Oleh Gading Ekapuja Aurizki
Menurut teori Hierarchy Abraham Maslow, dari lima
kebutuhan dasar manusia, kebutuhan akan rasa aman (safety needs) merupakan kebutuhan dasar manusia nomor dua setelah
kebutuhan fisiologis (physiological needs).
Keberadaannya lebih mendasar daripada kebutuhan cinta dan kasih sayang (love and belonging), harga diri (self esteem), dan aktualisasi diri (self actualization).
Tanpa rasa aman orang
tidak akan mudah membina hubungan dengan orang lain, memiliki peran di
masyarakat, ataupun bekerja secara produktif. Perhatian mereka akan lebih
banyak tercurahkan untuk menyelamatkan jiwa dan harta benda mereka. Orang pun berpikir
bagaimana caranya agar mereka tetap merasa aman tanpa ada rasa khawatir. Dari
sinilah muncul ide untuk menjadikan rasa aman sebagai sebuah komoditas yang
diperjual-belikan. Kita bisa melihat bagaimana produk barang maupun jasa
keamanan seperti asuransi, jasa bodyguard,
alat keamanan diri, dan semacamnya sangat laris dan banyak diminati.
Untuk mendapatkan rasa
aman orang harus sering merogoh kocek mereka. Dalam hal asuransi misalnya,
seorang klien wajib membayar premi tiap bulan. Untuk parkir, lagi-lagi orang
harus merogoh kocek. Meskipun hanya seribu dua ribu tapi sering. Bagi tenaga
kesehatan, universal precaution
memerlukan alat yang tak murah. Dalam hal keamanan negara perlu biaya operasi
polisi, melatih TNI, membeli alusista dan sebagainya.
Memang benar, bahwa
rasa aman dalam kehidupan sehari-hari sangat mahal harganya!
*) Dikirim untuk Opini Publik Media Indonesia bertema "Mahalnya Rasa Aman dalam Kehidupan Sehari-hari" - Tidak terpublikasi
No comments:
Post a Comment