Judul di atas secara bebas dapat diartikan seperti ini, "Lokermu menunjukkan kepemimpinanmu." Tambahan kata "-ship" setelah kata "Locker" adalah sisipan yang saya gunakan untuk menegaskan pengelolaan sebuah loker. Bukan lokernya secara fisik. Meskipun fisik menunjukkan pengelolaanya. Lantas sebenarnya, apa maksud dari kalimat tersebut?
Saya pertama kali mendengar substansinya ketika mengikuti National Leadership Camp (NLC) PPSDMS Nurul Fikri, kalau tidak salah dari Ust. Musholli. Beliau menyampaikan bahwa Ust. Hidayat Nur Wahid pernah mengatakan, "Kepribadian seorang pemimpin bisa dilihat dari lemarinya. Jika lemarinya rapi maka bagus pula kepemimpinannya, jika lemarinya berantakan maka seperti itu pula kepemimpinannya." Ini bukan hadits lho ya, meskipun ada model "rawi"-nya. Hehehe..
Intinya adalah kondisi lingkungan pemimpin menunjukkan kualitas kepemimpinannya. Lemari/loker adalah hal remeh. Menata baju agar tetap rapi membutuhkan waktu tak lebih dari lima menit. Jika untuk hal-hal kecil seperti ini saja seorang pemimpin tak peduli, bagaimana ia bisa mempedulikan hal-hal yang besar? Padahal sense of crisis seorang pemimpin muncul ketika melihat sesuatu secara detail. Saya punya sebuah pengandaian untuk kasus ini:
Ketika kita melihat bumi dari atas satelit, kita akan melihat bola bumi berwarna biru yang indah. Di permukaannya terdapat benua-benua berwarna hijau, putih, dan coklat. Semakin di dekatkan, permukaannya akan semakin jelas. Terlihat kota dan desa. Di dekatkan lagi, kita bisa melihat pusat aktivitas manusia. Semakin di dekatkan baru kita bisa melihat detailnya. Ada kolam yang indah, ada juga tempat sampah yang kotor. Jika itu di Indonesia, mungkin akan ditemukan sampah yang berserakan di jalan. Sekali lagi sampah-sampah itu hanya bisa dilihat ketika kita melihatnya dari dekat. Atau kalau tidak melihat langsung dari dekat, minimal punya alat untuk melihatnya secara dekat.
Ini menjadi pelajaran bagi kita yang berpikiran bahwa hal-hal besar lebih patut dipikirkan dari hal-hal kecil. Memang secara normatif kita harus berpikir besar. Tetapi konteksnya beda jika kita membicarakan action. Seperti kata Aa Gym, semuanya harus dimulai dari hal terkecil. Think big, do small. Orang yang yang think big tanpa melalui tahapan do small -melainkan langsung meminta do big- bisa dibilang dirinya hanyalah seorang pemimpi (dreamer).
Lemari/loker hanyalah satu dari banyak hal kecil yang menunjukkan kualitas pemimpin. Hal lain yang bisa menjadi indikator adalah kerjanya sehari-hari. Bagaimana dirinya memperlakukan waktu, tugas, dan lingkungannya. Jika masih sering telat, tugas tertunda-tunda, kamar berantakan, dsb. bisa dipastikan kualitas kepemimpinannya tidak jauh-jauh dari itu. Ya, harus diakui juga kalau saya juga masih sering seperti itu. Tetapi dengan menulis artikel ini saya memiliki komitmen untuk berubah. InsyaAllah.. doakan!
Sedikit cerita, sejak dulu memang saya menganggap merapikan baju, mencuci piring, mengembalikan barang pada tempatnya, menyemir sepatu, dll. sebagai hal yang tidak produktif. Bahkan mindset itu masih tersisa hingga sekarang. Seringkali saya abai terhadap hal-hal seperti itu. Baju kotor tidak segera dicuci, sampah kertas tak segera dibuang, menunda-nunda pekerjaan, sepatu tidak disemir, motor tidak dilap, dsb. Saya sering beralasan bahwa saya sibuk mengerjakan amanah di sana-sini. Benarkah? Padahal untuk melakukan hal-hal tersebut di atas masing-masing memerlukan waktu tak lebih dari lima menit!
Setelah saya renungkan kembali, ternyata amanah saya juga sering tidak tuntas. Bahkan lebih banyak yang terbengkalai. Lalu, kemanakah waktu saya terbuang? Ternyata waktu saya banyak terbuang "dijalan". Saya terlalu banyak berpikir untuk melakukan ini itu. Bisa juga dibilang "NATO", bukan No Action Talk Only, tetapi NO ACTION THINK ONLY.
Pernah sekali saya dan teman-teman Heroboyo ditegur Bu Ima, seorang perempuan paruh baya yang setiap pagi membantu kami untuk memberishkan asrama. Beliau berkata kurang lebih seperti ini, "Ini sandal-sandal kok berantakan. Masak merapikan sandal saja tidak bisa, tetapi mau merapikan negara?!" Bu Ima saja tahu kalau pemimpin itu harus rapi dalam setiap halnya. Bagaimana dengan kita kader-kader pemimpin masa depan?
