Aku ingin kembali
ke desa tempatku berasal. Tempat dimana aku tumbuh besar. Dengan
sawah-sawahnya, dengan pasar-pasarnya, dengan sungai-sungainya, dengan
tangkis-tangkisnya, dengan lapangan-lapangannya, dengan
penduduk-penduduknya, dengan kenduri-kendurinya, dengan layangannya,
dengan petak umpetnya, dengan sepak bolanya, dan dengan anak-anaknya.
Aku menyesal "pergi" terlalu cepat. Berkelana mencari ilmu, dan meninggalkan kehidupan kampung yang dulu kuanggap tak maju. Lebih asyik hidup di kota, banyak fasilitas, banyak kawan, banyak kegiatan organisasi, dan tentu banyak kemajuan teknologi. Aku jadi heran, hanya karena itu kutinggalkan kehidupan kampung yang begitu ramah dan menentramkan. Hanya karena itu kutinggalkan kesempatan berinteraksi dengan para tetanggaku. Hanya karena itu aku kehilangan teman-teman sepermainanku!
Aku kini seperti apa yang diungkapkan Descartes, "bila terlalu banyak waktu digunakan untuk berkelana, seseorang akan menjadi asing di negerinya sendiri." Ya, mungkin aku telah menjadi orang asing di kampungku. Meskipun banyak orang mengenalku, aku tak mengenal mereka. Dan itu begitu menyiksa!
Aku ingin kembali. Kembali ke masa lalu ketika sawah dan setren kali masih menjadi tempat yang asyik untuk bermain. Ketika tangkis penuh dengan capung dan anak yang bermain layang-layang. Ketika kelereng dan kartu kwartet menjadi harta paling berharga.
Andaikan dulu aku diberi kesempatan untuk membaca pidato Bung Karno yang berjudul "Soal Hidup atau Mati" mungkin aku memilih menjadi petani saja. Karena petani berperan besar untuk menyediakan bahan makanan bagi bangsa. Bung Karno begitu keras mengatakan bahwa urusan pangan adalah urusan hidup mati! Kalau tidak dicukupi bagaimana bangsa ini menjadi bangsa yang kuat?
Namun kini, penduduk mati kelaparan, mati bunuh diri, mati dianiaya, mati kecelakaan, mati karena sakit, seolah menjadi hal yang biasa. Apa gerangan yang salah? Jangan-jangan karena banyak orang yang telah lupa darimana dirinya berasal, termasuk diriku ini.
Namun semuanya belum terlambat. Ketika sudah terlanjur mengembara akan sangat sayang ketika pulang tak membawa apa-apa. Aku di sini, belajar, berkarya, berjuang, mempersiapkan diri untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Semoga Allah memberi pertolongan..
Merdeka!
Allahu Akbar!
Aku menyesal "pergi" terlalu cepat. Berkelana mencari ilmu, dan meninggalkan kehidupan kampung yang dulu kuanggap tak maju. Lebih asyik hidup di kota, banyak fasilitas, banyak kawan, banyak kegiatan organisasi, dan tentu banyak kemajuan teknologi. Aku jadi heran, hanya karena itu kutinggalkan kehidupan kampung yang begitu ramah dan menentramkan. Hanya karena itu kutinggalkan kesempatan berinteraksi dengan para tetanggaku. Hanya karena itu aku kehilangan teman-teman sepermainanku!
Aku kini seperti apa yang diungkapkan Descartes, "bila terlalu banyak waktu digunakan untuk berkelana, seseorang akan menjadi asing di negerinya sendiri." Ya, mungkin aku telah menjadi orang asing di kampungku. Meskipun banyak orang mengenalku, aku tak mengenal mereka. Dan itu begitu menyiksa!
Aku ingin kembali. Kembali ke masa lalu ketika sawah dan setren kali masih menjadi tempat yang asyik untuk bermain. Ketika tangkis penuh dengan capung dan anak yang bermain layang-layang. Ketika kelereng dan kartu kwartet menjadi harta paling berharga.
Andaikan dulu aku diberi kesempatan untuk membaca pidato Bung Karno yang berjudul "Soal Hidup atau Mati" mungkin aku memilih menjadi petani saja. Karena petani berperan besar untuk menyediakan bahan makanan bagi bangsa. Bung Karno begitu keras mengatakan bahwa urusan pangan adalah urusan hidup mati! Kalau tidak dicukupi bagaimana bangsa ini menjadi bangsa yang kuat?
Namun kini, penduduk mati kelaparan, mati bunuh diri, mati dianiaya, mati kecelakaan, mati karena sakit, seolah menjadi hal yang biasa. Apa gerangan yang salah? Jangan-jangan karena banyak orang yang telah lupa darimana dirinya berasal, termasuk diriku ini.
Namun semuanya belum terlambat. Ketika sudah terlanjur mengembara akan sangat sayang ketika pulang tak membawa apa-apa. Aku di sini, belajar, berkarya, berjuang, mempersiapkan diri untuk Indonesia yang lebih baik dan bermartabat.
Semoga Allah memberi pertolongan..
Merdeka!
Allahu Akbar!
No comments:
Post a Comment