Hendaknya punch ini diberikan sebelum 8
detik pertama. Bentuk punch bisa macam-macam, contohnya puisi, kutipan, proyeksi,
pantun, humor, dll. pemimpin yang tidak mampu memberikan punch bisa ditinggal pendengarnya
karena tidak fokus.
On theme,
dalam berpidato hendaknya seseorang memilih satu fokus tema. Tujuannya agar ada
arah pidato. Jangan sampai pendengar diputar-putarkan sehingga bingung ketika mendengar
pidatonya.
Window.
Maksud window adalah ilustrasi. Hal ini dimaksudkan agar tidak pendengar tidak bosan.
Pidato yang hanya mengandalkan data dan kata, akan membosankan ketika di dengar,
untuk itu seorang pemimpin perlu memberikan ilustrasi-ilustrasi yang berkaitan dengan
isi pidatonya.
Ear,
maksudnya ketika berpidato hendaknya diperhatikan “telinga” pendengar. Berpidato
harus sesuai dengan kemampuan sang pendengar, atau dalam Islam dikenal “berbicara dengan bahasa kaumnya”. Jangan
sampai terjadi roaming (tidak nyambung)
ketika berpidato.
Yang
terakhir, resume. Jangan lupa memberikan
kesimpulan. Tujuannya agar di akhir, pendengar memahami keseluruhan isi dari pidato.
Dalam berpidato hendaknya jangan terlalu lama, maksimal 18 menit. Menghindari terjadinya
kebosanan.
Selain
pidato, juga perlu diperhatikan penggunaan media. Ada 3 (tiga) tipe media: (1) media
oral; (2) media cetak; dan (3) media elektronik.
Media
oral adalah media dari mulut ke mulut. Berita yang menarik ketika tersebar melalui
media akan sampai ke seluruh dunia dalam waktu kurang lebih 100 tahun. Media cetak
seperti buku, koran, selebaran, dsb. Akan tersebar ke seluruh dunia dalam jangka
waktu 25 tahun. Yang paling ampuh adalah media elektronik. Ia bisa menyebarkan sebuah
berita ke seluruh dunia dalam detik itu juga.
Dengan
karakteristik media yang seperti itu seorang pemimpin wajib mempertimbangkan penggunaan
media. Kita bisa melihat sekarang, untuk meneguhkan eksistensi politik, industri
media mulai banyak dilirik. Kepemilikan media elektronik bisa menjadi kekuatan politik
yang hebat. Untuk itu sebagai calon pemimpin masa depan kita harus bisa memanfaatkan
media sebagai sarana pembelajaran. Tetapi jangan menggunakan media sebagai sarana
pencitraan saja, melainkan juga untuk menyebarluaskan kebaikan-kebaikan kepada rakyat.
Semua itu demi Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Wallahua’lam bishshawab..
[]gea
No comments:
Post a Comment