Wednesday, September 19, 2012

Rasa Aman yang Menjadi Komoditas

Oleh Gading Ekapuja Aurizki

Menurut teori Hierarchy Abraham Maslow, dari lima kebutuhan dasar manusia, kebutuhan akan rasa aman (safety needs) merupakan kebutuhan dasar manusia nomor dua setelah kebutuhan fisiologis (physiological needs). Keberadaannya lebih mendasar daripada kebutuhan cinta dan kasih sayang (love and belonging), harga diri (self esteem), dan aktualisasi diri (self actualization).

Tanpa rasa aman orang tidak akan mudah membina hubungan dengan orang lain, memiliki peran di masyarakat, ataupun bekerja secara produktif. Perhatian mereka akan lebih banyak tercurahkan untuk menyelamatkan jiwa dan harta benda mereka. Orang pun berpikir bagaimana caranya agar mereka tetap merasa aman tanpa ada rasa khawatir. Dari sinilah muncul ide untuk menjadikan rasa aman sebagai sebuah komoditas yang diperjual-belikan. Kita bisa melihat bagaimana produk barang maupun jasa keamanan seperti asuransi, jasa bodyguard, alat keamanan diri, dan semacamnya sangat laris dan banyak diminati.

Untuk mendapatkan rasa aman orang harus sering merogoh kocek mereka. Dalam hal asuransi misalnya, seorang klien wajib membayar premi tiap bulan. Untuk parkir, lagi-lagi orang harus merogoh kocek. Meskipun hanya seribu dua ribu tapi sering. Bagi tenaga kesehatan, universal precaution memerlukan alat yang tak murah. Dalam hal keamanan negara perlu biaya operasi polisi, melatih TNI, membeli alusista dan sebagainya.

Memang benar, bahwa rasa aman dalam kehidupan sehari-hari sangat mahal harganya!

*) Dikirim untuk Opini Publik Media Indonesia bertema "Mahalnya Rasa Aman dalam Kehidupan Sehari-hari"  - Tidak terpublikasi

No comments:

Post a Comment