Monday, February 25, 2013

Dakwah Kampus

Kembali mengingat mihwar dakwah yang empat: tandzimi, sya'bi, muassasi, dan dauli. Kita hentikan perdebatan tentang berada di mihwar mana perjuangan kita saat ini dalam konteks makro (negara/Indonesia). Sejenak mihwar yang empat itu kita letakkan dalam konteks kampus yang kecil, kemudian tanyakan, sudah sampai di mihwar mana kita?

Sudahkah kita sampai pada mihwar dauli, ketika sektor pengambil kebijakan kampus (dekanat atau rektorat) "kita" kuasai? Kalau belum, mungkin kita sampai di mihwar muassasi. Itu berarti lembaga-lembaga mahasiswa, UKM, BSO, BEM dan BLM sudah kita kelola.

Oo, ternyata belum semua terpegang. Hanya satu dua lembaga saja, sehingga belum layak dikatakan kita sampai pada mihwar muassasi. Jika begitu, mungkin kah kita berada di mihwar sya'bi?

Ketika itu pergerakan kita sudah dikenal publik. Kalau ada mahasiswa yang meraih prestasi, publik langsung menyorot kita, oh itu anak KAMMI, anak LDK. Atau ketika nama kita disebut di Giras, para mahasiswa yang nyangkruk di sana langsung tahu, "Oh, Gading si anak KAMMI itu ya?" Pun ketika di Perpus, "Oh, saya sering ngobrol sama Gading di sini."

Lalu, bagaimana kalau itu juga belum? Pastinya kita berada di mihwar tandzimi. Ketika kita masih mencoba merapikan barisan kita, membenahi sistem di internal kita, dengan susah payah mengangkat citra organisasi yang kita kelola, dan yang terpenting mencoba memperbanyak lingkaran-lingkaran pekanan kita.

Yang terpenting, bukan berada di mana kita, tapi apa yang bisa kita lakukan untuk menapaki setiap mihwar tersebut dengan tangan kita sendiri. "Mari kita tulis lagi sejarah, jangan titipkan reformasi pada siapa pun!" (Fahri Hamzah)

Selamat sore!

No comments:

Post a Comment