Untuk itu mari kita bersama-sama mengubah diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terlebih dahulu. Baru setelah itu kita beranjak memikirkan hal yang lebih besar: negara. Untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat! []
Saya pertama kali mendengar substansinya ketika mengikuti National Leadership Camp (NLC) PPSDMS Nurul Fikri, kalau tidak salah dari Ust. Musholli. Beliau menyampaikan bahwa Ust. Hidayat Nur Wahid pernah mengatakan, "Kepribadian seorang pemimpin bisa dilihat dari lemarinya. Jika lemarinya rapi maka bagus pula kepemimpinannya, jika lemarinya berantakan maka seperti itu pula kepemimpinannya." Ini bukan hadits lho ya, meskipun ada model "rawi"-nya. Hehehe..
Intinya adalah kondisi lingkungan pemimpin menunjukkan kualitas kepemimpinannya. Lemari/loker adalah hal remeh. Menata baju agar tetap rapi membutuhkan waktu tak lebih dari lima menit. Jika untuk hal-hal kecil seperti ini saja seorang pemimpin tak peduli, bagaimana ia bisa mempedulikan hal-hal yang besar? Padahal sense of crisis seorang pemimpin muncul ketika melihat sesuatu secara detail. Saya punya sebuah pengandaian untuk kasus ini:
Ketika kita melihat bumi dari atas satelit, kita akan melihat bola bumi berwarna biru yang indah. Di permukaannya terdapat benua-benua berwarna hijau, putih, dan coklat. Semakin di dekatkan, permukaannya akan semakin jelas. Terlihat kota dan desa. Di dekatkan lagi, kita bisa melihat pusat aktivitas manusia. Semakin di dekatkan baru kita bisa melihat detailnya. Ada kolam yang indah, ada juga tempat sampah yang kotor. Jika itu di Indonesia, mungkin akan ditemukan sampah yang berserakan di jalan. Sekali lagi sampah-sampah itu hanya bisa dilihat ketika kita melihatnya dari dekat. Atau kalau tidak melihat langsung dari dekat, minimal punya alat untuk melihatnya secara dekat.
Ini menjadi pelajaran bagi kita yang berpikiran bahwa hal-hal besar lebih patut dipikirkan dari hal-hal kecil. Memang secara normatif kita harus berpikir besar. Tetapi konteksnya beda jika kita membicarakan action. Seperti kata Aa Gym, semuanya harus dimulai dari hal terkecil. Think big, do small. Orang yang yang think big tanpa melalui tahapan do small -melainkan langsung meminta do big- bisa dibilang dirinya hanyalah seorang pemimpi (dreamer).
Lemari/loker hanyalah satu dari banyak hal kecil yang menunjukkan kualitas pemimpin. Hal lain yang bisa menjadi indikator adalah kerjanya sehari-hari. Bagaimana dirinya memperlakukan waktu, tugas, dan lingkungannya. Jika masih sering telat, tugas tertunda-tunda, kamar berantakan, dsb. bisa dipastikan kualitas kepemimpinannya tidak jauh-jauh dari itu. Ya, harus diakui juga kalau saya juga masih sering seperti itu. Tetapi dengan menulis artikel ini saya memiliki komitmen untuk berubah. InsyaAllah.. doakan!
Sedikit cerita, sejak dulu memang saya menganggap merapikan baju, mencuci piring, mengembalikan barang pada tempatnya, menyemir sepatu, dll. sebagai hal yang tidak produktif. Bahkan mindset itu masih tersisa hingga sekarang. Seringkali saya abai terhadap hal-hal seperti itu. Baju kotor tidak segera dicuci, sampah kertas tak segera dibuang, menunda-nunda pekerjaan, sepatu tidak disemir, motor tidak dilap, dsb. Saya sering beralasan bahwa saya sibuk mengerjakan amanah di sana-sini. Benarkah? Padahal untuk melakukan hal-hal tersebut di atas masing-masing memerlukan waktu tak lebih dari lima menit!
Setelah saya renungkan kembali, ternyata amanah saya juga sering tidak tuntas. Bahkan lebih banyak yang terbengkalai. Lalu, kemanakah waktu saya terbuang? Ternyata waktu saya banyak terbuang "dijalan". Saya terlalu banyak berpikir untuk melakukan ini itu. Bisa juga dibilang "NATO", bukan No Action Talk Only, tetapi NO ACTION THINK ONLY.
Pernah sekali saya dan teman-teman Heroboyo ditegur Bu Ima, seorang perempuan paruh baya yang setiap pagi membantu kami untuk memberishkan asrama. Beliau berkata kurang lebih seperti ini, "Ini sandal-sandal kok berantakan. Masak merapikan sandal saja tidak bisa, tetapi mau merapikan negara?!" Bu Ima saja tahu kalau pemimpin itu harus rapi dalam setiap halnya. Bagaimana dengan kita kader-kader pemimpin masa depan?
Untuk itu mari kita bersama-sama mengubah diri sendiri, keluarga, dan lingkungan terlebih dahulu. Baru setelah itu kita beranjak memikirkan hal yang lebih besar: negara. Untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat! []
No comments:
Post a Comment